Indonesia adalah negara yang memiliki banyak pulau yang di kelilingin oleh lautan dan setiap daerah memiliki kesenian dan kebudayaan yan...

KESENIAN JAKARTA ( BETAWI )


Indonesia adalah negara yang memiliki banyak pulau yang di kelilingin oleh lautan dan setiap daerah memiliki kesenian dan kebudayaan yang berbeda-beda pula. Ibukota Indonesia adalah Jakarta. Rata-rata penduduk Jakarta adalah orang-orang yang besaral dari Jakarta atau suku betawi. Namun saat ini sudah banyak masyarakat luar Jakarta yang tinggal di kota Jakarta karena Jakata merupakan kota metropolitan dan kota perantauan bagi mereka yang ingin mencari pekerjaan bahnkan ingin mengubah nasip di perantauan.

Walaupun dikenal sebagai kota metropolitan, Jakarta memiliki banyak kesenian dan kebudayaan yang ada di dalamnya khususnya mereka yang asli berasal dari kota Jakarta atau suku betawi. Jakarta memang sebagai ibukota dari Negara Indonesia namun Jakarta tidak akan pernah lepas dari kesenian dan kebudayaan yang ada dan menyangkut di dalamnya.

Kesenian Daerah Jakartan antara lain yaitu :

Rumah Adat

Rumah adat asal Jakarta ini bernama rumah kebaya. Bentuk atap rumah yaitu perisai landai yang diteruskan dengan atap pelana yang lebih landai, terutama pada bagian teras. Bangunannya ada yang berbentuk rumah panggung dan ada pula yang menapak di atas tanah dengan lantai yang ditinggikan. Terdapat halaman rumah yang luas dan terdapat pagar paling luar dari rumah tersebut. Bentuknya sederhana dan terbuat dari kayu dengan ukiran khas betawi dengan bentuk rumah kotak ( dibangun diatas tanah berbetuk kotak). Rumah ini terdiri dari ruang tamu, ruang keluarga, ruang tidur, kamar mandi, dapur dan teras extra luas.

Pakaian Adat

Pakaian adat Jakarta di bagi menjadi pakaian adat untuk wanita dan laiki-lali. Untuk laki-laki biasanya menggunakan baju koko, celana batik, kain pelekat atau pun sarung yang di taruh di leher serta peci yang digunakan, sedangkan wanita mengunakan baju kurung lengan pendek atau pun kebaya, dengan menggunakan kain sarung batik dan menggunakan kerudung. Untuk pakaina saat pernikahan pakaian laki-laki di buat Dandanan cara haji. Pakaian pengantin laki-laki ini meliputi jubah dan tutup kepala, sedang kan bagi perempuan dibuat dandanan ala nona Cina dengan blus berwarna cerah.Bawahannya menggunakan rok atau disebut Kun yang berwarna gelap dengan model duyung. Warna yang sering digunakan hitam atau merah hati. Sebagai pelengkap bagian kepala digunakan kembang goyang dengan motif burung hong dengan sanggul palsu, dilengkapi dengan cadar di bagian wajah

Seni Tari

Betawi atau Jakarta memiliki kesenian tari yang ada di daerah tersebut, diantaranya :
Tari Topeng. Tari ini sudah cukup lama di kenal sebagai tari tradisional asal betawi. Seni tari ini biasanya di gelar saat ada pernikahan, acara sunatan dan membayar nazar. Dalam Topeng Betawi, para penari memakai topeng dan bercerita lewat seni gerak. Kini tari Topeng Betawi sudah banyak dikreasikan, sehingga Tarian Betawi pun semakin beragam.

Tari Cokek Betawi. Tarian betawi yang satu ini dibawa oleh para cukong atau tuan tanah peranakan tionghoa yang kaya rayaTarian cokek ini diiringi oleh musik Gambang Kromong. Pakaian tari Cokek Betawi agak mirip dengan tarian-tarian di Cina. Ciri khasnya dari tari ini yaitu goyang pinggul yang geal-geol. 

Musik

Ada beberpaka musik khas Jakarta diantaranya :
Gambang Kromong. Kesenian musik ini merupakan perpaduan dari kesenian musik setempat dengan Cina. Hal ini dapat dilihat dari instrumen musik yang digunakan, seperti alat musik gesek dari Cina yang bernama Kongahyan, Tehyan dan Sukong. Sementara alat musik Betawi antara lain; gambang, kromong, kemor, kecrek, gendang kempul dan gong. Kesenian Gambang Kromong berkembang pada abad 18, khususnya di sekitaran daerah Tangerang

Tanjidor. Tanjidor adalah sebuah kesenian Betawi yang berbentuk orkes. Kesenian ini sudah dimulai sejak abad ke-19. Alat-alat musik yang digunakan biasanya terdiri dari penggabungan alat-alat musik yang di tiup dengan, alat-alat musik gesek dan alat-alat musik perkusi. Biasanya kesenian ini digunakan untuk mengantar pengantin atau dalam acara pawai daerah.
Bela Diri

Betawi atau Jakarta memiliki jenis bela diri tersendiri yang bernama Pencak Silat. Bela diri ini dimainkan oleh 2 orang yang memainkan dengan menggunakan pakaian khas betawai yaitu menggunakan baju koko, ikat pinggang khas betawi serta menggunakan peci. Biasanya bela diri ini dgunakan sebagai perlengkapan pada acara pernikahan atau pentas lainnya.

Lenong

Lenong berkembang sejak akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20 Kesenian teatrikal tersebut mungkin merupakan adaptasi oleh masyarakat Betawi atas kesenian serupa seperti "komedi bangsawan" dan "teater stambul" yang sudah ada saat itu. Selain itu, Firman Muntaco, seniman Betawi, menyebutkan bahwa lenong berkembang dari proses teaterisasi musik gambang kromong dan sebagai tontonan sudah dikenal sejak tahun 1920-an. Lakon-lakon lenong berkembang dari lawakan-lawakan tanpa plot cerita yang dirangkai-rangkai hingga menjadi pertunjukan semalam suntuk dengan lakon panjang dan utuh.

Pada mulanya kesenian ini dipertunjukkan dengan mengamen dari kampung ke kampung. Pertunjukan diadakan di udara terbuka tanpa panggung. Ketika pertunjukan berlangsung, salah seorang aktor atau aktris mengitari penonton sambil meminta sumbangan secara sukarela. Selanjutnya, lenong mulai dipertunjukkan atas permintaan pelanggan dalam acara-acara di panggung hajatan seperti resepsi pernikahan. Baru di awal kemerdekaan, teater rakyat ini murni menjadi tontonan panggung.

Setelah sempat mengalami masa sulit, pada tahun 1970-an kesenian lenong yang dimodifikasi mulai dipertunjukkan secara rutin di panggung Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Selain menggunakan unsur teater modern dalam plot dan tata panggungnya, lenong yang direvitalisasi tersebut menjadi berdurasi dua atau tiga jam dan tidak lagi semalam suntuk.

Jenis lenong

Terdapat dua jenis lenong yaitu lenong denes dan lenong preman. Dalam lenong denes (dari kata denes dalam dialek Betawi yang berarti "dinas" atau "resmi"), aktor dan aktrisnya umumnya mengenakan busana formal dan kisahnya ber-setingkerajaan atau lingkungan kaum bangsawan, sedangkan dalam lenong preman busana yang dikenakan tidak ditentukan oleh sutradara dan umumnya berkisah tentang kehidupan sehari-hari. Selain itu, kedua jenis lenong ini juga dibedakan dari bahasa yang digunakan; lenong denes umumnya menggunakan bahasa yang halus (bahasa Melayu tinggi), sedangkan lenong preman menggunakan bahasa percakapan sehari-hari. Kisah yang dilakonkan dalam lenong preman misalnya adalah kisah rakyat yang ditindas oleh tuan tanah dengan pemungutan pajak dan munculnya tokoh pendekar taat beribadah yang membela rakyat dan melawan si tuan tanah jahat. Sementara itu, contoh kisah lenong denes adalah kisah-kisah 1001 malam.

Ondel - Ondel

Hingga sekarang, tak ada yang tahu mengapa arak-arakan boneka berukuran besar itu dinamai Ondel-ondel. Tetapi jika ada yang bertanya mengenai kesenian tradisional DKI Jakarta, jawaban pertama yang akan terlontar adalah kesenian Ondel-ondel. Kiranya, ungkapan tersebut tidak berlebihan melihat betapa melekatnya kesenian Ondel-ondel dengan masyarakat Jakarta, khususnya Betawi. Setiap ada hajatan, arak-arakan Ondel-ondel tak pernah ketinggalan memeriahkan pesta tersebut. Baik pesta besar, atau khitanan anak sekalipun.
Dilihat dari spontanitas dan segala kesederhanaan unsur Tari Ondel-ondel, dapat dipastikan bahwa Ondel-ondel bukan berasal dari keanggunan dan kemegahan istana. Boneka Ondel-ondel dibuat dari anyaman bambu dengan tinggi sekitar 2,5 meter dan diameter kurang lebih 80 cm. Dibuat sedemikian rupa agar orang yang memikul boneka tersebut leluasa. Rambutnya terbuat dari ijuk dan kertas warna-warni. Ondel-ondel selalu diarak sepasang. Ondel-ondel lelaki wajahnya berwarna merah, sedangkan wajah ondel-ondel perempuan berwarna putih atau kuning.
Konon, bentuk Ondel-ondel adalah personifikasi dari leluhur masyarakat Betawi yang senantiasa menjaga keturunannya dari gangguan roh halus. Tidak heran kalau bentuk Ondel-ondel jaman dulu berkesan sangat menyeramkan. Berbeda dengan ondel-ondel yang dapat dilihat saat ini, yang lebih berkesan seperti sepasang ibu-bapak.Meski terjadi pergeseran fungsi, unsur ritual tak sepenuhnya lepas dari tradisi Ondel-ondel. Pada proses pembuatan ondel-ondel dilakukan secara tertib, ada waktu khusus untuk membuat Ondel-ondel. Baik waktu membentuk wajahnya demikian pula ketika menganyam badannya dengan bambu.
Sebelum mulai membuat Ondel-ondel, biasanya disediakan sesajen yang berisi bubur merah putih, rujak-rujakan tujuh rupa, bunga-bungaan tujuh macam, asap kemenyan, dan sebagainya. Demikian pula ondel-ondel yang sudah jadi, biasa pula disediakan sesajen dan dibakari kemenyan, disertai mantera-mantera ditujukan kepada roh halus yang dianggap menunggui ondel-ondel tersebut.
Sebelum dikeluarkan dari tempat penyimpanan, bila akan berangkat main, senantias diadakan ritual. Pembakaran kemenyan dilakukan oleh pimpinan rombongan, atau salah seorang yang dituakan. Menurut istilah setempat upacara demikian disebut ngukup. Sebenarnya tidak ada musik yang khusus untuk mengiringi arakan Ondel-ondel. Terkadang Tanjidor, Kendang Pencak, Bende, atau Rebana Ketimpring.

Ondel-Ondel. Ondel-ondel adalah sebuah kesenian betawi berupa boneka yang tingginya mencapai sekitar ± 2,5 m dengan garis tengah ± 80 cm, boneka ini dibuat dari anyaman bambu agar dapat dipikul dari dalam oleh orang yang membawanya. Boneka tersebut dipakai dan dimainkan oleh orang yang membawanya. Pada wajahnya berupa topeng atau dengan kepala yang diberi rambut dibuat dari ijuk. Wajah ondel-ondel laki-laki biasanya di cat dengan warna merah, sedangkan yang perempuan dicat dengan warna putih

0 coment:

    Tari Topeng Cirebon adalah salah satu tarian di wilayah kesultanan Cirebon. Tari Topeng Cirebon, kesenian ini merupakan kesenian ...

TARI TOPENG




    Tari Topeng Cirebon adalah salah satu tarian di wilayah kesultanan Cirebon. Tari Topeng Cirebon, kesenian ini merupakan kesenian asli daerah Cirebon termasuk Subang, Indramayu, Jatibarang, Majalengka, Losari, dan Brebes. Disebut Tari Topeng karena penarinya menggunakan topeng di saat menari. Pada oementasan tari topeng Cirebon, penarinya disebut sebagai dalang, dikarenakan mereka memainkan karakter toeng-topeng tersebut.

   Tari topeng ini sendiri banyak sekali ragamnya dan mengalami perkembangan dalam hal gerakan, maupun cerita yang ingin disampaikan. Terkadang tari topeng dimainkan oleh satu penari tarian solo, atau bisa juga dimainkan oleh beberapa orang. Tarian ini sebenarnya sudah ada sejak abad ke 10 Masehi, pada masa pemerintahan Prabu Panji Dewa yang merupakan Raja Jenggala di Jawa Timr. Seiring berjalannya waktu, dari Cirebon tarian ini kemudian menyebar ke daerah-daerah di Jawa Barat. Tarian ini mengandung simbol-simbol yang terdapat pada tarian ini dapat berupa cinta, nilai kepemimpinan dan kebijaksanaan. Pada saat pementasan tarian ini, diharapkan para penonton paham akan simbol-simbol yang disampaikan oleh penari. Bahkan Sunan Gunung Jati dan Sunan Kalijaga menggunakan tarian ini sebagai media dakwah untuk penyebaran agama islam dan juga menjadi hiburan disekita keraton.

Pagelaran Tari Topeng
  pada zaman dahuku tarian ini dipentaskan di tempat terbuka berbentuk setengah lingkaran. Seperti misalnya pagelaran di adakan di halaman rumah, dan untuk penerangnya menggunakan obor.
Tari pendet
Seiring dengan pekembangan teknologi yng begtu cepat, sekarang pagearan tarian ini di pentaskan di dalam gedung, dan lampu listrik sebagai penerangnya. Tujuan pagelaran tarian ini dibagi menjadi tiga bagian yaitu antara lain :
1. Pagelaran Komunal
 Pagelaran yang diselenggarakan untuk semua anggota masyarakat. Hampir semua masyarakat ikut berpartisipasi dalam pagelaran tarian ini. Acaranya cukup spektakuler, ada arak-arakan dalang dan ada juga atraksi-atrksi. Biasanya pagelaran ini diselenggarakan kebih dari stau malam. Contoh dari pagelaran komunal adalah hajatan desa nganjung atau ziarah kubur, dan ngarot kasinom (acara kepemudaan).
2. Pagelaran Individual
 Acara pagelaran yang diadakan oleh perorangan. Mislanya untuk memerintahkan acara pernikahan, khitanan, dan khaulan atau seseorang yang melaksanakan nazar. Biasanya pagelaran ini dipentaskan di halaman rumah si pemilik hajat.
3. Pagelaran Babarangan
 Pagelaran ini merupakan acara pementasan keliling kamung, hal ini dilakukan karena inisiatif dari dalang topeng itu sendiri. Biasanya pagelaran ini berkeliling di Desa yang sudah melakukan panen, jika di desa belum panen maka keliling dilakukan di kota yang ramai. Saat di desa belum panen, keliling kota dilakuka karena di esa sedang mengalami kekeringan dan di desa itu sedang sepi penduduk.

Jenis Tari Topeng
  Pada saat pementasan, biasanya ada lima topeng yang sering diperankan oleh penari. Pada setiap topeng memiliki karakter dan gambaran yang berbeda-beda. Bentuk dan warna dari topeng-topeng tersebut juga sangat berbeda. Lima jenis topeng dalam tarian ini yaitu antara lain :
1. Topeng Panji
 Menggambarkan tentang seseorang yang baru lahir ke dunia dalam keadaan suci. Gerakan pada tarian jenis ini sangat lembut dan halus. Tarian jenis ini adalah gabungan antara hakiki diam dan hakiki gerak.
2. Topeng Samba
 Dalam tarian ini, menggambarkan seseorang sedang memasuki fase kanak-kanak. Tarian ini dipentaskan dengan gerakan yang lincah dan lucu. Saar mementaskan tarian topeng jenis samba, penari menari seperti layaknya anak-anak.
3. Topeng Rumyang
  Pada setiap bentuk topeg memiliki pesan moral yang berbeda-beda. Untuk topeng ramyang, menggambrakan tentang seseorang yang sedang tumbuh beranjak remaja dari anak-anak. Gerakan pada tarian jenis ini mengandung pesan bahwa setiap manusia yang beranjak dewasa, hendaknya perbanyak untuk berbuat baik.
4. Topeng Tumenggung
  Pementasan ini menggambarkan tentang seseorang yang memilki sifat tegas dan berbudi pekerti luhur. Seseorang yang beranjak dari masa remaja menjadi orang yang tegas dan penuh karakteristik. Selain itu, pada tarian jenis ini juga menggambarkan seseorang dengan loyalitas yang tinggi.
5. Topeng Kelana
 Pada pementasan topeng jenis ini, menggambarkan tentang seseorang yang memilki sifat angjara murka. Saat mementaskan tarian jenis ini penari memerankan tokoh yang jahat. Dalam pementasan tarian ini mengandung pesan yaitu manusia harus selalu berusaha agar mendapatkan kebahagiaan dan hidup di jalan yang benar.

Perlengkapan Tari Topeng
  Saat akan mementaskan tarian ini, tidak hanya topeng saja. Melainkan banyak perlengkapan yang harus dipersiapkan. Perelengkapan busana seperti baju yang berlengan dan dasi dengan peniti ukon. Ukon adalah mata uang pada zaman dulu, tak lupa juga ikat pinggng yang dilengkapai badong, keris, gelang, dan juga kain batik. Selain itu perlengkapan yang harus dikenakan adalah kain samour atau selendang, kaos kaki putih sepanjang lutut, dan Mongkron yang terbuat dari batik lokoan. Penari topeng juga mengenakan celana bawah lutut. Perlengkapan paling penting dalam pementasan tarian ini adalah kedok atau topeng, yang terbuat dari kayu. Untuk memakai topeng ini adalah dengan cara digigit pada bantalan karet di bagian dlam topeng tersebut. Selain itu penari juga mengenakan penutup kepala yaitu sobra, yang dilengkapi dengan dua buah sumping dan jamangan. Pada saat mementaskan topeng tumenggung, busana penari ditambah dengan mengenakan tutup kepala kain ikat dan dilengkapi dengan peci dan kacamata.

Alat Musik Pengiring Tari Topeng
  Tidak hanya satu jenis alat musik saja yang mengiringi tarian ini. Perpaduan antara beberapa alat musik, membuat tarian ini menjadi unik dan penonton mudah terbawa dalam suasana pentas, ada beberapa alat musik untuk mengiringi pementasan tarian ini, yaitu : satu pangkon saron, satu pangkon bonang, tiga buah gong yaitu kiwul sabet telon, satu pangkon titil, satu pangkon kenong, seperangkat alat kecrek, satu pangkon jengglong, satu pangkon ketuk, dua buah kemanak, satu pangkon klenang, dan seperangkay kendang yang terdiri dari kepiting kepyang dan gendang.

Lagu – lagu Pengiring Tari Topeng
  Pada saat pementasan tarian ini tidak hanya diiringi dengan musik saja, melainkan juga diiringi oleh lahu-lagu. Hal ini akan menambah keunikan dari tarian ini. Lagu untuk mengiring tarian ini tidak hanya satu lagu saja, melainkan ada beberapa lagu antara lain : Kembangsungsang untuk topeng panji, Kembangkapas untuk topeng samba, Rumyang untuk topeng rumyang, Tumenggung utnuk topeng tumenggung, dan Gonjing untuk topeng kelana.
   Tari Topeng adalah tarian tradisional yang berasal dari Cirebon Jawa Barat. Dalam tarian ini terdapat lima jenis topeng, yaitu topeng panji, topeng samba, topeng rumyng, topeng tumenggung, dan juga topeng kelana. Masing-masing topeng memiliki karakter dan keunikan yang berbeda-beda. Topeng-topeng tersebut memiliki cerita yang brbeda atara topeng satu dengan topeng yang lain. Pementsan tarian ini bertujuan untuk hiburan dan juga untuk menyampaikan pesan moral kepada masyarakat. Dalam tarian ini, terdapat beberapa topeng dengan simbol-simbol yang mengandung banyak pesan moral. Seperti ajakan utnuk hidup di jalan yang lurus serta ajakan untuk perbanyak berdzkir dan istighfar. Pada setiap jenis topeng juga terdapat makna dan cerita.

                                                                                     

0 coment:

  Bajidoran adalah bentuk kesenian rakyat yang tumbuh dan berkembang di kawasan pantai utara (pantura) Jawa Barat, khususnya di d...

KESENIAN SUNDA BAJIDORAN





  Bajidoran adalah bentuk kesenian rakyat yang tumbuh dan berkembang di kawasan pantai utara (pantura) Jawa Barat, khususnya di daerah Subang dan Karawang. Musik pengiringnya adalah seperangkat gamelan yang pada umumnya menggunakan laras salendro, sering di pentaskan oleh penyelenggara atau biasa disebut pamangku hajat, mengiringi pesta syukuran inisiasi (kelahiran bayi, khitanan, perkawinan), atau acara syukuran lainnya yang berkaitan dengan upacara-upacara ritual (hajat bumi, panen, menyambut, datangnya hujan, bersih desa, dan lain lain).

  Daya tarik kesenian ini ada pada sosok sinden atau ronggeng yang digandrungi oleh para bajidor, istilah bagi orang yang gemar menari atau ngibing di pakalangan (arena pertunjukan). Memesan lagu, serta memberi uang saweran. Oleh karen aitu, keseniannya pun diberi nama Kliningan Bajidoran atau Bajidoran saja. Sedangkan kata kerjanya menjadi ngabajidor.

  Kesenian bajidor itu, terutama di daerah Subang, secara sinis populer dengan akronim dari barisan jiwa doraka (barisan jiwa durhaka), menunjukan pada perilaku para penggemar Kliningan Bajidoran yang cenderung menghalalkan segala cara di arena pertunjukan mulai dari menghambarkan uang saweran, menenggak minuman keras, hingga merayu serta mengekspresikan hasrat seksual kepada sinden atau ronggeng. Konon, istilah bajidor datang datang dari H. Hilman  (alm) mantan lurah pagaden, yang pada zamannya terkenal sebagai penggemar fanatik Kliningan Bajidoran dan kemudian mempersunting sinden kenamaan pada zamannya, Cucun Cunayah, Akronim bajidor yang lain dan tak kalah sinisnya adalah abah haji ngador (abah haji keluyuran), karena banyknya bajidor yang bergelar haji. Sedangkan menurut tokoh rekaman lagu Sunda, Tan Deseng, bajidor itu akronim dari beberapa kesenian rakyat yaitu banjet, tanji, dan bodor.

  Dalam pratiknya, sinden atau ronggeng sangat piawai menggoda dan merayu bajidor agar mau manghamburkan uangnya. Meraka akan merayu dengan cara menyebut-nyebut nama bajidor di sela-sela alunan lagu yang di dendangkannya atau merayu dengan bahasa tubuhnya yang di ekspresikan melaui gerakan-gerakan tarian, senyuman, tatapan mata, sentuhan tangan, serta perilaku-perilaku lainnya. Melalui cara-cara itulah seorang bajidor akan terus melakukan saweran hingga uangnya terkuras habis.

  Intensitas hadir di panggung pertunjukan dan memberi uang saweran, telah menciptakan pola interaksi yang khas antara bajidor dengan sinden atau ronggeng. Biasanya, bajidor akan memberi uang saweran dengan berbagai motivasi, mulai dari motivasi harga diri karena namanya disebut sebut oleh sinden, ingin dipandang mampu secara ekonomi, ingin mendapaat pujian, hingga orientasi hasrat seksual dan menguasai sinden atau ronggeng. Pada taraf ini, bajidor datang ke arena pertunjukan Kiliningan Bajidoran karena di topang oleh kesetiaan kepada sinden atau ronggeng idolanya yang dalam istilah mereka disebut “langganan”. Inilah yang melandasi adaya hubungan yang lebih jauh di antara mereka, dan pada akhirnya tidak sedikit bajidor yang tergila-gila kemudian menikah dengan sinden atau ronggeng, bahkan bisa sampai melupakan anak dan istrinya.

   Memerhatikan bagaiman seorang bajidor melakukan saweran kepada sinden yang dipilih melebihi sekedar memberikan lembar demi lembar uang ribuan, ekpresi di wajahnya memancarkan gelombang birahi dan kerinduan yang sangat dalam kepada sinden pujaan. Sementara itu, sang sinden pun membalasnya dengan senyuman dan tatapan yang di maknai secara liar oleh sang bajidor, sehingga menstimulasinya untuk terus merogoh isi kantung. Saweran adalah interaksi sinden atau ronggeng dngan bajidor yang memiliki simbol-simbol makna tertentu yang menunjukan tingkat kedalaman hubungan antara sinden/ronggeng dengan bajidor.
Eksistensi Kliningan Bajidoran itu sendiri di sangga oleh tiga kelompok sosial pendukung, yaitu sinden/ronggeng yang menjadi daya pikat pertunjukan bajior sebagai penonton yang akan memberi uang saweran, dan pamangku hajat sebagai penyelenggara pertunjukan yang memfasilitasi adanya interkasi antara sinden/ronggeng dengan bajidor.

0 coment:

KESENIAN TARI SEMPYONG MAJALENGKA    Sempyong Majalengka adalah kesenian adu ketangkasan dan kekuatan memukul dan dipikul dengan m...

KESENIAN MAJALENGKA



KESENIAN TARI SEMPYONG MAJALENGKA

   Sempyong Majalengka adalah kesenian adu ketangkasan dan kekuatan memukul dan dipikul dengan mnggunakan alat yang terbuat dari kayu atau rotan yang berukuran 60 cm.
    Kesenian Sempyong ini berasal dari Kabupaten Majalengka Jawa Barat, yang terletak di antara perbatasan Kabupaten Indramayu di utara, Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Kuningan di timur, Kabupaten Ciamis dan Kabupaten Tasikmalay di selatan, serta Kabupaten Sumedang di barat, ternyata mempunyai kesenian tradisional yang harus dilestarikan sa;ah satunya adalah lesenian sempyong Majalengka.

 Sejarah Sempyong
      Konon, pada tahun 1960 di daerah Cibodas Kecamatan Majalengka tumbuh sebuah permainan rakyat yang dikenal dengan ujungan. Permainan ini merupakan permainan adu ketangkasan dan kekuatan memukul dan dipikul dengan menggunakan alaat yang terbuat dari kayu atau rotan yang berukuran 60cm. pemain terdiri atas dua orang yang saling berhadapan, baik laki laki maupun perempuan, dipimpin oleh seorang wasit yang disebut malandang. Kedua pemain menggunakan teregos, yaitu tutup kepala yang terbuat dari kain yang di isi dengan bahan bahan empuk sebagai pelindung kepala. Tutp kepala demikian dikenal pula dengan sebutan balakutal. Sasaran pukulan pada permainan ujugnya tidak terbatas, dari ujung kepala hingga ujung kaki tanpa di tangkis. Seorang pemain dapat memukul lawannya sebanyak banyaknya atau bahkan dipukul sebanyak banyaknya hingga salah satu seorang diantaranya dinyatakan kalah arena tidak lagi kuat menahan rasa sakit akibat pukulan.

B.    Aturan Permainan di Kesenian Sempyong
1.      Seorang pemain hanya di perkenankan memukul sebanyak 3 kali pukulan.
2.      Sasaran pukulan hanya terbatas betis bagian belakang tidak lebih dari itu.
3.      Pemain dapat bermain pada kelas yang ditentukan menurut usia, misalnya golongan tua, menengah, pemuda, dan anak-anak.

   Seiring dengan berlakunya peraturan yang baru itu, maka nama ujungnya pun di tinggalkan. Nama permainan yang lebih popouler adalah “Sampyong”yang mempunyai arti “Sam” adalah tiga dan ‘Pyong” adalah pukulan. Nama baru ini terucap begitu saja dari salah seorang penonton keturunan Cina ketika ia tertarik pada jumlah pukulan pada permainan ini igga kemudian terucaplah kata Sampyong yang kemudian melekat menjadi sebutan permainan sampai sekarang

  Sebagai salah satu seni pertunjukan nasiaonal, sampyong di pertunjukan pada acara-acara tertentu. Misalnya pada acara hajatan, dan kini lebih sering terlihat pada acara kontes ketangkasan domba (adu domba). Berikut beberapa urutan pertunjukan sampyong pada suatu acara khusus yaitu :
1.   Seluruh peserta memasuki arena dipimpin oleh seorang wasit, melakukan penghormatan kepada penonton dengn iringan kendang pencak dan lagu golempang.
2.  Pertunjukan eksibisi yang dimainkan oleh dua orang tokoh ujungan, sebagai pertunjukan pembuka.
3. Pertunjukan utama yaitu seorang pemain berhasapan dengan pemain lainnya menurut urutan panggilan, dipimpin oleh seorang maladang.

C.      Tokoh – Tokoh

    Tokoh –tokoh yang berjsa dalam mengembangkan dan melestarikan kesenian sampyong ini adalah anatar lain  yaitu : Sanen (Almarhum), Abah Lewo, Mang kiyun, mang Karta,K.Almawi , Baron, Komar, Anah, Emidan beberapa tokoh lainnya yang tersebar di beberapa daerah Majalengka. Berkat keulatan para tokoh lainnya yang tersebar di beberapa tokoh tersebut, sampyong tersebr kebebarapa daerah diantaranya Cibodas, Kulur, Sindangkasih, Cijati, Simpereum, Pasirmuncang, dan beberapa daerah lainnya. Senagai penghormatan kelompok seni sampyong mekar padesaan dari simpereum pernah mewakili Jawa Barat pada event pertunjukan seni olahraga di Bali beberapa waktu yang lalu.

KESENIAN TARI KEDEMPLING MAJALENGKA

    Sejarah Tari Kedempling

 Tari Kedempling adalah salah satu kesenian jenis tari yang berasal dari Kabupaten Majalengka Jawa Barat. Nama Kedempling diambil dari sebuah nama gamelan yang bentuknya tidak berpencion di wilayah Cirebon dan Indramayu disebut gamelan teras alit atau sundari, yang digunakan sebagai gamelan pengiring tarian ini. Sebagian tokoh seni ada yang mengatakan bahwa nama kedempling berasal dari sebutan untuk sejenis makanan yang bahannya berasal dari singkong yang diiris tipis kemudian dijemur sampai keirng kerontong dan ketika di masukan ke tempat penyimpanan nya (karung) menegluarkan bunyi gemerincing.

    Kedua pendapat tentang asal penyebutan kedempling ini dibuat se- praktis mungkin dengan alasan untuk memudahkan para wiyaga mengangkut gamelan tersebut dari satu tempat ke tempat lain, maka gamelan ini dibuat dalam bentuk dempling atau tidak berpencion (temprak). Dan menurut beberapa narasumber pada masa itu sekitar tahun 30 an di wilayah Majalengka belum ada orang yang berprofesi sebagai pembuat gamelan, selain itu besi untuk membuat gamelan sanagt sulit untuk di dapatkan dan baru sekitas pada tahun 40 an di daerah Bongas mulai ada orang yang berprofesi pembuat gamelan. Gerakan tari kdempling yakni, gerakan gedut, jalak pateuh, koma, oyag bahu, jangkung ijo, ngayun setengah keupat, barongsay, ngincek, pakbag, dan ngongkrak panjang.

     Tarian ini sudah berkembang sejak pra kemerdekaan sekitar tahun 1938 an saat penjajahan kolonial Belanda masih berlangsung. Tarian kdempling ini mulai tumbuh di Kabupaten Majalengka utara seperti di daerah Ligung, Jatitujuh, dan Randegan. Biasanya, tarian kedempling ini di pentaskandari satu tempat ke tempat laiinya atau disebut juga babarang (ngamen). Selain itu, kesenian ini biasanya di pentaskan atas undangan buruh kontrak perkebunan sebagai sarana hiburan pada malam hari usai bekerja seharian di perkebunan.

B.    Penari dan Kostum

    Pada tahun 1940 an pelaku seni ronggeng doger mengalami krisis panggilan menghibur dari masyarakat. Oleh karena itu, penari doger ini beralih profesi menjadi penari doger kedempling. Perpindahan profesi dai penari doger menjadi penari kedempling ini hanya berbekal keterampilan menari yang dipelajari secara otodidak. Semua penari ini adalah kaum hawa yang mengenakan busana mirip laki laki, yakni baju kutung dan sontog berwarna coklat dipadu kain samping, selendang, dan beubeur. Bagian tangan dan kakinya menggunakan gangge (gelang brgerincing). Sementara bagian kepala nya mengenakan iket yang dibentuk sedemikian  rupa dan wajah penari dihiasi kacamata hitam serta kumis yang dilukis, serta terdapat kece dibagian dada. Mereka menari dengan gerakan yang sangat sederhana mengikuti irama yang sederhana pula namun penuh arti. Tarian ini merupakan perpaduan antara pola tari topeng tumenggung dan pola tari tayub sehingga mengandung dua unsur berbeda pula. Yakni unsur cirebonana dan unsur priangan.

C.     Fungsi Tari Kedempling

     Fungsi tari kedempling pada awalnya adalah untuk kegiatan babarang (ngamen) di tempat terbuka, bahkan di lapangan. Sejak tahun 1957 banyak masyarakat yang mengundang tari kedempling untuk tampil di acara lahiran, khitanan, atau kaul dalam acara pernikahan. Secara nilai dan makna, nilai – nilI kebersamaan dalam gerakan tari kedempling memperlihatkan kahalusan sikap, keindahan budi pekerti, dan kekompakan masyarakat nya. Selain itu tarian ini juga memiliki peranan dalam memenuhi kebutuhan ekonomi para penari dan penabuh gamelan di komunitas mereka.


0 coment:

  Indonesia merupakan negara paling banyak memiliki kesenian tradisional. Mulai dari sabang hingga Merauke, setiap daerah memiliki ...

TARI SINTREN JAWA TENGAH




 Indonesia merupakan negara paling banyak memiliki kesenian tradisional. Mulai dari sabang hingga Merauke, setiap daerah memiliki kesenian tradisional yang berbeda beda.  Seiring perkembangan zaman kesenian tradisional semakin memprihatinkan keberadaannya di tengah masyarakat semakin dilupakan. Salah satunya yaitu kesenian sintren.

     Tari Sintren ini merupakan salah satu tarian tradisional yang berasal dari pesisir utara Jawa Tengah dan Jawa Barat yang mempunyai unsur magis. Nama sintren yang ada pada tarian ini ternyata merupakan gabungan dari dua kata yakni si dan tren yang mana dalam bahasa jawa kata si merupakan sebuah ungkapan panggilan yang memiliki arti ia atau dia. Sedangkan kata tren berasal dari kata tri atau putri sehingga sintren memiliki arti si putri atau sang penari. Tari Sintren ini juga tersebar di beberapa tempat di Jawa Tengah dan Jawa Barat seperti di Cirebon, Majalengka, Indramayu, Jatibarang, Tegal, Brebes, Pemalang, Pekalongan dan Banyumas.

    Kesenian tari Sintren juga yaitu sebuah pertunjukan tari yang ada di Jawa Tengah khususnya daerah Cilacap dan Banyumas. Hingga kini pun di desa Cibenon kecamatan Sidareja Kabupaten Cilacap, pertunjukan Sintren masih di minati dalam acara hajatan oleh masyarakat desa sebagai hiburan.

   Kesenian sintren yang tak lagi sekedar permainan ini di gawangi oleh beberapa awak yang terdiri dari para juru kawih atau sinden yang di iringi dengan beberapa gamelan seperti buyung, sebuah alat musik pukul yang menyerupai gentong terbuat dari tanah liat, rebana dan waditra lainnya seperti kendang, gong, dan kecrek dan tentu saja pemain intren itu sendiri. Sebelum dimulai, para juru kawih memulai dengan lagu lagu yang di maksudkan untuk mengundang penonton.

   Asal mula nama Sintren salah satu nya berasal dari kata sindir (sindri) dan teteran atau dalam bahasa indonesia disebut pertanyaan melalui syair syair yang perlu dipirkan jawaban nya, maksud nya adalah menyindir dengan menggunakan sajak sajak atau syair syair nya.

    Menurut sejarahnya tarian ini berawal dari percintaan Raden Sulandono dan Sulasih yang tidak mendapat restu dari orang tua Raden Sulandono. Sehingga Raden Sulandono di perintahkan oleh ibunya untuk bertapa dan diberikan selembar kain sebagai sarana kelak untuk bertemu dengan Sulasih setelah pertapaannya selesai. Sedangkan Sulasih diperintahkan untuk menjadi penari di setiap acara bersih Desa yang di adakan sebagai syarat untuk bertemu Raden Sulandono.

    Saat pertunjukan rakyat yang diadakan untuk memeriahkan bersih desa, pada saat itulah Sulasih menari sebagai bagian pertunjukan. Malam itu saat bulan purnama, Raden Sulandono pun turun dari pertapaannya engan cara bersembunyi sambil membawa kain yang diberikan oleh ibunya. Pada saat Sulasih menari, dia pun di rasuki kekuatan Dewi Rantamsari sehingga mengalami trance. Melihat seperti itu Raden Sulandono pun melemparkan kain tersebut sehingga Sulasih pingsan. Dengan kekuatan yang dimiliki olh Raden Sulandono, maka Sulasih dapat dibawa kabur dan keduanya mewujudkan cita-citanya untuk bersatu dalam cinta. Sejak saat itu lah sebutan Sintren dan balangan muncul sebagai cikal bakal dari Tari Sintren ini. Istilah Sintren adalah keadaan saat penari mengalami kesurupan . dan istilah Balangan adalah saat Raden Sulandono melempar kain yang diberikan oleh ibunya.

    Dalam pertunjukan Tari Sintren biasanya diawali dengan Dupan, yaitu ritual berdoa bersama untuk memohon perlindungan dari mara bahaya kepada tuhan selama pertunjukan berlangsung. Ada beberapa bagian dalam pertunjukan Tari Sintren yaitu paripura, Balangan, dan Temohon. Pada bagian paripura adalah bagian dimana pawang menyiapkan seseorang yang akan di jadikan Sintren dengan di temani oleh 4 pemain sebagai Dayang. Awalnya, Seorang penari yang dijaikan Sintren masih memakai pakaian biasa. Pada bagian ini diawali dengan membacakan mantra dengan meletakkan kedua tangan caln penari Sintren di atas asap kemenyan, setelah itu penari sintren dimasukan ke dalam sangkar ayam bersama dengan busana dan perlengkapan riasnya. Setelah sudah jadi maka akan di tandai dengan kurungan yang bergetar dan kurungan akan dibuka. Penari Sintren tersebut pun sudah siap untuk menari.

 Pada bagian Balangan adalah saat penonton melempar sesuatu ke arah penari Sintren. Saat penari terkena lemparan itu maka penari Sintren akan pingsan. Lalu pawang mendatangi penari yang pisan tersebut dan membacakan mantra dan mengusap wajah penari agar roh bidadari datang lagi dan melanjutkan penari menarinya. Penonton yang melemparnya tadi diperbolehkan untuk menari dengan penari Sintren. Pada bagian Temohan adalah bagian dimana para penari Sintren dengan nampan mendekati penonton untuk meminta tanda terima kasih dengan uang seikhlasnya.

  Untuk menjadi peran Sintren ada beberapa syarat yang harus di miliki calon penari, terutama sebagai penari Sintren harus masih dalam keadaan Suci. Selain itu, para penari sintren di wajibkan berpuasa terlebih dahulu , agar tubuh si penari tetap dalam keadaan suci dan menjaga tingkah lakunya agar tidak berbuat dosa dan berzina. Sehingga dapat menyulitkan bagi roh atau dewa yang akan masuk dalam tubuhnya.

  Dalam pertunjukan, Busana yang digunakan oleh penari Sintren adalah baju golek, yaitu baju tanpa lengan yang biasa digunakan dalam tari golek. Pada bagian bawah biasanya menggunakan kain jarit dan celana cinde. Untuk bagian kepala biasanya menggunakan jamanh, yaitu hiasan untaian bunga melati di samping kanan dan koncer di bagian kiri telinga. Aksesoris yang di gunakan biasanya biasanya adalah sabuk, sampur, dan kaos kaki hitam/putih. Selain itu juga sebagai ciri khas dari penari sntren adalah kaca mata hitam yang berfungsi sebagai penutup mata. Karena penari Sintren selalu memejamkan mata saat keadaan kesurupan. Selain itu juga, sebagai mempercantik penampilan. Dalam pertunjukan, Tari Sintren juga diiringi oleh alat musik seperti Gending. Dan di iringi dengan lagu Jawa. Namun, pada saat ini alat musik yang digunakan adalah alat musik modern seperti orkes.

  Kesenian sintren sebgai salah satu kekayaan budaya kita dan kearifan lokal ini tidak menutup kemungkinan akan punah dari perbendaharaan budaya bangsa Indonesia. Dalam perkembangannya Tari Sintren mulai teggelam seiring dengan perkembangan zaman. Tarian ini  sudah jarang di tampilkan, sekalipun di daerah asalnya. Seiring dengan perkembangan, Tari Sintren sudah banyak perubahan pada bentuk aslinya. Banyaknya kreasi yang ditambahkan agar tarian ini terlihat menarik. Tarian ini, merupakan tarian yang langka dan jarang ditemukan.
    Selain dari segi artistik tarian ini juga memiliki nilai-nilai yang dapat kita pelajari di dalamnya.  Salah satu usaha untuk melestarikan Tari Sintren ini adalah dengan sering di gelarkan nya pertunjukan sintren. Utama nya saat acara sedekah bumi maupun acara pesta di suatu daerah, akan menjadi penghibur masyarakat saat menampilkan kesenian sintren. Dan upaya untuk dijaga keberadaannya sebagai warisan budaya bangsa kita.

0 coment:

Indonesia merupakan kepulauan yang memiliki keragaman budaya. Keragaman budaya di Indonesia tercipta karena negara Indonesia memiliki berm...

KESENIAN TARI JAIPONGAN



Indonesia merupakan kepulauan yang memiliki keragaman budaya. Keragaman budaya di Indonesia tercipta karena negara Indonesia memiliki bermacam potensi dan variasi pada setiap daerah yangtersebar di seluruh Indonesia. Keragaman budaya di setiap daerah Indonesia ini adalah ciptaan manusia yang berkembang di tengah masyarakat. Hal ini senada dengan pernyataan D. Mitchell dalam buku besar dasar-dasar komunikasi antar budaya yang mengatakan sebagai berikut “Kebudayaan adalah sebagian dari perulangan keseluruhan tindakan aktivitas manusia(produk yang dihasilkan manusia) yang telah memasyarakat secara sosial dan bukan sekedar dialihkan secara genetikal” (Liliweri, 2013: 101).

Salah satu hasil dari aktivitas manusia yang disebut kebudayaan adalah kesenian. Seni merupakan bagian dari keseluruhan hidup mausia karena lewat seni manusia dapat mengekspresikan emosi yaitu perasaan senang, sedih, dan marah. Kayam mengatakan bahwa kesenian adlah salah satu unsur yang menyangga kebudayaan dan berkembang menurut kondisinya (Kayam, 1989: 19). Kesenian merupakan salah satu unsur dalamkebudayaan yang dapat dinikmati oleh manusia dalam kehidupan masyarakat. Setiap masyarakat memiliki ciri khas sendiri dalam berkesenian karena identitas masing-masing daerah juga berbeda dan tidak dapat terlepas dari kesenian yang dapat dinikmati. Pendapat ini senada dengan Koentjaraningrat yang menyatakan bahwa “Kesenian adalah ekspresi hasrat manusia akankeindahan yang dinikmati”(Koentjaraningrat, 2009: 298).

Ekspresi dalam tari merupakan satu bagian dari seni yang selalu mengalami perkembangan dari zaman ke zaman.Hal ini dikatakan bahwa melalui pembelajaran, seni tari tidak hanya melahirkan manusia yang cerdas dan berpengetahuan semata. Akan tetapi sekaligus pembelajaran seni diharapkan mampu mendidik manusia yang berwatak dan berbudi pekerti luhur, serta diharapkan lebih meningkatkan daya apresiasi tari. Selain itu, pembelajaran seni juga dapat menghargai seni tari yang mengandung nilai-nilai luhur dan dapat memperluas akal budi manusia untuk lebih menjadi arif dan bijaksana.

Jawa Barat memiliki bermacam-macam kesenian yang menarik. Menurut Dinas Pariwisata dan Kebudayaan yang membidangi kesenian dan bertanggung jawab terhadap budaya Sunda yang ada di Jawa Barat terdapat sekitar 200 lebih jenis-jenis kesenian yang terdata. Beberapa jeniskesenian usianya sudah tua (buhun), yang menunjukkan betapa kuatnya akar budaya orang Sunda dalam berkesenian. Hal ini terbukti sampai sekarang, perkembangan kreativitas orang Sunda dalamberkesenian banyak berpijak dari seni-seni buhun yang akhirnya melahirkan jenis kesenian genre baru. Jenis-jenis kesenian yang jumlahnya cukup banyak itu merupakan hasil proses perembangan kreativitas masyarakat Sunda dalam berkesenian, yang telah terjadi sepanjang masa. Artinya seni tradisi tidak bersifat statis (diam) tetapi bersifat dinamis mengikuti perkembangan zaman yang dilalui. Beberapa seni buhun yang sampai sekarang masih terjaga, hidup, dan berkembang di masyarakat adalah jaipongan.

Jaipongan adalah sebuah jenis tari pergaulan tradisional masyarakat Sunda, Karawang, Jawa Barat yang sangat populer di Inonesia. Jaipongan terlahir melalui proses kreatif dari tangan dingin H. Suanda sekitar tahun 1976 di Karawang, jaipongan merupakan garapan yang menggabungkan beberapa elemen seni tradisi karawang seperti pencak silat, wayang golek, topeng banjet, ketuk tilu, dan lain-lain. Jaipongan di Karawang sangat pesat pertumbuhannya di mulai pada tahun 1976, di tandai dengan munculnya rekaman jaipongan Suanda Group dengan intstrumen sederhana yang terdiri dari gendang, ketuk, kecrek, goong, rebab dan sinden atau juru kawih. Dengan media kaset rekaman tanpa label tersebut (indie label) jaipongan mulai di distribusikan secara swadaya oleh H.Suanda di wilayah karawang dan sekitarnya. Tak disangka, jaipongan mendapat sambutan hangat, selanjutnya jaipongan menjadi sarana hiburan masyarakat karawang dan mendapatkan apresiasi yang cukup besar dari segenap masyarakat karawang dan menjadi fenomena baru dalam ruang seni budaya karawang, khususnya seni hiburan masyarakat. Posisi jaipongan pada saat itu menjadi seni pertunjukkan hiburan alternative dan seni tradisi yang sudah tumbuh dan berkembang lebih dulu di karawang seperti pencak silat, topeng banjet, ketuk tilu, tarling dan wayang golek. Keberadaan jaipong memberikan warna corak yang baru dan berbeda dalam bentuk pengkemasannya, mulai dari penataan pada komposisi musikalnya hingga dalam bentuk komposisi tariannya.

Mungkin di antara kita hanya tahu asal tari jaipong ini dari Kota Bandung ataupun malah belum mengetahui darimana asalnya. Dikutip dari ucapan kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Karawang, Acep Jamhuri “Jaipong itu asli Karawang, lahir sejak 1979 yang berasal dari tepak topeng. Kemudian dibawa ke Bandung oleh seniman disana, Gugum Gumbira. Akhirnya dikemas dengan membuat rekaman, seniman-seniman Karawang dibawa bersama Suanda. Ketika sukses, yang bagus malah Bandung. Karawang hanya dikenal gendangnya atau nayaga (pemain musik). Makannya sekarang kami di Disbudpar akan mencoba menggali kembali seni tari jaipong bahwa seni ini seni yang sesungguhnya berasal dari Karawang”.

Tari Jaipong dibawa oleh Gugum Gumbira ke Kota Bandung sekitar tahun 1960-an, dengan tujuan untuk mengembangkan tarian asal karawang di Kota Bandung yang menciptakan suatu jenis musik dan tarian pergaulan yang digali dari kekayaan seni tradisi rakyat Nusantara, khususnya Jawa Barat. Meskipun termasuk seni tarikreasi yang relatif baru, jaipongan dikembangkan berdasarkan kesenian rakyat yang sudah berkembang sebelumnya, seperti ketuk tilu, kliningan, serta ronggeng.

Perhatian Gugum Gumbira pada kesenian rakyat yang salah satunya adalah ketuk tilu, menjadikannya mengetahui dan mengenal betul perbedaan pola-pola gerak tari yang ada pada Kliningan/Bajidoran atau Ketuk Tilu. Gerak bukaan, pencugan, nibakeun dan beberapa ragam gerak mincid dari beberapa kesenian menjadi inspirasi untuk mengembangkan kesenian tari jaipong. Sebelum bentuk seni pertunjukkan ini muncul,ada beberapa pengaruh yang melatar belakangi terbentuknya tari pergaulan ini. Di kawasan perkotaan Priangan misalnya, pada masyarakat elite, tari pergaulan dipengaruhi dansa Ball Room dari Barat. Sementara pada kesenian rakyat, tari pergaulan dipengaruhi tradisi lokal. Pertunjukkan tari-tari pergaulan tradisional tak lepas dari keberadaan ronggeng dan pamogoran.

Ronggeng dalam tari pergaulan tidak lagi berfungsi untuk kegiatan upacara, tetapi untuk hiburan atau cara bergaul. Keberadaan ronggeng dalam seni pertunjukkan memiliki daya tarik yang mengundang simpati kaum pamogaran. Misalnya pada tari ketuk tilu yang begitu dikenal oleh masyarakat Sunda. Karya Jaipongan pertama yang mulai dikenal oleh masyarakat adalah tari daun pulus dan rendeng bojong yang keduanya merupakan jenis tari putri dan tari berpasangan. Dari tarian itu muncul beberapa nama penari jaipongan yang handal seperti Tati Saleh, Yeti Mamat, Eli somali, dan Pepen Dedi Kurniadi. Awal mula kemunculan tarian tersebut menjadi perbincangan. Namun ekspos dari beberapa media cetak, nama Gugum Gumbira mulai dikenal oleh masyarakat, apalagi setelah tari jaipongan di pentaskan di TVRI stasiun pusat Jakarta pada tahun 1980.

Dampak dari kepopuleran tersebut lebih meningkatkan frekuensi pertunjukkan, baikmedia televisi, hajatan, maupun perayaan yang di selenggarakan oleh pihak swasta dan pemerintah. Kehadiran jaipongan memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap para penggiat seni tari untuk lebih aktif lagi menggali jenis tarian rakyat yang sebelumnya kurang perhatian. Dengan munculnya tari jaipong, dimanfaatkan oleh pengusaha sebagai pemikat tamu undangan, dimana perkembangan lebih lanjut peluang usaha semacam ini dibentuk oleh para oenggiat seni sebagai upaya pemberdayaan ekonomi dengan nama sanggar tari atau grup-grup di beberapa wilayah Jawa Barat, misalnya di Subang dengan jaipongan gaya kaleran (utara).

0 coment:

Suku Jawa (Jawa ngoko : wong jowo, krama: tiyang jawi) merupakan suku bangsa terbesar di Indonesia yang berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur...

KESENIAN JAWA TIMUR




Suku Jawa (Jawa ngoko : wong jowo, krama: tiyang jawi) merupakan suku bangsa terbesar di Indonesia yang berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta. Setidaknya 41,7% penduduk Indonesia merupakan etnis Jawa. Selain di ketiga provinsi tersebut, suku Jawa banyak bermukim di Lampung, Banten, Jakarta, dan Sumatera Utara. Di Jawa Barat mereka banyak ditemukan di Kabupaten Indramayu dan cirebon. Suku Jawa memiliki sub-suku seperti Osing dan Tengger.

Kebudayaan dan adat istiadat Suku Jawa di Jawa Timur bagian barat menerima banyak pengaruh dari Jawa Tengahan, sehingga kawasan ini dikenal sebagai sebagai Mataraman, menunjukan bahwa kawasan tersebut dulunya merupakan daerah kekuasaan Kesultanan Mataram. Daerah tersebut meliputi eks-Keresidenan Kediri (Madiun, Ngawi, Magetan, Ponorogo, Pacitan), eks-Keresidenan Kediri (Kediri, Tulungagung, Blitar, Trenggalek, Nganjuk), dan sebagian Bojonegoro. Seperti halnya di Jawa Tengah , wayang kulit dan ketoprak cukup populer dikawasan ini. Kawasan Jawa Timur eks-Karesidenan Surabaya (Sidoarjo, Mojokerto, dan Jombang), dan eks-karesidenan Malang, memiliki sedikit pengaruh budaya Mataraman, mengingat kawasan ini merupakan kawasan arek (sebutan untuk keturunan Ken Arok) terutama di daerah Malang yang membuat daerah ini sulit terpengaruhi oleh budaya Mataraman.

Adat istiadat di kawasan Tapal Kuda banyak di pengaruhi oleh budaya madura, mengingat besarnya populasi suku madura di kawasan ini. Adat istiadat masyarakat Osing merupakan perpaduan budaya Jawa, Madura, dan Bali. Sementara adat istiadat suku Tengger banyak di pengaruhi oleh budaya Hindu. Masyarakat desa di Jawa Timur, seperti halnya di Jawa Tengah memiliki ikatan yang berdasarkan persahabatan, dan teritorial. Berbagai upacara adat yang di selenggarakan antara lain: Tingkepan (upacara kehamilan 7bulanan pagi anak pertama), Babaran (upacara menjelang lahirnya bayi), Sepasaran (upacara setelah bayi berusia 5 hari), Pitonan (upacra setelah bayi berusia 7 bulan), Sunatan, dan Pacangan.

Penduduk Jawa Timur umumnya menganut perkawinan monogami. Sebelum dilakukan lamaran, pihak laki-laki melakukan acara Nako ‘ake’ (menanyakan apakah si gadis sudah memiliki calon suami), setelah itu dilakukan Peningsetan (lamaran). Upacara perkawinan di dahului dengan acara Temu atau Kepanggih. Masyarakat di pesisir Barat : Tuban, Lamongan, Gresik, bahkan Bojonegoro memiliki kebiasaan lumrah keluarga wanita melamar keluarga pria (ganjuran), berbeda degan lazimnya kebiasaan daerah lain di indonesia dimana pihak pria melamar wanita. Dan umumnya pria selanjutnya akan masuk kedalam keluarga wanita.

Unsur kebudayaan Jawa Timur masyarakatnya mayoritas suku Jawa Timur umumnya menganut agama Islam, sebagian kecil lainnya menganut agama kristen, dan katolik, dan ada pula yang menganut agama Hindu dan Budha. Sebagian orang Jawa Timur juga masih memegang teguh kepercayaan Kejawen. Agama islamsangatlah kuat dalam memberi pengaruh pada suku Madura. Suku Osing umumnya beragama islam dan hindu sedangkan mayoritas suku tengger menganut agama hindu.

Mata pencaharian nya tidak ada mata pencaharian yang khas yang dilakoni oleh masyarakat suku Jawa. Pada umumnya, orang-orang disana bekerja pada segala bidang, terutama adminisrasi negara dan kemiliteran yang memang didominasi oleh orang jawa. Selainitu, mereka bekerja pada sektor pelayanan umum, pertukangan, perdagangan, pertanian, dan perkebunan. Sektor pertanian danperkebunan, mungkin salah satu yang paling menonjol dibandingkan mata pencaharian lain, karena seperti yang kita tahu, baik Jawa Tengah atau Jawa Timur banyak lahan-lahan pertanian yang beberapa cukup dikenal, karena memegang peranan besar dalam memasok kebutuhan nasional, seperti padi, tebu, dan kapas.

Kesenian yang berasal dari daerah Jawa Timur yaitu : Reog, Kuda lumping, Ludruk, Tari remo, parikan, tari bedhaya, tari serimpi, tari petilan, tari golek, tari bonda, tari topeng, tari dolalak, patolan atau prisenan barongan, kuda kepang, wayang krucil, kuntulan, lengger calung, dan lain-lain.

Reog adlah salah satu kesenian budaya khas Jawa Timur bagian barat laut dan Ponorogo dianggap sebagai kota asal Reog yang sebenarnya. Gerbang kota Ponorogo dihiasi oleh sosok Warok dan Gemblak, dua sosok yang ikut tampil pada saat Reog dipertunjukan. Reog adalah salah satu bukti budaya daerah di Indonesia yang masih sangat kental dengan hal-hal yang berbau mistis dan ilmu kebatinan yang kuat.

Pada dasarnya ada lima versi cerita populer yang berkembang di masyarakat tentang asal usul Reog dan Warok, namun salah satu cerita yang paling terkenal adalah cerita tentang pemberontakan Ki Ageng Kutu, seorang abdi kerajaan pada masa Kertabumi, Raja Majapahit terakhir yang berkuasa pada abad ke-15. Ki Ageng Kutu murka akan pengaruh kuat dari pihak rekan Cina rajanya dalam pemerintahan dan prilaku raja yang korup, ia pun melihat bahwa kekuasaan Kerajaan Maja pahit akan berakhir.

Ia lalu meninggalkan sang raja dan mendirikan perguruan dimana ia mengajar anak-anak muda seni ilmu bela diri, ilmu kekebalan diri, dan ilmu kesempurnaan dengan harapan bahwa anak-anak muda ini akan menjadi bibit dari kebangkitan kerajaan Majapahit kelak. Sadar bahwa pasukannya terlalu kecil untuk melawan pasukan kerajaan maka pesanpolitis Ki Ageng Kutu disampaikan melalui seni Reog, yang merupakan sindiran kepada raja Kertabumi dan kerajaannya. Pagelaran Reog menjadi cara Ki Ageng Kutu membangun perlawanan masyarakat lokal menggunakan kepopuleran Reog.

Dalam pertunjukan Reog ditampilkan topeng berbentuk kepala singa yang dikenal “singa barong”, raja hutan, yang menjadi simbol umtuk Kertabumi, dan diatasnya ditancapkan bulu-bulu merak hingga menyerupai kipas raksasa yang menyimbolkan pengaruh kuat para rekan Cina nya yang mengatur dari atas segala gerak geriknya.

Jatilan, yang diperankan oleh kelompok penari gemblak yang menunggangi kuda-kudaan menjadi simbol kekuatan pasukan kerajaan Majapahit yang menjadi perbandingan konras dengan kekuatan warok, yang berada dibalik topeng badut merah yang menjadi simbol unuk Ki Ageng Kutu, senirian dan menopang berat topeng singa barong yang mencapai berat lbih dari 50kg hanya dengan menggunakan giginya.

Populernya Reog Ki Ageng Kutu akhirnya menyebabkan Kertabumi mengambil tindakan dan menyerang perguruannya. Pemberontakan oleh warok dengan cepat diatasi, dan perguruan dilarang unuk melanjutkan pengajaran akan warok. Namun murid-murid Ki Ageng Kutu tetap melanjutkan secara diam-diam. Walaupun begitu, kesenian Reog nya sendiri masih di perbolehkan untuk di pentaskan karena sudah menjadi pertunjukan populer diantara masyarakat, namun jalan ceritanya memiliki alur baru dimana ditambahkan karakter-karakter dari cerita rakyat Ponorogo yaitu Kelono Sewondono, dewi Songgolangit, dan Sri Genthayu.

Versi resmi alur cerita Reog Ponorogo kini adalah cerita tentang Raja Ponorogo yang berniat melmar putri Kediri, Dewi Ragil Kuning, namun ditengah perjalanan ia dicegat oleh Raja Singa barong dari Kediri. Pasukan Raja Singabarong terdiri dari merak dan singa, sedangkan dari pihak Kerajaan Ponorogo Raja Kelono dan wakilnya Bujanganom, dikawal oleh warok (pria berpakaian hitam-hitam dalam tariannya), dan warok ini memiliki ilmu hitam mematikan. Seluruh tariannya merupakan tarian perang antara Kerajaan Kediri dengan Kerajaan Ponorogo, dan mengandung ilmu hitam antara keduanya, para penari dalamkeadaan kerasukan saat mementaskan tariannya.

0 coment:

Jawa Barat merupakan salah satu provinsi yang terletak di Indonesia. Ibu kota dari provinsi Jawa Barat ini adalah kota Bandung. Pada waktu ...

KESENIAN DAN KEBUDAYAAN JAWA BARAT



Jawa Barat merupakan salah satu provinsi yang terletak di Indonesia. Ibu kota dari provinsi Jawa Barat ini adalah kota Bandung. Pada waktu zaman penjajahan Belanda, kota ini merupakan kota tempat peristirahatan orang-orang Belanda yang tinggal di Batavia atau Jakarta sekarang. Menurut sejarah, provinsi Jawa Barat adalah provinsi pertama yang dibentuk di wilayah Indonesia. Jawa Barat merupakan provinsi dengan jumlah populasi terbanyak di Indonesia, pada tahun 2000 provinsi Jawa Barat di mekarkan dengan berdirinya Provinsi Banten.

Provinsi Jawa Barat berada di bagian Pulau Jawa, wilayahnya berbatasan dengan Laut Jawa di sebelah Utara, Jawa Tengah disebelah Timur, Samudera Hindia disebelah selatan, serta Banten dan DKI Jakarta di sebelah barat. Titik tertingginya Provinsi Jawa Barat ini adalah Gnung Ciremai, yang berada di sebelah barat daya kota Cirebon. Sungai-sungai yang cukup penting adalah Sungai Citarum dan Sungai Cimanuk, yang bermuara di Laut Jawa.

Sejarah Jawa Barat diawali sejak awal kemerdekaan bangsa Indonesia. Provinsi Jawa Barat ini ditetapkan oleh PanitiaPersiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dua hari setelah proklamasi Kemerdekaan Indonesia bersama provinsi yang lainnya. Ketujuh provinsi tersebut adalah Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera, Kalimantan, Sunda Kecil, Sulawesi, dan Maluku.

Dari penelitian dan bukti-bukti yang ditemukan yang berasal dari 600.000 tahun yang lalu, diperjirakan bahwa provinsi Jawa Barat telah dihuni sejak tahun baru tersebut. Tetapi adanya kehidupan manusia baru diketahui sejak tahun 2000 sebelum masehi, yaitu pada saat terjadi migrasi besar dari kawasan selatan Cina ke wilayah Indonesia, termasuk Jawa Barat.

Pada awal masehi, penduduk Jawa Barat sudah menjalin hubungan dengan dunia luar sehingga pengaruh kebudayaan luar mulai masuk, seperti kebudayaan Hindu. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya prasasti-prasasti dari zaman itu, misalnya prasasti yang ditemukan di daerah Ciaruteun, Bogor. Dari prasasti itu diketahui bahwa telah berdiri kerajaan bernama Tarumanegara dengan rajanya, Purnawarman.

Prasasti yang ditemukan berikutnya bernama prasasi Sanghyang Tapak. Prasasti ini ditemukan di kampung Pengcalihan dan Bantar Muncang, ditepi sungai Citatih, Sukabumi. Prasasti tersebut menunjukan bahwa pada tahun 1035 berdiri kerajaan sunda yang diperintah oleh Maharaja Sri Jayabhupati Jayamahen Wisnumurti Samarawijaya Sakalabhuwanamandales Waranindita Haro Gowardhana Wikramatunggadewa. Selain Kerajaan Tarumanegara dan Sunda Pajajaran, di Jawa Barat juga terdapat Kerajaan Galuh.

Pada tahun 1357, terjadi peristiwa Bubat yaitu perang antara Raja Sunda dan Patih Majapahit (Gajah Mada). Pasukan Majapahit, yang saat itu berada dibawah pimpinan Patih Gajah Mada berhasil menaklukan Pajajaran dalam perang Bubat tersebut. Pada tanggal 16 Januari 1904, seorang tokoh perempuan bernama Raden Dewi Sartika membuka sekolah untuk anak-anak gadis di Bandung. Sekolah tersebut berdiri berkat dukungan yang diberikan oleh Bupati Martanegara. Sejak saat itu, pendidikan di Bandung, khususnya untuk perempuan, terus berkembang. Dewi Sartika merupakan tokoh yang sangat memperhatikan kemajuan pendidikan pada masanya.

 ALAT MUSIK JAWA BARAT

1. Kendang
Berbahan dasar kayu yang dilapisi kulit, kendang digunakan dalam kesenian degung.

2. Kulanter
Sejenis kendang, namun ukurannya lebih kecil. Fungsi dari kulanter adalah untuk mengiringi kendang.

3. Goong
Goong terbuat dari tembaga yang di cat dengan warna emas. Goong digantung pada kayu dengan tali dan menghasilkan nada gaung. Goong biasanya digunakan untuk menandai lagu atau tembang pada degung.

4. Jengglong
Hampir sama dengan goong, namun acaranyalebih kecil danjumlahnya lebih banyak. Dalam satu gantungan biasanya jengglong berjumlah 6 buah. Nada yang dihasilkan lebih ringan daripada goong dan biasanya digunakan untuk membatasi bait dan nada.

5. Bonang
Terbuat dari tembaga, bentuk bonang ini mirip dengan jengglong namun ukurannya lebih kecil dan lebih banyak. Cara memainkannya menggunakan dua tangan dan disusun rapi pada papan kayu tidak digantung seperti goong dan jengglong.

6. Saron atau Peking
Terbuat dari tembaga yang dibentuk kecil dan pipih dengan ukuran yang berbeda dan disusun berdasarkan titi nada. Saron atau peking ini biasanya digunakan sebagai melodi dalam degung.

7. Gambang
Bentuknya sama seperti saron, tetapi gambang memiliki ukuran yang lebih besar. Pada sebuah pertunjukkan band, gambang berfungsi sama dengan bass.

8. Calung
Calung adalah alat musik sunda yang hampir sama dengan angklung, yang membedakannya adalah cara memainkannya. Jika angklung di mainkan dengan cara digetarkan, calung dimainkan dengan cara dipukul. Calung memiliki tangga nada pentatonic (da-mi-na-ti-la). Bambu yang digunakan untuk membuat calung biasanya aadalah awi wulung atau bambu. Pengertian calung selain sebagai alat musik juga melekat dengan sebutan seni pertunjukan. Ada dua jenis calung sunda yang dikenal, yakni calung rantay dan calung jinjing.

 ALAT MUSIK TIUP

1. Suling
Suling merupakan salah satu instrumen dari keenian gamelan. Suling memiliki peranan yang paling penting sebagai melodi pada gamelan.

 ALAT MUSIK GETAR

1. Angklung
Angklung merupakan alat musik khas Jawa Barat yang paling terkenal. Angklung terbuat dari bahan dsar bambu kecil yang dibentuk dan disusun sedemikian rupa sehingga menghasilkan suara yang khas.

2. Karinding
Alat musik ini terbuat dari bambu yang dipahat dan dibentuk tipis, cara memainkannya cukup unik yaitu diletakan dimulut tetapi tidak ditiup melainkan digetarkan untuk menghasilkan suara khas karinding yang unik.

 SENI TARI JAWA BARAT

1. Tari Topeng Putri
Tari ini merupakan salah satu tarian khas dari Provinsi Jawa Barat, disebut tari topeng karena penarinya menggunakan topeng pada saat menari. Tari topeng banyak sekali ragamnya, dan mengalami perkembangan dalam hal gerakan, maupun cerita yang ingin disampaikan.

2. Tari Dewi
Tari ini merupakan tari klasik masyarakat sunda. Tari ini sudah banyak dikenal sejak tahun 1990-an.

3. Tari Graeni
Tarian ini merupakan salah satu tarian yang berasal dari daerah Jawa Barat, tari graeni ini dimainkan dengan properti keris.

4. Tari Jaipong
Tari jaipong ini terlahir dari seniman asal Bandung yang bernama Ggum Gumbira, sebagai seni pertunjukan rakyat, kesenian ini hanya didukung oleh unsur-unsur sederhana, seperti waditra yang meliuti rebab, kendang, dua buah kulanter, tiga buah ketuk, dan goong.

5. Tari Merak
Tari merakmerupakan tarian yang menggambarkan kehidupan burung merak yang mempunyai keanggunan, keindahan dan kelincahan. Tari ini adalah tarian yang dimainkan oleh wanita. Tari merak adalah tari klasik sunda yang menyimbolkan kecantikan alam.

6. Tari Rampak Gendang
Tari ini adalah kesenian tari yang memadukan suara kendang yang dinamis dengan musik gamelan salendro yang bersifat ceria. Pemain kendang terdiri atas 6 orang, sedangkan nayaga terdiri atas 7 sampai 10 orang.

7. Tari Topeng Losari
Tari topeng Losari adalah tarian yang berasal dari daerah Losari Jawa Barat, biasanya menjadi seni pertunjukan pada acara hajatan, khitanan, atau sebagai tari hiburan rakyat.

0 coment:

Keragaman budaya merupakan sebuah adat istiadat yang dimiliki masing-masing daerah tertentu khususnya di Indonesia, yang mana budaya nya sel...

KESENIAN DAN KEBUDAYAAN BALI




Keragaman budaya merupakan sebuah adat istiadat yang dimiliki masing-masing daerah tertentu khususnya di Indonesia, yang mana budaya nya selalu berkembang atau sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang sukar untuk diubah dan tidak dapat dipungkiri keberadaannya. Keragaman budaya yang dimaksud adalah setiap daerah memiliki variasi tersendiri, mulai dari letak daerah yang ditempati, agama yang dianut, cara bertingkah laku didaerah yang ditempati, kesenian yang dimiliki tiap daerah.

Keragaman Budaya di Daerah Bali, tentu nya sangat lah banyak yang kita ketahui. Karena bali terkenal dengan keindahan pantai dan memiliki tempat-tempat yang indah lainnya. Selain itu, bali merupakan daerah dimana penduduknya sangat banyak, dengan adat istiadat yang sangat kental. Kesenian yang dimiliki daerah bali pun memiliki sebuah ke khasan tersendiri, tidak dimiliki oleh daerah lain maupun negara lain.

Bali merupakan salah satu pulau di Indonesia yang ber-ibu kota kan Denpasar. Bali merupakan pulau yang dikenal dengan sebutan pulau dewata. Dan merupakan salah satu pulau yang merupakan surga wisata yang memiliki daua tarik berwisata baik untuk wisatawan asing maupun wisatawan lokal karena daerahnya memiliki keindahan yang sangat menarik bagi para wisatawan. Masyarakat pulau ini sebagian besar memeluk agama Hindu. Tidak hanya keindahan daerahnya saja yang menarik bawa wisatawan namun juga keaneka ragaman kesenian serta kebudayaan yang ada di Bali pun menarik untuk dikenal lebih jauh oleh para wisatawan.

Di dunia, bali terkenal sebagai tujuan pariwisata dengan keunikan berbagai hasil seni budayanya. Seiring dengan peralihan zaman pra sejarah ke zaman sejarah, pengaruh Hindu dari India yangmasuk ke Indonesia di perkirakan memberi dorongan kuat pada lompatan budaya di Bali. Masa peralihan ini, yang lazim disebut sebagai masa Bali Kuno antara abad 8 sampai abad 13, degan amat jelas mengalami perubahan lagi akibat pengaruh Majapahit yang berniat menyatukan Nusantara lewat sumpah Palapa Gajah Mada di awal abad 13.

Tatanan pemerintahan dan struktur masyarakat mengalami penyesuaian mengikuti pola pemerintahan Majapahit.Benturan budaya lokal Bali Kuno dan budaya Hindu Jawa dari Majapahit dalam bentuk penolakan penduduk Bali menimbulkan berbagai perlawanan di berbagai daerah di Bali. Secara perlahan dan pasti, dengan upaya penyesuaian dan percampuran kedua belah pihak, Bali berhasil menemukan pola budaya yang sesuai dengan pola pikir masyarakat dan keadaan alam Bali. Keragaman budaya yang dimiliki oleh Bali antara lain:

1. Rumah Adat Bali
Menurut filosofi masyarakat bali, kedinamisan dalam hidup akan tercapai apabila terwujudnya hubungan yang harmonis antara aspek pwongan, palemahan, dan parahyangan. Untuk itu pembangunan sebuah rumah harus meliputi aspek-aspek tersebut atau yang biasa disebut “Tri hita karana”. Pawongan merupakan para penghuni rumah. Palemahan berarti harus ada hubungan yang baik antara penghuni rumah dengan lingkungnnya.

Pada umumnya, bangunan atau arsitektur tradisional daerah bali sealu dipenuhi hiasan, berupa ukiran, peralatan serta pemberian warna. Ragam hias tersebut mengandung arti tertentu sebagai ungkapan keindahan simbol-simbol dan penyampaian komunikasi. Bentuk-bentuk ragam hias dari jenis fauna juga berfungsi sebagai simbol ritual yang dibuat berupa patung

2. Sistem Kepercayaan Masyarakat Bali
Masyarakat Bali kebanyakan beragama Hindu, dan percaya adanya satu Tuhan dalambentuk Trimurti yang Esa yaitu Brahmana (yang menciptakan), Wisnu (yang melindungi dan memelihara), dan Siwa (yang merusak). Selain itu juga percaya dengan para dewa yang memiliki kedudukan yang lebih rendah dari Trimurti yaitu dewa Wahyu (dewa angin), dewa Indra (dewa perang). Agama Hindu juga mempercayai roh abadi, dan mempercayai semua ajaran-ajaran yang berada di kitab Wedha.

Tempat untuk melakukan persembahyangan (ibadah) agama Hindu di Bali dinamakan Pura atau Sangeh. Tempat ibadah ini merupakan bangunan-bangunan suci yang sifatnya berbeda-beda setiap tempat persembahyangan. Karena banyak sekali hampir beribu-ribu pura atau sangeh yang masing-masing pura tersebut mempunyai upacara adat yang sesuai dengan perayaan leluhur mereka sesuai sistem tanggalan nya sendiri-sendiri.

3. Hukum adat Bali
Sebagian besar masyarakat bali adalah menganut agama Hindu dan dalam kesehariannya diatur berdasarkan hukum adat Bali. Hukum adat bali merupakan hukum yang tumbuh dalam ligkungan masyarakat bali yang berlandaskan pada ajaran agama (Agama Hindu) dan tumbuh berkembang mengikuti kebiasaan serta rasa kepatutan dalam masyarakat hukum adat bali itu sendiri. Oleh karenanya dalam masyarakat bali hukum adat bali antara adat dan agama tidak dapat dipisahkan.

4. Upacara Ngaben
Upacara Ngaben adalah upacara pembakaran mayat yang dilaksanakan oleh umat Hindu di Bali. Upacara Ngaben ini di adakan jika ada orang yang meninggal dan biasanya diselenggarakan oleh anggota keluarga yang meninggal. Makna dari upacara Ngaben adalah untuk mengembalikan roh leluhur ke tempat asalnya.

5. Tari Pendet
Nama Tari Pendet sudah cukup terkenal di manca negara. Tarian dengan gerakan yang mahayur nan indah ini membuat tari Pendet menjadi salah satu wiata budaya Indonesia yang membuat kagum negara lain. Gerakan tarian ini diambil dari pakem-pakem gerakan tari pendet dewa (nama tari pendet untuk persembahan). Tanpa menghilangkan nilai sakral, religius, dan keindahannya.

6. Tari Kecak
Tari Kecak adalah jenis tarian tradisional khas bali yang paling populer. Tari ini sering dimainkan pada event-event keagamaan masyarakat bali. Tari kecak ini dimainkan oleh puluhan laki-laki yang duduk berbaris dan membentuk lingkaran, penari mengangkat tangan sembari menyerukan ‘cak’.

7. Tari Barong
Tari Barong juga menjadi pertunjukkan seni yang paling diminati di pulau Bali ini. Berkunjung ke Bali tak lengkap rasanya kalau belum melihat pertunjukan tari barong ini. Tari Barong sendri merupakan jenis tarian khas Bali yang berasal dari kebudayaan pra-Hindu. Tari Barong menggambarkan pertarungan kebatilan dan kebajikan. Sehingga dalam tari barong ini dimainkan oleh dua tokoh yakni tokoh kebajikan dimainkan oleh Barong yang mengenakan kostum binatang berkaki empat. Sedangkan tokoh kebatilan dimainkan oleh Rangda yang merupakan sosok menyeramkan lengkap dengan dua taring runcing.

8. Tari Legong
Jenis tari tradisonal lainnya di Pulau bali adalah Tari Legong, tari ini dikembangkan dari keraton-keraton di Bali sejak abad ke 19 paruh kedua. Tari legong adalah jenis tarian yang berlatar belakang kisah cinta Raja Lasem yang ditarikan secara dinamis untuk memikat hati. Legong sendiri berasal dari kata ‘leg’ yang berarti luwes atau elastis yang kemudian diartikan sebagai tarian dengan gerakan gemulai. Sedangkan kata ‘gong’ diartikan sebagai gamelan, sehingga Tari Legong ini mengandung arti gerakan yang terikat oleh alat musik yang mengiringinya.

9. Tari Rejang
Tarian sakral ini bertujuan untuk menyambut kedatangan ekaligus menghibur para dewa yang turun ke bumi. Tari rejang biasanya ditampilkan pada upacara adat dan acara keagamaan masyarakat Hindu di Bali. Tarian ini sarat dengan nilai-nilai suci dan spiritual yang kental.Sehingga tak heran jika tarian ini dilakukan dengan penuh rasa pengabdian dan ketulusan.

0 coment:

Musik merupakan salah satu bagian kebudayaan yang dapat dijumpai di hampir seluruh kehidupanmanusia. Dimana-mana kawan di dunia akan ditemu...

IRINGAN MUSIK TARI



Musik merupakan salah satu bagian kebudayaan yang dapat dijumpai di hampir seluruh kehidupanmanusia. Dimana-mana kawan di dunia akan ditemui adanya pertunjukkan musik. Musik ada kalanya di peertunjukkan secara sendiri, namun banyak ativitas musik di pertunjukkan bersamaan denganaspek kebudayaan lainnya seperti pada tari. Banyak aktivitas seni pertunjukkan yang melibatkan musik dan tari sebagai satu kesatuan aktivitas. Misalnya tradisi seni pertunjukkan ronggeng dan zapin pada masyarakat Melayu, tor tor pada masyarakat Toba, tangunggung padamasyarakat Bajau di SempornaSabah, ataupun tradisi flamenco padamasyarakat Andalusia di Spanyol bagian Selatan. Musik yang dimainkan pada kativitas tersebut biasa dikenali sebagai musik tari.

Terkait dengan hal di atas, istilah “musik tari” dan “iringan tari” adalah dua istilah yang sering terdengar di ucapkan secara bergantian oleh orang-orang di kalangan seni, baik itu seniman maupun kalangan akademik. Dari berbagai perbincangan, terkesan bahwa kedua istilah ini merujuk pada satu pengeertian yang sama, yakni musik yang digunakan untuk mengiringi tarian. Kalau merujuk pada hal demikian, tidaklah menjadi persoalan dengan istilah “musik tari” maupun “iringan tari” yang hendak digunakan. Karena keduanya bermakna sama. Tulus (2007:78) menyatakan bahwa, “setelah saya menelusuri lebiih lanjut kepada beberapa orang yang menggunakan kedua istilah itu, apa makna sebenarnya dari masing-masing istilah tersebut, timbul keraguan di antara mereka.” Sebagian besar dari mereka mengatakan bahwa kedua istilah tersebut bermakna sama. Mereka cenderung mengatakan itu memiliki arti atau makna yang berbeda.

Pengertian musik tari dan iringan tari kadang memang rancu. Apakah pengertiannya sama atau berbeda. Komposisi musik ditujukan untuk penikmat yang hanya terfokus kepada bunyi (walaupun secara visual dalam pertunjukannya juga memunculkan pemain). Bagi musik tari atau iringan tari yang diutamakan adalah garapan tarinya. Walaupun kehadiran musik sangat menentukan dalam mengungkapkan ekspresi tarian, tetapi hanya sebagai “pengiring tarian”.

Musik tari yang berpegang kepada prinsip tari tidak selalu ketat dalam aturan yang dikehendaki koreografer, persoalannya seorang koreografer belum tentu memahami musik sama dengan seorang komonis memahami musiknya dalam sebuah tari. Sering kali seorang koreografer hanya memberikan pola dasar musik iringan tariannya, sedangkan untuk menyusun menjadi komposisi musik tari yang utuh (sempurna), diberikan kepada komponis. Jadi, dalam keterikatannya dengan tari sebenarnya masih ada pilihan-pilihan bentuk garapan seni musik yang diserahkan kepada komponis mengolahnya walaupun tetap terikat dalam hubungan yang tidak mutlak dengan tari seperti ketentuan dalam mengiringi ritme tari atas kehendak koreografer.

Untuk menuju kepada suatu definisi yang jelas tentang apaitu musik tari ataupun iringan tari, ada baiknya disimak jugafakta yang terdapat dalam seni pertunjukkan pada masyarakat tradisional, misalnya masyarakat Melayu. Salah satu contoh adlah tradisi ronggeng padamasyarakat Melayu Deli di Sumsters Utara. Dalam pertunjukkannya terdapat kesatuan musik (vocal dan instrumen) dan tarian. Pada konteks itu kemana kita mesti mendefinisikan pertunjukkan tersebut? Apakah itu pertunjukkan musik yang di iringi oleh tarian? Dengan kata lain, pertunjukkan tersebut adalah pertunjukan tarian yang ‘diiringi’ oleh musik? Dengan demikian, musik disini hanyalah sebagai pengiring tarian sementara yang diutamakan adalah tariannya. Karena yang diutamakan adalah tariannya, maka berarti pula bahwa tarian pada tradisi ronggeng tersebut boleh lah diiringi dengan musik apa saja selama ia bersesuaian dengan tariannya. Maka, musiknya mungkinlebih tepat disebut sebagai iringan tari. Selanjutnya,kalau kita coba lihat dariperspektif musik, apakah musik dalam seni pertunjukan ronggeng dapat di kategorikan sebagai musik tari? Atau mungkiniringan tari? Hal yang sama boleh pula ditujukan kepada tradisi zapin (musik tari zapin). Yang menjadi persoalan adalah, kalau merujuk kepada hakikat seni pertunjukkan ronggeng dan zapin, bolehkah tari dan musik dilihat secara portial seperti itu?

Dalamkasus seni pertunjukan seperti ronggeng dan zapin tersebut, tidaklah boleh kita melihat musik dan tari secara partial. Musik dan tari adalah satu kesatuan yang tak dapat di pisahkan. Ia merupakan suatu bentuk kebudayaan seni pertunjukan tersendiri sekaligus merupakan culture identity dari masyarakat pendukungnya. Musik dalam tradisironggeng dan zapin hanya dapat dipahami dan bermakna manakala ia disajikan secara bersamaan dengan tariannya. Kalau dilihat dari sisi penikmat musik, memang musik dan rentak-rentak musik yang ada pada tradisi ronggeng lebih dapat dinikmati dalam konteks ronggeng, Artinya, musik dinikmati sebagai ‘musik’ kalau musik itu di pertunjukan bersamaan dengan tariannya, yang memang khas bagi pertunjukan tersebut. Begitu pula sebaliknya, tarian hanya bermakna manakala di pertunjukan dengan musiknya. Mana kala nilai-nilai yang terdapat pada musik dan tarian tersebut mempunyai hubungan yang tidak terpisahkan dengan aspek-aspek kebudayaan lainnya dalam masyarakat pendukungnya.

Kasus yang sama juga ada pada tradisi musik dan tari pada masyarakat lainnya. Misalnya, tradisi lagunggupada masyarakat Bajau Semporna Sabah, Sunatera Fernando (2002: 27) mengatakan bahwa trdisi langungu merupakan “tagunggu”merupakan simbolidentitas musik dan tari Bajau dapat dilihat sebagai bentuk budaya dimana masyarakatnya mengartikulasi identitas. “Hubungan erat antara musik dan tari dengan aspek lain dari kebudayaan suatu masyarakat juga ditemui pada tradisi musik dan tari di Polynesia. Hal ini terungkap dari pernyataan dapat dianggap sebagai dekorasi sekunder dan tersier sastra lisan.”

Penjelasan lain menyebutkan bahwa “musik tari adalah musik bermain atau utuk mengiringi tarian social, atau keduanya dapat berupa potongan musik seluruh atau sebagian dari aransemenmusik yang lebih besar”. Dari beberapa rumusan pengertian atau definisi tersebut dapat di pahami tiga hal. Pertama, musik tari adalah musik yang di compose khusus untuk mengiringi social dancing. Kedua, musik tari adalah musik yang dimainkan secara khusus untuk mengiringi social damcing. Ketiga, musik tari adalah musik yang di compose khusus terlebih dahulu. Tetapi bisa saja diambil dari komposisi musik yang sudah ada sehingga musik tersebut tinggal dimainkan saja untuk sebuah tarian. Tentu dengan syarat, musik itu bersesuaian dengan tariannya.

Dari definisi itu pula terkandung makna bahwa musik tari maupun iringan tari adalah sama atau bermakna sama. Disimak lebih lanjut, pada definisi itu terdapat satu kata kunci yaitu social dancing. Kalau tari berada dalam dimensi social menandakan bahwa adanya “tarian memiliki hubungan yang erat dengan masyarakat dimana mereka hidup.” (Ellfeldt, 1979: 104).

Bila diperhatikan dengan seksama, dari topik diatas dapat disimpulkan bahwa karya seni tari maupun musik sebagai iringannya memiliki sifat saling ketergantungan dengan kata lain saling membutuhkan. Hubungan antara seni tari dengan seni musik iringannya sangatlah erat. Meskipunsesungguhnya musik mampu berdiri sendiri sebagai sebuah karya seni, namun dalam konteks nya sebagai ieingan tari, musik tidak dapat lepas dari tari yang di iringinya. Secara umum masyarakat sudah tahu bahwa pasangan dari seni tari adalah musik sebagai iringannya. Keduanya merupakan pasangan yang tidak bisa dipisahkan. Antara seni tari dan seni musik sebagai iringannya pada kenyataannya berasal dari sumber yang sama yakni dorongan atau naluri ritmis manusia. Seni tari menggunakan media utama gerak, suasananya tidak bisa hidup dan tidak bermakna tanpa iringan musik sebagai pengiringnya.

0 coment: