Indonesia memang terkenal dengan beragam kekayaan budaya. Baik itu budaya tradisional atau modern semuanya menarik untuk dipelajari. ...
TARI MERAK
Gaok adalah sebuah kesenian tradisional di Kabupaten Majalengka tepatnya di Desa Kulur dan Burujul yang memiliki unsur budaya Islam. Mel...
KESENIAN GAOK MAJALENGKA
Gaok adalah sebuah kesenian tradisional di Kabupaten Majalengka tepatnya di Desa Kulur dan Burujul yang memiliki unsur budaya Islam. Melalui Kabupaten Cirebon, Seni Gaok masuk ke wilayah Majalengka seiring dengan masuknya ajaran agama Islam yang disyiarkan oleh Pangeran Muhamad dari Cirebon.
Kesenian Gaok adalah kesenian yang menampilkan unsur vokal atau tembang yang paling dominan. Biasanya menampilkan suatu cerita yang diambil dari kesusastraan Jawa, berupa Wawacan. Umumnya ditampilkan pada acara syukuran 40 hari kelahiran bayi. Dalam perkembangan masa kini ternyata kesenian Gaok mengalami kemunduran.
Menurut keterangan yang ada di masyarakat, istilah gaok merupakan istilah kesenian Beluk yang ada di daerah Majalengka, yang lahir dan berkembang dari kebiasaan masyarakat pada jaman dahulu yang kebanyakan bermatapencaharian dengan bercocok tanam di huma. Pada masa itu, secara tidak sengaja orang memainkan keindahan suara, yaitu saat mereka saling berkomunikasi dari huma satu ke huma lainnya, yang pada saat itu merupakan hutan belantara.
Pengertian Beluk masa sekarang umumnya dianggap orang sebagai pertunjukan seni suara atau vokal yang hanya dilakukan oleh laki-laki dengan menggunakan sebuah Wawacan tatkala selamatan bayi. Padahal jika dikembalikan pada pengertian asal Beluk dalam pementasan Seni Beluk sekarang, tidak seluruhnya berbentuk Beluk. Beluknya itu sendiri baru ditampilkan setelah jauh malam, jika dipentaskan semalam suntuk. Beluknya itu sendiri merupakan dinamika pertunjukan agar tidak monoton hanya melagukan Rancag Buhun saja, yang dalam pertunjukan di daerah Dago disebut Silio.
Ditarik kesimpulan, bahwa gambaran Beluk tersebut merupakan gambaran setelah datangnya pengaruh Wawacan dari kesusastraan Jawa yang masuk ke Sunda, terutama melalui kaum feodal dan kaum ulama Islam (kira-kira pertengahan abad XVII). Setelah datangnya pengaruh Wawacan. Beluk itu dijadikan variasi lagu dalam pementasan baca Wawacan yang dilagukan, yang ada di daerah Majalengka disebut Gaok.
Sesuai dengan yang diungkapkan Engkos Wangsadihardja, bahwa keberadaan Kesenian Gaok di Desa Kulur Kecamatan Majalengka sejak datangnya pengaruh agama Islam ke daerah Majalengka. Setelah agama Islam masuk, yang dibawa oleh Pangeran Muhammad (1490), maka penyebaran agama Islam di daerah ini dapat berkembang lebih cepat dibandingkan dengan yang lain. Pangeran Muhammad datang dari Cirebon (Sunan Gunung Jati). Ia menikah dengan Siti Armillah. Cara penyebarannya dengan memanfaatkan naskah Wawacan yang bernafaskan ajaran Islam ke dalam bentuk Kesenian Gaok. Hingga sekarang seni tradisional Gaok masih ada, yang dikembangkan di Desa Kulur Kecamatan Majalengka sekitar tahun 1920.
Gaok merupakan seni tradisional yang telah mengalami singkritisme antara nilai budaya etnis Sunda Buhun yang bernuansa Islam, yang dibawa dari Cirebon. Di dalam pertunjukan selalu diawali dengan bacaan Basmalah, sedangkan bahasa yang disampaikan adalah bahasa Sunda. Terkadang gayanya seperti orang sedang mengumandangkan Adzan.
Gaok diambil dari kata ngagorowok artinya ‘berteriak’. Dalam kesenian ini para pemain secara bergantian melantunkan pupuh (Kinanti, Sinom, Asmarandana, dan Dangdanggula) dengan suara keras (berteriak) seperti cara mengumandangkan adzan sehingga dikenal kata gaok. Para pemain Gaok mengenakan pakaian khas Sunda, yaitu baju kampret dan berikat kepala. Selain berunsur budaya Islam, dalam Gaok terdapat pula unsur budaya leluhur Sunda, berupa upacara persembahan sesajen kepada para leluhur yang dilaksanakan sebelum memulai Seni Gaok.
Perlengkapan Kesenian Gaok adalah naskah wawacan, sesajen, dan waditra pengiring. Wawacan yang ada serta yang selamat, setelah banyak yang musnah terbakar waktu jaman penjajahan, antara lain : Wawacan Manakab, Ahmad Muhammad, Samawi, Sulanjana, Sejarah Ambiya, Babad Talaga Manggung, dan Babad Majalengka.
Pelaksanaan pertunjukan ada aturan-aturan tertentu. Contohnya, naskah Wawacan Manakib/Layang Syeh, yaitu Wawacan yang menceritakan Syeh Abdul Qodir Jaelani. Para penonton tidak boleh berbicara, merokok, dan makan. Jadi, harus mendengarkan dengan saksama jalan cerita dalam Wawacan tersebut. Sesajen harus tersedia lengkap, mulai dari makanan kecil sampai dengan makanan pokok. Untuk Wawacan lain bebas. Sesajen yang disajikan adalah kesukaan leluhur, di saat ia masih hidup.
Kegiatan nyuguh karuhun adalah berupa :
Parawanten, yaitu aneka ragam makanan/minuman kesukaan para leluhur, seperti puncak manik (telur di atas tumpeng), rurujakan (rujak kelapa, pisang, asem), bubur merah bubur putih, buah-buahan, kopi pahit manis, dawegan, kupat leupeut, tangtang angin, dan cara (kue serabi).
Pangradinan, sarana kecantikan pada masa lalu, seperti minyak wangi, kapur sirih, minyak kelapa, bunga-bunga, cermin, sisir.
Parupuyan, yaitu perapian.
Perlengkapan tambahan adalah alat pengiring, buyung dan songsong, yang berfungsi sebagai pengiring dalam pertunjukan pada saat mengakhiri kalimat lagu/pupuh, atau istilahnya madakeun/ngagoongkeun.
Cara penyajian Kesenian Gaok adalah ketentuan yang sudah ada sejak dahulu, yaitu berupa :
Etika penyajian, tidak hanya ditampilkan di atas panggung, juga di tengah rumah/serambi rumah, duduk bersila di atas gelaran tikar, yang dipimpin oleh seorang dalang/tukang ilo/pangrawit, yang bertugas untuk membacakan kalimat-kalimat yang ada dalam cerita, yang selanjutnya untuk diulang oleh Tukang Gaok. Tetapi yang lebih penting lagi, yaitu untuk menekankan kejelasan jalannya cerita dalam Wawacan kepada penonton. Karena bila lirik atau rumpaka sudah disampaikan oleh Tukang Gaok, yang terdengar oleh penonton bukan lagi kejelasan ejaan atau lafal kata yang diucapkan, melainkan kemudian suara dari penembang tersebut yang ditonjolkan.
Cara pengulangan disampaikan baris demi baris, sementara penonton harus tertib dulu.
Pemain harus memiliki kualitas suara yang bagus, ambitin suara yang memadai, napas yang panjang, dan harus hapal semua pupuh, termasuk cara menembangkannya. Dulu, jumlah yang memainkannya 12 sampai 13 orang. Sekarang pemain Gaok sekitar 4 sampai 6 orang laki-laki sebagai juru mamaos dan seseorang sebagai dalang atau pangrawit yang menjadi pemimpinnya. Adapun cerita yang dibawakan selain cerita-cerita Wawacan di atas adalah Cerita Umar Maya, Baejah, dan Sarmun. Selain sebagai juru mamaos, setiap pemain memainkan tetabuhan/waditra dari bambu, yang masing-masing memiliki nama: kecrek, gendang bambu atau buyung, dan gong bambu.
Pergelaran Kesenian Gaok dipimpin seorang dalang/pangrawit. Ia yang membacakan Wawacan, kemudian dibeuli oleh antara juru mamaos (pencoba) yang satu dengan yang lain. Tukang meuli tak ditentukan, siapa saja yang ingin meuli kalimat yang dibacakan dalang. Selain tukang meuli, ada lagi tukang naekkeun, yang menaikkan nada yang ditembangkan ke nada yang lebih tinggi, sehingga persiapan yang paling penting bagi tukang gaok adalah mempersiapkan suara agar tidak sampai kehabisan nafasnya.
Waktu penyajiannya dari pukul 20.00 – 04.00, semalam suntuk. Jika belum tamat, dilanjutkan jika empunya hajat memintanya.
Teknik pementasan Kesenian Gaok adalah sebagai berikut :
Sambutan empunya hajat.
Ceramah dari tokoh masyarakat.
Sebelum Dalang Gaok memberitahukan ceritanya, terlebih dahulu memeriksa kelengkapan Dalang.
Membaca doa, membakar kemenyan, dan meminta izin Allah SWT, meminta maaf kepada leluhur, jika sesajen tidak lengkap dan mempersilakan untuk hadir dalam penjajiannya.
Prolog Wawacan oleh Dalang.
Tukang Gaok/tukang meuli menembangkan baris demi baris.
Setiap akhir pada diiringi dengan alok secara rampak, dipandu fungsi buyung dan songsong, yang dipakai sebagai madakeun atau ngagoongkeun.
Tema sesuai dengan tujuan penyajian.
Ditutup dengan permintaan maaf dan ucapan terima kasih.
Kuningan merupakan salah satu Kabupaten yang ada di Jawa Barat, bertetanggaan dengan Kabupaten Cirebon. Kabupaten Kuningan terletak persis d...
KESENIAN KUNINGAN
1. Upacara Saren Taun
Saren Taun merupakan kata dalam bahasa sunda, yaitu saren yang artinya serah, seserahan, atau menyerahkan, dan taun yang berarti tahun. Jadi Seren Taun bermakna serah terima tahun yang lalu ke tahun yang akan datang sebagai penggantinya. Dalam konteks kehidupan tradisi masyarakat sunda, seren taun merupakan wahana untuk bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala hasil pertanian yang dilaksanakan pada tahun ini, seraya berharap hasil pertanian mereka akan meningkat di tahun yang akan datang,
Di Kuningan sendiri upacara ini biasanya di lakukan oleh penduduk desa Cigugur Kecamatan Cigugur Kabupaten Kuningan, namun berdasarkan sumber ternyata upacara ini tidak hanya dilakukan di desa tersebut saja, melainkan juga dilakukan di Desa Ciptagelar, Cisolok Kabupaten Sukabumi. Selain itu juga dilakukan di Desa Pasir Eurih Bogor, Desa Kenekes Lebak Banten dan juga Kampung Naga Tasikmalaya.
2. Tari Buyung

Tari Buyung merupakan tarian khas masyarakat Cigugur Kabupaten Kuningan. Tari Buyung ini memiliki keterkaitan erat dengan upacara seren taun. Hal ini karena tarian ini merupakan tarian utama dalam upacara seren taun di Desa Cigugur Kuningan Jawa Barat. Tarian ini menceritakan tentang gadis-gadis desa Cigugur yang sedang mengambil air ke sungai.
3. Tari Cingcowong

Cingcowong pada zaman dulu merupakan salah satu upacara ritual untuk meminta hujan. Upacara ini dilakukan pada saat musim kemarau panjang. Tradisi awal Cingcowong atau upacara ritual ini dipercaya masyarakat, khususnya Kecamatan Luragung Kabupaten Kuningan. Setiap datang kemarau upacara ritual Cingcowong selalu dilaksanakan agar laha pertanian mereka terhindar dari kemarau dan segera turun hujan.
Saat ini untuk melestarikan Cingcowong, Dinas Pariwisata Kebudayaan Kabupaten Kuningan mencoba satu tarian ini ahar tidak menjadi punah. Pada pertunjukannya yaitu Cingcowong tidak lagi sebagai seni ritual, akan tetapi sudah dikembangkan dan diangkat menjadi seni pertunjukan dengan perkembangan zaman. Sampai sekarang tari Cingcowong berkembang dan sering ditampilkan pada acara-acara seremonial baik kebutuhan menyambut pemerintah ataupun hiburan lainny
4. Sapton dan Panahan Tradisional


Secara etimologi dan historis, bahwa kegiatan Sapton dan Panahan Tradisional adalah acara rutin setiap hari sabtu setelah kegiatan serba raga (sidang) yang dilaksanakan disekitar Istana Kerajaan Kajene (Kuningan), dan mempunyai makna yang dalam seperti, heroisme, ketangkasan berkuda dan panahan dalam bela negara serta kebersamaan antara pemerintah dan rakyatnya. Dalam upaya promosi kepariwisataan daerah dan pelestarian nilai-nilai budaya tradisional daerah serta memeriahkan hari jadi Kuningan. Setiap tahun pada bulan september di selenggarakan Septonan dan Panahan Tradisional.
5. Kawin Cai
Upacara adata Kawin Cai merupakan tradisi Desa Babakan Mulya Kecamatan Jalaksana Kabupaten Kuningan untuk memohon air (hujan) untuk mengairi pertanian. Upacara kawin cai ini di laksanakn apabila terjadi kemarau berkepanjangan atau sangat sulit mendapatkan air antar bulan september. Dengan mengambil lokasi disumber mata air telaga balong Tirta Yarta pada malam jum'at Kliwon, pada pelaksanaannya selain dihadiri dan diikuti oleh pamong desa. Tokoh masyarakat desa setempat juga oleh masyarkat desa tetangga yang lahan pertaniannya terairi dari sumber mata air telaga/ balong Tirta Yarta. Selain berdoa, sesepuh desa mencampurkan air yang diambil dari mata air telaga Tirta Yarta dengan mata air Cikembulan (Cibulan). Ini lah yang dipake upacara ada Kawin Cai oleh masyarakat setempat yang intinya mengambul barokah dari dua sumber mata air tersebut.
6. Sintren
Sintren di daerah Kuningan ini tidak berbeda dengan dengan sintren yang ada di Cirebon. Di karenakan sejak tahun 1930 Sintren di bawa dari daerah Pesisir CIrebon oleh orang-orang urbanisasi dalam rangka buruh menuai padi pada musim panen di Kecamatan Cibinong.
7. Calung

Seni Calung adalah bentuk kesenian yang tumbuh dan berkembang di masyarakat tatar sunda, Kabupaten Kuningan.. Yang memiliki sumber daya alam dan sumber wisata budaya yang melimpah. Dalam perkembangannya seni calung terbagi kedalam dua jenis :
1. Seni Calung Tradisional
2. Seni Calung Modern
Seni Calung tradisional adalah seni Calung dengan memakai alat atau waditra yang masih sederhana. Sedangkan Seni Calung Modern adalah seni Calung yang sudah dimodifikasi baik dari waditra yang ada atau adanya penambahan waditra baru (modern) seperti : gitar, keyboard, dll.
Di masa sekarang, karena tuntutan mengikuti perkembangan zaman, pentas seni Calung harus dapat menyajikan sebuah seni pertunjukan yang kreatif dan inofatif. Sehingga pesan yang akan disampaikan menjadi komunikatif.
8. Reog Cengal

Seni Reog adalah bentuk kesenian yang tumbuh dan berkembang dimasyarakat pedesaan Tatar Pasundan, salah satunya di Kabupaten Kuningan dalam kurun waktu duapuluh tahun yang lalu Seni Reog keberadaanya sangat digemari oleh masyarakat ini semua dapat dilihat dalam penampilan pentas acara syukuran hajatan. Dimasa sekarang karena dengan tuntunan dan perubahan jaman Pentas Seni Reog mulai tergeser oleh jenis Seni lainya seperti Wayang golek, Jaipongan, Musik dangdut Film dan lain-lain. Dari kenyataan ini salah satu upaya penyelamatan dari kepunahan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kuningan selalu berupaya menampilkan jenis seni tersebut dalam acara Hari-Hari Besar Nasional atau even-even pentas yang diselenggarakan di Obyek-Obyek Wisata dan efen-efen pemerintah.
9. Pesta Dadung
Seperti lazimnya kesenian tradisional lainnya kesenian ini tumbuh dan berkembang secara turun temurun sejak abad ke XVIII. Kesenian ini lahir di kalangan Budak Angon (Pengembala) yang intinya mengadakan syukuran setelah panen menjelang musim tanam tiba, sekitar bulan September di desa legok herang subang kuningan. Dikatakan “Pesta Dadung” karena media yang digunakan dalam upacara yang sakral tersebut menggunakan Dadung (tali pengikat leher Kerbau atau Sapi yang terbuat dari injuk.
Tali dadung yang dijadikan pengikat munding atau kerbau di upacarakan diberi jampi jampi agar mendapat keberkahan terhadap ternak peliharaannya juga terhadap lahan pertaniannya. Setelah dadung pengikat kerbau diupacarakan dilanjutkan dengan pesta budak angon Dengan menggunakan dadung tambang yang besar yang dipergunakan sebagai symbol kebersamaan .Kemudian tambang dadung itu di ikutsertakan dalam upacara dan di pegang oleh jajaran aparat desa serta para budak angon dengan cara berputar . setelah itu dilanjutkan dengan hiburan ibingan tayuban dan ketuk tilu yang di sertai dengan beberapa penari ronggeng,Peralatan sesajen berupa tangtang angin, kopi pahit, gula, kemeyan, dll alat music yang digunakan berupa gamelan laras pelog yang sekarang diganti dengan laras salendro. Kesenian ini masih berkembang dan dilaksanakan setiap 2 sampai 3 tahun sekali disesuaikan dengan kemampuan suwadaya masyarakat setempat.
Sejarah Singkat Cingcowong berasal dari kata cing dan cowong. Kata cing dalam Kamus Bahasa Indonesia-Sunda, Sunda-Indonesia memiliki arti ya...
Tarian Cingcowong Kuningan (Tarian Meminta Hujan)

Sejarah Singkat
Cingcowong berasal dari kata cing dan cowong. Kata cing dalam Kamus Bahasa Indonesia-Sunda, Sunda-Indonesia memiliki arti yang sama dari kata cik, yang berarti coba dalam bahasa Indonesia. Kata cowong dalam bahasa Indonesia berarti biasa berbicara keras. Jadi dari segi bahasa Cingcowong memiliki arti biasa berbicara keras. Cingcowong berasal dari kata “cing” yang berarti “teguh” (dalam bahasa Indonesia artinya ‘terka’) dan “cowong” merupakan kependekan dari kata “wong” yang dalam bahasa Jawa berarti ‘orang’. Maka dengan demikian jika disatukan kata “cingcowong” tersebut memiliki arti: ” coba terka siapa orang ini”. Mengapa dinamakan demikian? karena bahasa yang dipakai sehari-hari oleh masyarakat Desa Luragung merupakan campuran antara bahasa Jawa dan bahasa Sunda karena desa ini merupakan desa terujung di Kabupaten Kuningan yang berbatasan dengan kabupaten Brebes di Jawa Tengah.
Peristiwa yang melatarbelakangi diselenggarakannya upacara ini adalah terjadinya kemarau panjang yang mengakibatkan kekeringan sehingga berdampak kepada penghasilan masyarakat yang mayoritas adalah petani. Hal ini sesuai dengan cerita yang dituturkan Nawita dan cerita lisan masyarakat Luragung pada umumnya bahwa kehadiran Cingcowong disebabkan oleh suatu keadaan yang mendesak dan darurat. Pada masa lalu di daerah Luragung terjadi kemarau yang panjang sehingga para petani menjadi resah. Sawah dan ladang para petani banyak yang gagal panen akibat dilanda kekeringan.
Pada situasi sulit tersebut, Rantasih yang merupakan leluhur Nawita mengajak kepada masyarakat sekitar untuk berusaha mengatasi keadaan yang dialami. Ia kemudian mengajak masyarakat untuk mencari sumber mata air, tetapi usahanya gagal karena masyarakat yang sudah terlanjur putus asa tidak bersedia memenuhi ajakannya. Dalam keadaan demikian Rantasih tidak berputus asa, ia tetap berupaya agar masyarakat mau mengikuti ajakannya, ia mempunyai keyakinan bahwa hujan akan cepat turun.
Pada saat Rantasih mengalami kesulitan mengumpulkan masyarakat untuk bersama-sama berdoa, muncul gagasan untuk memukul ceneng berulang kali hingga masyarakat berkumpul. Upaya tersebut ternyata cukup berhasil, ia kemudian menyampaikan petunjuk yang datang pada saat tirakat, yaitu dengan cara tidak makan, tidak minum, dan tidak tidur selama tiga hari tiga malam, bahwa cara meminta hujan adalah dengan melakukan upacara ritual melalui media cingcowong.
Deskripsi Singkat
Upacara ini dipimpin oleh seorang yang dinamakan punduh. Punduh adalah orang yang dianggap memiliki kemampuan khusus di bidang agama atau kepercayaan setempat yang diperolehnya karena inisiatif sendiri, dan dianggap memiliki kecakapan khusus untuk berhubungan dengan makhluk dan kekuatan supernatural. Sejak tahun 1981 sampai sekarang, upacara Cingcowong dikelola Nawita, cucu dari Rasih dan merupakan generasi keempat. Proses pewarisan punduh Cingcowong dilakukan secara turun temurun. Menurut Nawita, seorang punduh dipilih bukan karena kedekatan atau telah direncanakan terlebih dahulu tetapi berdasarkan panggilan batinnya atau atas dasar bisikan gaib. Kemudian calon punduh yang terpilih akan diwariskan mantera pemanggil hujan serta tata cara pemangggilan hujan. Calon punduh tersebut juga diwajibkan terlebih dahulu melakukan puasa sebelum ia dibekali dengan kemampuan menjalankan tradisi Cingcowong sebagai punduh.
Pertunjukan Cingcowong dipagelarkan oleh 6 orang yang memiliki tugas masing-masing, diantaranya: Punduh Ibu Nawita, beliau adalah satu-satunya punduh (kuncen) Cingcowong di Kabupaten Kuningan, Punduh merupakan pemimpin upacara Cingcowong yang dengan kemampuannya dipercaya masyarakat setempat dapat mendatangkan hujan melalui perantara boneka Cingcowong. Pembantu punduh yaitu Hj. Itit dan Nining Waskini mereka bertugas membantu punduh Nawita dalam memegang boneka cingcowong. Ibu warsinah memainkan alat musik berupa ‘buyung’, yang biasa dipakai sebagai alat penyimpan air terbuat dari tanah liat. Ibu Kaseh memainkan alat musik berupa ‘bokor’ atau ‘ceneng’ yang biasa dipakai sebagai vas bunga terbuat dari bahan tembaga/kuningan. Ibu Wartinah berperan sebagai Sinden.
Sedangkan peralatan yang biasa dipergunakan untuk upacara yaitu :
Taraje atau tangga yang terbuat dari bambu yang berfungsi untuk membawa atau menyambut turunya arwah lelembut atau dalam peribahasa untuk menyambut turunnya bidadari.
Samak atau tikar yang terbuat dari anyaman pandan, yang berfungsi sebagai alas tempat duduk pagelaran tersebut.
Sisir dipergunakan untuk menata rambut boneka Cingcowong pada saat upacara berlangsung.
Cermin yang difungsikan sebagai alat bagi punduh untuk memperlihatkan bentuk dan raut wajah boneka Cingcowong kepada para bidadari yang akan memasuki tubuh boneka Cingcowong.
Bunga kamboja yang dicampur dengan air yang dipergunakan sebagai saweran pada sesi terakhir upacara Cingcowong. Saweran bunga kamboja dengan air ini ditujukan sebagai media pemancin g turunnya hujan.
Boneka Cingcowong yang terbuat dari batok kelapa yang dilukis menjadi Putri cantik dengan badan terbuat dari rangkaian bambu yang diberi baju dan sampur (selendang) serta diberi kalung yang terbuat dari bunga kamboja.
Selain alat utama prosesi upacara Cingcowong, terdapat pula alat-alat pengiring yang berfungsi sebagai alat musik pada pagelaran Cingcowong, diantaranya :
Jambangan yang terbuat dari kuningan (bokor/ceneng),
Tempayan (buyung) yang terbuat dari tanah liat untuk pengatur irama yang dipukul dengan kipas yang terbuat dari anyaman bambu.
Ruas bambu sepanjang kurang lebih 20 cm dengan diameter kurang lebih 1 cm yang pergunakan untuk memukul ceneng kuningan untuk mengiringi irama buyung.
Hihid atau kipas dari anyaman bambu merupakan yang dipergunakan untuk memberikan efek suara pada buyung.
Pertunjukan upacara Cingcowong tidak dapat dilepaskan dari tahap persiapan ritualnya. Berikut ini dipaparkan tahapan persiapan yang harus dilakukan oleh seorang Punduh sebelum dilaksanakannya upacara Cingcowong.
boneka didandani dengan cara mendandani dan memoles kembali boneka dan mengenakan rarangken atau asesoris berupa kalung yang terbuat dari untaian bunga kemboja serta mengenakan baju model kebaya warna kuning dan melilitkan sabuk dari kain katun warna putih, juga mengenakan anting-anting di bagian telinganya.
mempersiapkan aneka sesajen yang terdiri dari: parukuyan lengkap dengan kemenyan, telur asin, tumpeng kecil atau biasa disebut congcot, cerutu, gula batu aneka penganan kue, kembang rampe tujuh warna, dan lain-lain seperti yang sudah dikemukakan di atas.
membawa boneka Cingcowong dan aneka sesajen ke parit (comberan) terdekat dan menyimpannya di tepi comberan tersebut selama satu malam. Dengan mengucapkan sejumlah mantra-mantra untuk memanggil belis (jurig) jarian dan belis (jurig) comberan, di dalam comberan tersebut punduh kemudian meminta para halus tersebut untuk masuk ke dalam boneka c
menyediakan peralatan yang akan digunakan pada waktu upacara, seperti: taraje (tangga yang terbuat dari bambu), tikar, ember berisi air bunga rampai tujuh macam, kaca atau cermin kecil, sisir dan kemenyan beserta anglo untuk membakar kemenyan tesebut. Seluruh peralatan ini kemudian dikumpulkan di tempat yang aman di dalam rumah.
Nawita melakukan puasa selama tiga hari atau minimal satu hari sebelum upacara dilaksanakan.
Tahap Pelaksanaan Upacara Cingcowong
Para penabuh alat memainkan alatnya yaitu ibu Warsinah memukul-mukul buyungnya dengan menggunakan hihid atau kipas yang terbuat dari anyaman bambu, dan ibu Kaseh memukul-mukul bokor dengan menggunakan dua buah ruas kayu sepanjang masing-masing 40 cm, mengiringi sinden yang bernyanyi. Adapun lagu Cingcowong sebagai berikut:
Cingcowong-cingcowong
Bil guna bil lembayu
Shalala lala lenggut
Lenggute anggedani
Aya panganten anyar
Aya panganten anyar
Lili lili pring
Denok simpring ngaliro
Mas borojol gedog
Mas borojol gedog
Lilir guling gulinge sukma katon
Gelang-gelang layone
Layoni putra maukung
Maukung mangundang dewa
Anging Dewa anging sukma
Bidadari lagi teka
Bidadari lagi teka
Jak rujak ranti
kami junjang kami loko
Pajulo-julo
temu bumiring mandiloko
Di tengah ruangan Nawita memangku boneka masuk arena dan berjalan diantara anak taraje diikuti oleh Itit dan Waskini secara beriringan dari ujung awal sampai ujung akhir taraje bolak balik selama tiga kali. Kemudian Nawita duduk ditengah-tengah tangga sambil tetap memangku boneka. wajah boneka Cingcowong diperlihatkan ke arah cermin kecil yang dipegangi oleh Waskini yang duduk menghadapi boneka sambil memegangi sabuk yang dikenakan boneka. Setelah selesai memperlihatkan muka boneka melalui kaca, selanjutnya Nawita memegang sisir yang digerakkan di atas kepala boneka seolah-olah sedang menyisiri rambut.
Di sampingnya duduk Itit sambil ikut memegangi sabuk yang dikenakan boneka karena boneka sudah mulai bergerak mengikuti alunan lagu, semakin lama boneka semakin bergerak ke arah kanan, kiri dan ke depan seperti tidak terkendali, tetapi tetap dipegang oleh ketiga orang tersebut. Boneka Cingcowong ini mulai bergerak setelah kalimat terakhir dari lagu tersebut diucapkan.
Boneka ini selain bergerak bisa juga mengejar penonton yang tidak percaya bahwa Cingcowong tersebut telah dirasuki arwah lelembut, bahkan bisa juga mengejar-ngejar karena suka pada seseorang dan pada orang-orang yang mengolok-oloknya dengan kata-kata: “Cingcowong cingcowong, hulu canting awak bubu”(Cingcowong cingcowong kepala canting badan bubu). Kemudian air dan bunga kemboja yang telah dipersiapkan dalam wadah diciprat-cipratkan kepada para penonton sambil mengucapkan kata-kata :
Hujan…
Hujan…
Hujan….
Upacara seren taun adalah ungkapan syukur dan do’a masyarakat sunda atas suka duka yang mereka alami terutama di bidang pertanian s...
SEREN TAUN
Semoga di tahun-tahun yang akan datang hal ini dapat dimanfaatkan sebagai ajang peningkatan ekonomi masyarakat dan juga meningkatkan dunia pariwisata masyarakat Kabupaten Kuningan. ( Bagian Humas Setda Kabupaten Kuningan).
Negara Indonesia dikenal oleh dunia sebagai sebuah Negara yang memiiki berbagai jenis dan ragam budaya. Satu dari dari puluhan kekayaan bud...
TARI BUYUNG KUNINGAN JAWA BARAT

Negara Indonesia dikenal oleh dunia sebagai sebuah Negara yang memiiki berbagai jenis dan ragam budaya. Satu dari dari puluhan kekayaan budaya yang dimiiki Indonesia adalah tarian tradisional. Setiap daerah dan suku pasti mempunyai bentuk dan model tarian dengan ciri khasnya tersendiri tak terkecuali tari Buyung. Dan dengan ribuan jumlah suku yang terdapat di Negara Indonesia , maka sebanyak itu pulalah tari traditional daerah yang dapat kalian jumpai.
Tari Buyung adalah tarian tradisional masyarakat Cigugur Kuningan Jawa Barat. Tarian ini merupakan tarian adat yang bernilai simbolik tentang rasa syukur manusia atas rahmat Tuhan berupa alam semesta yang indah dan bermanfaat bagi hidup manusia, salah satunya adalah air.Biasanya tarian ini biasa dilakukan oleh masyarakat Cigugur, Kuningan, Cirebon saat Upacara Seren Taun yang diadakan pada bulan Rayagung pada penanggalan Jawa.Setiap gerakan dalam tari Buyung memiliki makna yang tersirat. Menginjak kendi sambil membawa buyung di kepala (nyuhun) erat relevansinya dengan ungkapan “di mana bumi di pijak di situ langit dijunjung”.
Buyung adalah sejenis alat yang terbuat dari logam maupun tanah liat yang digunakan oleh sebagian wanita desa pada zaman dulu untuk mengambil air di sungai, danau, mata air, atau di kolam.Membawa buyung di atas kepala sangat memerlukan keseimbangan. Hal ini berarti bahwa dalam kehidupan ini perlu adanya keseimbangan antara perasaan dan pikiran. Pergelaran tari buyung dengan formasi Jala Sutra, Nyakra Bumi, Bale Bandung, Medang Kamulan, dan Nugu Telu memiliki makna yang menyiratkan bahwa masyarakat petani Sunda adalah masyarakat yang religius. Tuhan diyakini sebagai Causa Prima dari segala asal-usul sumber hidup dan kehidupan. Sementara manusia merupakan mahluk penghuni bumi yang paling sempurna di antara mahluk-mahluk ciptaan Tuhan lainnya.
Alam penuh dengan energi. Alam selalu bereaksi dengan tingkah laku manusia, dan ikut mempengaruhi karakter manusia. Eksistensi dalam alam makrokosmos dilihat sebagai sesuatu yang tersusun secara hierarkis. Sehingga, secara moral manusia dituntut untuk menyelaraskan hidupnya dengan alam, yaitu antara mikrokosmos (manusia) dan makrokosmos (alam raya) untuk membuahkan kesadaran mengenai penghayatan iman terhadap keagungan Tuhan Sang Maha Pencipta. Dalam tarian itu, manusia diajak untuk lebih dekat dengan alam dan mencintainya sebagai sahabat yang harus terus berjalan bersama. Tarian ini ditampilkan saat upacara Seren Taun yakni upacara syukur atas Kemurahan Tuhan di masyarakat Cigugur.
Seren Taun juga dilaksanakan sebagai penghormatan kepada Dewi Sri atau Dewi Padi yang memberikan kesuburan bagi para petani.Karena daerah ini merupakan daerah agraris, maka masyarakat Cigugur mengadakan upacara syukuran atas hasil bumi yang diperoleh. Acara syukuran atas hasil bumi ini lebih dikenal dengan istilah Seren Taun. Seren Taun merupakan gelar budaya tradisional yang sering dilaksanakan oleh masyarakat agraris Sunda.
Dalam penyelengaraan Seren Taun karena masih berhubungan dengan agraris maka bahan-bahan seperti buah-buahan, umbi-umbian, padi, dan hewan yang merupakan bahan vital penunjang kegiatan.Lalu dalam ritus kegiatannya dalam formasi barisan pada pelaksanaan upacara Seren Taun terdiri dari barisan muda-mudi, ibu-ibu, bapak-bapak, dan rombongan kesenian yang diantaranya: tari buyung anglung buncis dari Baduy, angklung buncis dan dan dog-dog di sertai umbul-umbul.
Untuk melakukan tarian ini tentu saja properti menjadi salah satu hal yang tidak boleh terlepas karena, merupakan unsur yang sangat penting dalam tari Buyung. Beberapa taran daerah mugkin memang tidak membutukan properti, namun beberapa tarian lainnya bahkan menamai tarian daerah mereka sesuai dengan nama properti yang dikenakan contohnya saja seperti tari piring, tari topeng dan lain-lain.
Seperti yang telah kita ketahui, properti tari adalah segala bentuk perlengkapan yang digunakan selain kostum, yang digunakan sebagai perlengkapan dalam sebuah tarian tradisional ataupun jenis lain. Setiap daerah pasti memiliki adat istiaddat dan ciri kas tertentu, yang mana kemudian ciri khas tersebutlah yang menjadi atau memberi pengaruh besar terhadap gerak dan properti tari yang dikenakannya.
Ada pula alat musik yang digunakan dalam Tari Buyung ini yaitu :
1. Kecapi Rincik
Kecapi Rincik yaitu kecapi berukuran kecil yang bentuknya hampir sama dengan Kecapi Indung. Rincik mempunyai arti yang berarti kecil.
2. Gendang
Kendang, kendhang, atau biasa disebut juga dengan gendang merupakan alat musik yang dimainkan dengan cara di pukul. Biasa dimainkan dengan tangan atau dengan alat pemukul gendang.
3. Seruling
Seruling merupakan alat musik tiup yang pada umumnya di Indonesia terbuat dari bambu. Seiring perkembangannya jaman alat musik seruling tidak hanya terbuat dari bambu saja, namun juga terbuat dari bahan-bahan seperti perak dan emas.
4. Gong
Gong adalah alat musik tradisional yang berasal dari Vietnam. Gong merupakan sebuah alat musik pukul yang terkenal di Asia Tenggara dan Asia Timur. Gong juga merupakan salah satu alat musik tradisional. Alat musik ini terbuat dari leburan logam seperti perunggu dengan tembaga dengan permukaan yang bundar (dengan atau tanpa Pencu).
5. Kecapi Indung
Kecapi Indung merupakan kecapi yang memiliki atau mempunyai ukuran bentuk paling besar dibandingkan dengan ukuran kecapi lainnya.
Ada pula alat tari yang digunakan pada Tari Buyung:
1. Buyung
Buyung merupakan alat yang terbuat dari logam atau tanah liat yang di gunakan oleh warga pada zaman dulu untuk mengambil air di sungai di danau dan sebagainya.
2. Kendi
Kendi adalah tempat untuk menyimpan air berbentuk seperti teko yang terbuat dari tanah liat.
Ada pula pakaian yang digunakan pada Tari Buyung:
1. Apok
Apok adalah pakaian dari kain songket.
2. Kebaya
Kebaya adalah blus tradisional yang dikenakan oleh wanita Indonesia yang terbuat dari bahan tipis yang dikenakan dengan sarung, batik, atau pakaian rajutan tradisional lainnya seperti songket dengan motif warna-warni.
3. Gelang
Gelang adalah sebuah perhiasan melingkar yang diselipkan atau dikaitkan pada pergelangan tangan seseorang. Gelang yang melingkar pada pergelangan kaki disebut gelang kaki.
4. Ikat Pinggang
Ikat pinggang atau sabuk ialah pita fleksibel, biasanya terbuat dari kulit atau pakaian keras, dan dikenakan di sekitar pinggang. Ikat pinggang berfungsi mengikat celana atau bahan pakaian.
5. Selendang
Selendang adalah pakaian tradisional inonesia yang berbentuk kain panjang.
6. Samping
Samping adalah kain yang bercorak yang digunakan masyarakat hususnya masyarakat Sunda. Samping berbentuk seperti kain yang memanjang tanpa jahitan yang membentuk, samping juga becorak, biasanya bercorak batik.
7. Sobrah
Sobrah adalah rambut palsu yang digunakan si penari.
Nah itu adalah bebrapa hal mengenai tari buyung, Tari Buyung adalah wujud dari kebudayaan Indonesia yang wajib dilestarikan dan dijaga sebelum diklaim oleh bangsa lain. Maka dari itu kita sebagaii geneasi penerus bangsa harus mulai menjaga tarian-tarian seperti Tari Buyung dengan mementaskan di acara-acara dan disetiap kesempatan yang ada seperti perlombaan hari kemerdekaan dan mengadakan pementasan sebagai hiburan terhadap masyarakat Indonesia.



Follow Us
Were this world an endless plain, and by sailing eastward we could for ever reach new distances