Tampilkan postingan dengan label tradisional. Tampilkan semua postingan

  K ecapapian merupakan bentuk kesenian yang menggunakan kecapi sebagaiwaditra utama. Di Majalengka tumbuh berbagai ragam bentuk ben...

 
Kecapapian merupakan bentuk kesenian yang menggunakan kecapi sebagaiwaditra utama. Di Majalengka tumbuh berbagai ragam bentuk bentuk seni kecapian, antara lain Kecapi Suling, Kecapi Cemplungan, Kecapi Jejaka Sunda, Kecapi Pantun, dan Kecapi Kalaborasi. Berikut disajikan deskripsi tentang keenam ragam seni kecapian tersebut.

1. Kecapi Suling
Kecapi suling yang berkembang di Majalengka terdiri atas Kecapi tembang dan Kecapi Kawih.
1. Kecapi Tembang
Kecapi suling merupakan bentuk kesenian yang memadukan waditra suling. Fungsi kecapi dan suling pada kesenian ini adalah sebagai pengiring lagu-lagu berbentuk tembang dan kawih.
Seni kecapi suling yang mengiringi tembang dikenal dengan Tembang Sunda,. Pada kesenian ini, terdapat dua buah kecapi sebagai pengiring, yaitu kecapi indung dan kecapi rincik. Biasanya kecapi indung disebut juga kecapi perahu sebab bentuknya seperti perahu. Kadang-kadang disebut jugakecapi gelung karena pada kedua ujungnya berbentuk gelung wayang (mahkota). Jumlah kecapi indung ada 18 yang terbuat dari bahan kuningan. Sedangkan suling yang dipergunakan dalam tembang sundaadalah suling berlubang enam yang dapat berfungsi menghasilkan beberapa laras, seperti pelog, madenda (sorog), dan salendro. Khusus untuk tembang yang berlaras salendro biasanya rebab digunakan untuk menggantikan fungsi suling.
Pemain kecapi suling pada tembang sunda terdiri atas seorang pemain kecapi indung, seorang pemain kecapi rincik, seorang peniup suling, dan juru mamaos baik wanita maupun pria. Lagu-lagu atau tembang yang dibawakan dalam tembang sundaterdiri atas empat golonganlagu, yaitu Rarancagan, Papantunan, dedegungan, dan Jejemplangan. Keempat golongan lagu itu termasuk kedalam sekar irama merdika yaitu lagu yang tidak terikat birama. Untuk melangkapi penyajian tembang irama merdika tersebut, biasanya disajikan penambih (lagu tambahan) berupa kawih. Kawih yang disajikan sebagai penambih ini berbentuk sekar tandak, yaitu lagu yang terikat birama, sehingga iringannya terdengar beraturan.
Para pemain kecapi seling tembang sunda berpakaian taqwa dengan warna seragam, memakai bendo, dan berkain panjang. Sedangkan juru mamaos wanita mengenakan kebaya dengan sanggul dan hiasan lainnya.
Di Majalengka tembang sunda dikembangkan oleh para seniman yang pernah mendapat pendidikan tembang sunda dari daerah periangan, baik melalui penataran atau pelatihan, maupun melalui pendidikan sekolah (SMK dan STSI). Tokoh-tokoh seniman yang berjasa mengembangkan tembang sunda diwilayah Majalengka antara lain Samsuri, E. Kusnadi, Oyo Suharja, Amin Choeruman, dan Soni Supriatna. Walaupun tidak melalui pendidikan khusus, di majalengka lahir beberapa orang juru mamaos wanita yang turut meramaikan khasanah tembang sunda, antara lain Titin Supartini, Tati, Lia Marliani, dll.
2. Kecapi Kawih
Kawih adalah bentuk karawitan sekar (vokal) yang terikat oleh birama atau ketukan. Kecapi untuk mengiringi kawih berbeda dengan kecapi pengiring tembang. Kecapi yang digunakan untuk mengiringi kawih ini adalah kecapi siter dengan julah kawat 20. Biasanya menggunakan satu atau dua buah kecapi. Jjika menggunakan dua buah kecapi, salah satu di antaranya berfungsi sebagai kecapi indung dan yang lainnya sebagai rincik. Suling pada kecapi kawih ini berfungsi sebagai lilitan lagu yang kadang-kadang tempatnya digantikan oleh rebab sesuai dengan kebutuhan lagu. Vokalis pada kesenian ini disebut juru sekar atau juru kawih.
Kesenian ini biasanya tampil menghibur dalam berbagai acara, baik acara seremonial biasa maupun acara-acara hajatan. Hingga saat ini dikenal beberapa pelaku seni kecapi kawih yang andal di Majalengka, di antaranya E. Kusnadi, Oyo suharja, Wasman Rukmana, Daryono, Risnandar, Soni Supriatna (suling dan rebab), Aceng Hidayat (suling), Dede Carmo, Rasma Sudrajat, dan Dadang.
Kesenian kecapi kawih saat ini juga dikembangkan melalui media radio, yaitu melalui siaran Haleuang Pasundan di Radika 100,3 FM Majalengka oleh Group Panghegar. Kelompok seni kawih lainnya antara lain Manik mekar Saputra (Cigasong), tandang Midang (Munjul), dan Kania Setra (Maja).

2. Kecapi Cemplungan
Waditra yang digunakan pada kecapi cemplungan bukan hanya kecapi dan suling, akan tetapi ditambah dengan waditra lain lain sepeti gendang dan gong. Penyajian musik pada jenis kesenian ini terasa lebih lengkap karena beberapa waditra yang berneda dibunyikan dalam suatu sajian yang harmonis. Lagu-lagu yang dibawakan adalah sekar tandak atau kawih. Pada kecapi cemplungan ini, rebab lebih banyak difunsikan jika lagu-lagu dibawakan dalam laras salendro. Untuk menambah daya tarik kepada penonton, penyajian kecapi cemplungan kadang-kadang ditambah pula dengan penari jaipongan, karena musik yang dibawakan melalui kecapi cemplungan memungkinkan tampilnya penari jaipongan melalui lagu-lagu yang selaras.
Group-group kesenian yang siap menampilakan seni cemplungan antara lain Manik Mekar Saputra, Sanggar Panghegar, Tandang Midang, dan Kania Setra.

3. Kecapi Jejaka Sunda
Kecapi jejaka sunda merupakan jenis seni kecapian yang menyajikan lagu-lagu yang jenaka atau luca dalam irama bebas. Jenis kecapian yang digunakan adalah kecapi siter. Pelakunya tediri atas seorang pemain kecapi yang berpera juga sebagai penyanyi ditambah dengan seorang atau dua orang pemain yang semuanya memiliki kemampuan lagu-lagu jenaka.
Kecapi jenaka sunda di Majalengka dikembangkan pada waktu kelompok kesenian PG Kadipaten (tahun 1970-an) masih aktif, dengan seorang dalangnya yang kreatif yaitu Edi Jubaedi. Pemain lainnya yang terkenal adalah Abah Duleh, Abah Bontot, Mang Uu Wahyu, dan Mang Pentil. Generasi berikutnya adalah Karjo, Iwan Abok, Casma (Mang Cemeng), Ikin Sodikin (Mang jangkung).
Pada saat sekarang, kecapi jenaka sunda meskipun jerang sekali ditampilkan dapat dipesan melalaui group Mustika Budaya (Cigasong) dan Tandansg Midang (Munjul).

4. Kecapi Pantun
Kecapi Pantun merupakan sajian kecapian sebagai mendia pengantar atau pengiring ketika sang juru pantun membawa cerita. Pengertian pantun secara harfiah menurut Saleh Danasasmita adalah  “ cerita, balada, dongeng atau sejarah masa silam, umumnya mengenai kerajaan Pajajaran (dibawakan dengan nyanyian, diiringi tarawangsa atau kecapi). (Saleh, 1974). Sedangkan menurut para juru pantun merupakan wancahan atau singkatan dari kata papan nu jadi panungtun. Artinya melalui cerita pantun penonton atau pendengar mendapat tutunan hidup.
Kesenian pantun merupakan jenis kesenian yang didukung oleh unsure-unsur seni sastra dan karawitan. Unsur sastra tampak pada cerita pantun yang dibawakan. Cerita pantun yang semula hanya merupakan cerita lisan. Sekarang sudah banyak yang ditulis berupa buku. Unsur seni karawitan tampak pada iringan widatra kecapi yang dipetik selama pertunjukan pantun dilaksanakan.
Karakteristik penyajian pantun secara tradisional adalah :
1.      Pelaku kesenian ini hanya 1 orang.
2.      sebelum pergelaran dilakukan upacara berupa penyiapan sesajen (sesaji) dan membaca mantra oleh juru pantun sambil membakar kemenyan.
3.      kecapi yang digunakan adalah kecapi indung, atau kecapi biasa dengan jumlah kawat 18 buah.
4.      hingga sekarang masih dianggap sebagai kesenian yang sakral.
Karakteristik pertama bahwa pelaku pantun hanya 1 orang, ini senada dengan penuturan Ajip Rosidi (1983 32) bahwa di daerah Cirebon peruntunjukan pantun hanya dilakukan oleh seorang juru pantun, tanpa teman main lainnya. Namun kenyataan kemudian menunjukkan bahwa upaya survive agar pantun tetap digemari maka pada kesenian ini ditambahkan waditra lain, seperti piul (biola), seorang sinden, dan bahkan gamelan, sehingga pertunjukan pantun tidak ubahnya pertunjukan wayang catur (cerita wayang tanpa wayang) (Ajip Rosidi, 1983 33).
Sesuai dengan jiwa sakralitas yang diusungnya, kesenian pantun selain dipertunjukkan untuk keperluan tontonan, digunakan juga untuk keperluan ruwatan. Tatakrama ruwatan dan kelengkapan Iainnya tidak berbeda dengan acara ruwatan yang dilaksanakan menggunakan kesenian wayang (golek maupun kulit).
Pada umumnya, alur cerita dimulai dengan Rajah Pamuka, diteruskan dengan mangkat carita, nataan karajaan dan para tokoh cerita, selanjutnya bercerita. Pada akhir cerita ditutup dengan melantunkan lagu Rajah Pamunah atau Rajah Penutup.
Cerita-cerita pantun yang terkenal antara lain Mundinglaya Di Kusumah, Lutung Kasarung, Ciung Wanara, Nyi Sumur Bandung, Jaran Sari, Raden Deudeug Pati Jaya Perang, Panggung Karaton, Demung Kalagan, Nyi Pohaci Sanghiang Sri, dll.
Tokoh-tokoh atau jurupantun terkenal dari Majalengka adalah
1.      Saein dari Kelurahan Tonjong;
2.      Sidik dari Bantarjati;
3.      Warwa dari Desa Jatitujuh;
4.      Maun dari Pasir
5.      Nadi dari Desa Kutamanggu;
6.      Baedi dari Desa Kadipaten;
7.      Kusma dari Desa Kadipaten;
8.      Cecep dari Desa Waringin;
9.      Rasim dari Desa Mandapa;
10.  Iwan Ompong dari Desa Bojong Cideres.
Dari kesepuluh orang jurupantun di atas, yang masih hidup adalah Cecep, Rasim, dan Iwan Ompong. Ketiganya sudah berusia cukup lanjut. Karena itu perlu ada upaya regenerasi agar kesenian ini tidak mengalami kepunahan.

5. Kecapi Kolaborasi
Kecapi kolaborasi dikembangkan oleh para seniman muda Majalengka seperti Oyo Suharja dan kawan-kawan. Pada kesenian ini waditra yang digunakan adalah, kecapi siter, gitar akustik, cuk, gitar bas, biota, ruling, gendang, dan gong. Jumlah pernain musik yang, terlibat di dalamnya mencapai
sepuluh orang, yang masing-masing memegang alat musik y.iii{j berbeda. Lagu-lagu yang dibawakan adalah lagu-lagu kowlli Sunda, lagu-lagu pop Sunda, dan bahkan mampu mengiriiigi
lagu-lagu Indonesia Populer.
Di dalam penyajiannya, para pemusik tidak duduk bersila sebagaimana kesenian Sunda lainnya. Kecapi yang digunakan disimpan di atas sebuah standar sehingga pemain
kecapi dapat memainkannya sambil duduk di atas kursi. Demikian pula dengan, pemain musik lainnya. Jumlah penyanyi atau juru sekar pada kesenian ini dapat lebih dari satu orang.

Kuningan merupakan salah satu Kabupaten yang ada di Jawa Barat, bertetanggaan dengan Kabupaten Cirebon. Kabupaten Kuningan terletak persis d...

Kuningan merupakan salah satu Kabupaten yang ada di Jawa Barat, bertetanggaan dengan Kabupaten Cirebon. Kabupaten Kuningan terletak persis di sekitar kaki Gunung Ciremai yang merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat. Dengan ketinggian kurang lebih 3078 m di atas permukaan laut. Sebagai kabupatenyang terletak di bawah kaki gunung, Kuningan tentunya memiliki suasana udara yang cukup sejuk, dikelilingi oleh pemandangan indah dengan hamparan pesawahan. Sebagaimana daerah lain, Kuningan juga memiliki budaya-budaya asli daerahnya, seperti berikut ini :

1. Upacara Saren Taun



Saren Taun merupakan kata dalam bahasa sunda, yaitu saren yang artinya serah, seserahan, atau menyerahkan, dan taun yang berarti tahun. Jadi Seren Taun bermakna serah terima tahun yang lalu ke tahun yang akan datang sebagai penggantinya. Dalam konteks kehidupan tradisi masyarakat sunda, seren taun merupakan wahana untuk bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala hasil pertanian yang dilaksanakan pada tahun ini, seraya berharap hasil pertanian mereka akan meningkat di tahun yang akan datang,

Di Kuningan sendiri upacara ini biasanya di lakukan oleh penduduk desa Cigugur Kecamatan Cigugur Kabupaten Kuningan, namun berdasarkan sumber ternyata upacara ini tidak hanya dilakukan di desa tersebut saja, melainkan juga dilakukan di Desa Ciptagelar, Cisolok Kabupaten Sukabumi. Selain itu juga dilakukan di Desa Pasir Eurih Bogor, Desa Kenekes Lebak Banten dan juga Kampung Naga Tasikmalaya.

2. Tari Buyung



Tari Buyung merupakan tarian khas masyarakat Cigugur Kabupaten Kuningan. Tari Buyung ini memiliki keterkaitan erat dengan upacara seren taun. Hal ini karena tarian ini merupakan tarian utama dalam upacara seren taun di Desa Cigugur Kuningan Jawa Barat. Tarian ini menceritakan tentang gadis-gadis desa Cigugur yang sedang mengambil air ke sungai.

3. Tari Cingcowong



Cingcowong pada zaman dulu merupakan salah satu upacara ritual untuk meminta hujan. Upacara ini dilakukan pada saat musim kemarau panjang. Tradisi awal Cingcowong atau upacara ritual ini dipercaya masyarakat, khususnya Kecamatan Luragung Kabupaten Kuningan. Setiap datang kemarau upacara ritual Cingcowong selalu dilaksanakan agar laha pertanian mereka terhindar dari kemarau dan segera turun hujan.

Saat ini untuk melestarikan Cingcowong, Dinas Pariwisata Kebudayaan Kabupaten Kuningan mencoba satu tarian ini ahar tidak menjadi punah. Pada pertunjukannya yaitu Cingcowong tidak lagi sebagai seni ritual, akan tetapi sudah dikembangkan dan diangkat menjadi seni pertunjukan dengan perkembangan zaman. Sampai sekarang tari Cingcowong berkembang dan sering ditampilkan pada acara-acara seremonial baik kebutuhan menyambut pemerintah ataupun hiburan lainny

4. Sapton dan Panahan Tradisional




Secara etimologi dan historis, bahwa kegiatan Sapton dan Panahan Tradisional adalah acara rutin setiap hari sabtu setelah kegiatan serba raga (sidang) yang dilaksanakan disekitar Istana Kerajaan Kajene (Kuningan), dan mempunyai makna yang dalam seperti, heroisme, ketangkasan berkuda dan panahan dalam bela negara serta kebersamaan antara pemerintah dan rakyatnya. Dalam upaya promosi kepariwisataan daerah dan pelestarian nilai-nilai budaya tradisional daerah serta memeriahkan hari jadi Kuningan. Setiap tahun pada bulan september di selenggarakan Septonan dan Panahan Tradisional.

5. Kawin Cai



Upacara adata Kawin Cai merupakan tradisi Desa Babakan Mulya Kecamatan Jalaksana Kabupaten Kuningan untuk memohon air (hujan) untuk mengairi pertanian. Upacara kawin cai ini di laksanakn apabila terjadi kemarau berkepanjangan atau sangat sulit mendapatkan air antar bulan september. Dengan mengambil lokasi disumber mata air telaga balong Tirta Yarta pada malam jum'at Kliwon, pada pelaksanaannya selain dihadiri dan diikuti oleh pamong desa. Tokoh masyarakat desa setempat juga oleh masyarkat desa tetangga yang lahan pertaniannya terairi dari sumber mata air telaga/ balong Tirta Yarta. Selain berdoa, sesepuh desa mencampurkan air yang diambil dari mata air telaga Tirta Yarta dengan mata air Cikembulan (Cibulan). Ini lah yang dipake upacara ada Kawin Cai oleh masyarakat setempat yang intinya mengambul barokah dari dua sumber mata air tersebut.

6. Sintren



Sintren di daerah Kuningan ini tidak berbeda dengan dengan sintren yang ada di Cirebon. Di karenakan sejak tahun 1930 Sintren di bawa dari daerah Pesisir CIrebon oleh orang-orang urbanisasi dalam rangka buruh menuai padi pada musim panen di Kecamatan Cibinong.

7. Calung



Seni Calung adalah bentuk kesenian yang tumbuh dan berkembang di masyarakat tatar sunda, Kabupaten Kuningan.. Yang memiliki sumber daya alam dan sumber wisata budaya yang melimpah. Dalam perkembangannya seni calung terbagi kedalam dua jenis :
1. Seni Calung Tradisional
2. Seni Calung Modern
Seni Calung tradisional adalah seni Calung dengan memakai alat atau waditra yang masih sederhana. Sedangkan Seni Calung Modern adalah seni Calung yang sudah dimodifikasi baik dari waditra yang ada atau adanya penambahan waditra baru (modern) seperti : gitar, keyboard, dll.
Di masa sekarang, karena tuntutan mengikuti perkembangan zaman, pentas seni Calung harus dapat menyajikan sebuah seni pertunjukan yang kreatif dan inofatif. Sehingga pesan yang akan disampaikan menjadi komunikatif.

8. Reog Cengal



Seni Reog adalah bentuk kesenian yang tumbuh dan berkembang dimasyarakat pedesaan Tatar Pasundan, salah satunya di Kabupaten Kuningan dalam kurun waktu duapuluh tahun yang lalu Seni Reog keberadaanya sangat digemari oleh masyarakat ini semua dapat dilihat dalam penampilan pentas acara syukuran hajatan. Dimasa sekarang karena dengan tuntunan dan perubahan jaman Pentas Seni Reog mulai tergeser oleh jenis Seni lainya seperti Wayang golek, Jaipongan, Musik dangdut Film dan lain-lain. Dari kenyataan ini salah satu upaya penyelamatan dari kepunahan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kuningan selalu berupaya menampilkan jenis seni tersebut dalam acara Hari-Hari Besar Nasional atau even-even pentas yang diselenggarakan di Obyek-Obyek Wisata dan efen-efen pemerintah.

9. Pesta Dadung



Seperti lazimnya kesenian tradisional lainnya kesenian ini tumbuh dan berkembang secara turun temurun sejak abad ke XVIII. Kesenian ini lahir di kalangan Budak Angon (Pengembala) yang intinya mengadakan syukuran setelah panen menjelang musim tanam tiba, sekitar bulan September di desa legok herang subang kuningan. Dikatakan “Pesta Dadung” karena media yang digunakan dalam upacara yang sakral tersebut menggunakan Dadung (tali pengikat leher Kerbau atau Sapi yang terbuat dari injuk.

Tali dadung yang dijadikan pengikat munding atau kerbau di upacarakan diberi jampi jampi agar mendapat keberkahan terhadap ternak peliharaannya juga terhadap lahan pertaniannya. Setelah dadung pengikat kerbau diupacarakan dilanjutkan dengan pesta budak angon Dengan menggunakan dadung tambang yang besar yang dipergunakan sebagai symbol kebersamaan .Kemudian tambang dadung itu di ikutsertakan dalam upacara dan di pegang oleh jajaran aparat desa serta para budak angon dengan cara berputar . setelah itu dilanjutkan dengan hiburan ibingan tayuban dan ketuk tilu yang di sertai dengan beberapa penari ronggeng,Peralatan sesajen berupa tangtang angin, kopi pahit, gula, kemeyan, dll alat music yang digunakan berupa gamelan laras pelog yang sekarang diganti dengan laras salendro. Kesenian ini masih berkembang dan dilaksanakan setiap 2 sampai 3 tahun sekali disesuaikan dengan kemampuan suwadaya masyarakat setempat.










Negara Indonesia dikenal oleh dunia sebagai sebuah Negara yang memiiki berbagai jenis dan ragam budaya. Satu dari dari puluhan kekayaan bud...




Negara Indonesia dikenal oleh dunia sebagai sebuah Negara yang memiiki berbagai jenis dan ragam budaya. Satu dari dari puluhan kekayaan budaya yang dimiiki Indonesia adalah tarian tradisional. Setiap daerah dan suku pasti mempunyai bentuk dan model tarian dengan ciri khasnya tersendiri tak terkecuali tari Buyung. Dan dengan ribuan jumlah suku yang terdapat di Negara Indonesia , maka sebanyak itu pulalah tari traditional daerah yang dapat kalian jumpai.

Tari Buyung adalah tarian tradisional masyarakat Cigugur Kuningan Jawa Barat. Tarian ini merupakan tarian adat yang bernilai simbolik tentang rasa syukur manusia atas rahmat Tuhan berupa alam semesta yang indah dan bermanfaat bagi hidup manusia, salah satunya adalah air.Biasanya tarian ini biasa dilakukan oleh masyarakat Cigugur, Kuningan, Cirebon saat Upacara Seren Taun yang diadakan pada bulan Rayagung pada penanggalan Jawa.Setiap gerakan dalam tari Buyung memiliki makna yang tersirat. Menginjak kendi sambil membawa buyung di kepala (nyuhun) erat relevansinya dengan ungkapan “di mana bumi di pijak di situ langit dijunjung”.

Buyung adalah sejenis alat yang terbuat dari logam maupun tanah liat yang digunakan oleh sebagian wanita desa pada zaman dulu untuk mengambil air di sungai, danau, mata air, atau di kolam.Membawa buyung di atas kepala sangat memerlukan keseimbangan. Hal ini berarti bahwa dalam kehidupan ini perlu adanya keseimbangan antara perasaan dan pikiran. Pergelaran tari buyung dengan formasi Jala Sutra, Nyakra Bumi, Bale Bandung, Medang Kamulan, dan Nugu Telu memiliki makna yang menyiratkan bahwa masyarakat petani Sunda adalah masyarakat yang religius. Tuhan diyakini sebagai Causa Prima dari segala asal-usul sumber hidup dan kehidupan. Sementara manusia merupakan mahluk penghuni bumi yang paling sempurna di antara mahluk-mahluk ciptaan Tuhan lainnya.

Alam penuh dengan energi. Alam selalu bereaksi dengan tingkah laku manusia, dan ikut mempengaruhi karakter manusia. Eksistensi dalam alam makrokosmos dilihat sebagai sesuatu yang tersusun secara hierarkis. Sehingga, secara moral manusia dituntut untuk menyelaraskan hidupnya dengan alam, yaitu antara mikrokosmos (manusia) dan makrokosmos (alam raya) untuk membuahkan kesadaran mengenai penghayatan iman terhadap keagungan Tuhan Sang Maha Pencipta. Dalam tarian itu, manusia diajak untuk lebih dekat dengan alam dan mencintainya sebagai sahabat yang harus terus berjalan bersama. Tarian ini ditampilkan saat upacara Seren Taun yakni upacara syukur atas Kemurahan Tuhan di masyarakat Cigugur.

Seren Taun juga dilaksanakan sebagai penghormatan kepada Dewi Sri atau Dewi Padi yang memberikan kesuburan bagi para petani.Karena daerah ini merupakan daerah agraris, maka masyarakat Cigugur mengadakan upacara syukuran atas hasil bumi yang diperoleh. Acara syukuran atas hasil bumi ini lebih dikenal dengan istilah Seren Taun. Seren Taun merupakan gelar budaya tradisional yang sering dilaksanakan oleh masyarakat agraris Sunda.

Dalam penyelengaraan Seren Taun karena masih berhubungan dengan agraris maka bahan-bahan seperti buah-buahan, umbi-umbian, padi, dan hewan yang merupakan bahan vital penunjang kegiatan.Lalu dalam ritus kegiatannya dalam formasi barisan pada pelaksanaan upacara Seren Taun terdiri dari barisan muda-mudi, ibu-ibu, bapak-bapak, dan rombongan kesenian yang diantaranya: tari buyung anglung buncis dari Baduy, angklung buncis dan dan dog-dog di sertai umbul-umbul.
Untuk melakukan tarian ini tentu saja properti menjadi salah satu hal yang tidak boleh terlepas karena, merupakan unsur yang sangat penting dalam tari Buyung. Beberapa taran daerah mugkin memang tidak membutukan properti, namun beberapa tarian lainnya bahkan menamai tarian daerah mereka sesuai dengan nama properti yang dikenakan contohnya saja seperti tari piring, tari topeng dan lain-lain.

Seperti yang telah kita ketahui, properti tari adalah segala bentuk perlengkapan yang digunakan selain kostum, yang digunakan sebagai perlengkapan dalam sebuah tarian tradisional ataupun jenis lain. Setiap daerah pasti memiliki adat istiaddat dan ciri kas tertentu, yang mana kemudian ciri khas tersebutlah yang menjadi atau memberi pengaruh besar terhadap gerak dan properti tari yang dikenakannya.

Ada pula alat musik yang digunakan dalam Tari Buyung ini yaitu :
1. Kecapi Rincik
Kecapi Rincik yaitu kecapi berukuran kecil yang bentuknya hampir sama dengan Kecapi Indung. Rincik mempunyai arti yang berarti kecil.
2. Gendang
Kendang, kendhang, atau biasa disebut juga dengan gendang merupakan alat musik yang dimainkan dengan cara di pukul. Biasa dimainkan dengan tangan atau dengan alat pemukul gendang.
3. Seruling
Seruling merupakan alat musik tiup yang pada umumnya di Indonesia terbuat dari bambu. Seiring perkembangannya jaman alat musik seruling tidak hanya terbuat dari bambu saja, namun juga terbuat dari bahan-bahan seperti perak dan emas.
4. Gong
Gong adalah alat musik tradisional yang berasal dari Vietnam. Gong merupakan sebuah alat musik pukul yang terkenal di Asia Tenggara dan Asia Timur. Gong juga merupakan salah satu alat musik tradisional. Alat musik ini terbuat dari leburan logam seperti perunggu dengan tembaga dengan permukaan yang bundar (dengan atau tanpa Pencu).
5. Kecapi Indung
Kecapi Indung merupakan kecapi yang memiliki atau mempunyai ukuran bentuk paling besar dibandingkan dengan ukuran kecapi lainnya.
Ada pula alat tari yang digunakan pada Tari Buyung:
1. Buyung
Buyung merupakan alat yang terbuat dari logam atau tanah liat yang di gunakan oleh warga pada zaman dulu untuk mengambil air di sungai di danau dan sebagainya.
2. Kendi
Kendi adalah tempat untuk menyimpan air berbentuk seperti teko yang terbuat dari tanah liat.
Ada pula pakaian yang digunakan pada Tari Buyung:
1. Apok
Apok adalah pakaian dari kain songket.
2. Kebaya
Kebaya adalah blus tradisional yang dikenakan oleh wanita Indonesia yang terbuat dari bahan tipis yang dikenakan dengan sarung, batik, atau pakaian rajutan tradisional lainnya seperti songket dengan motif warna-warni.
3. Gelang
Gelang adalah sebuah perhiasan melingkar yang diselipkan atau dikaitkan pada pergelangan tangan seseorang. Gelang yang melingkar pada pergelangan kaki disebut gelang kaki.
4. Ikat Pinggang
Ikat pinggang atau sabuk ialah pita fleksibel, biasanya terbuat dari kulit atau pakaian keras, dan dikenakan di sekitar pinggang. Ikat pinggang berfungsi mengikat celana atau bahan pakaian.
5. Selendang
Selendang adalah pakaian tradisional inonesia yang berbentuk kain panjang.
6. Samping
Samping adalah kain yang bercorak yang digunakan masyarakat hususnya masyarakat Sunda. Samping berbentuk seperti kain yang memanjang tanpa jahitan yang membentuk, samping juga becorak, biasanya bercorak batik.
7. Sobrah
Sobrah adalah rambut palsu yang digunakan si penari.
Nah itu adalah bebrapa hal mengenai tari buyung, Tari Buyung adalah wujud dari kebudayaan Indonesia yang wajib dilestarikan dan dijaga sebelum diklaim oleh bangsa lain. Maka dari itu kita sebagaii geneasi penerus bangsa harus mulai menjaga tarian-tarian seperti Tari Buyung dengan mementaskan di acara-acara dan disetiap kesempatan yang ada seperti perlombaan hari kemerdekaan dan mengadakan pementasan sebagai hiburan terhadap masyarakat Indonesia.