Sisingaan merupakan salah satu kekayaan budaya dalam bentuk seni tradisional yang berasal dari daerah Subang, Jawa Barat. Kesenian ini...



Sisingaan merupakan salah satu kekayaan budaya dalam bentuk seni tradisional yang berasal dari daerah Subang, Jawa Barat. Kesenian ini juga dikenal dengan sebutan Gotong Singa atau Odong-odong. Sampai sekarang, seni tradisioal ini masih berkembang dengan baik di daerah Subang, bahkan kesenian ini sudah terkenal sampai ke manca negara. Kesenian Sisingaan telah dimainkan oleh rakyat Subang pada saat melawan penjajah sebagai simbol pelecehan terhadap penjajah, yang melambangkan bahwa rakyat Subang tidak takut melawan penjajah pada saat itu. Saat ini, kesenian Sisingaan dimainkan untuk acara-acara khusus seperti acara menerima tamu kehormatan, acara khitanan anak, acara hari-hari besar dan sebagainya. Kabupaten Subang mengadakan festival Sisingaan pada tanggal 5 April setiap tahunnya diikuti oleh semua kecamatan yang ada di Subang untuk memeriahkan acara peringatan hari jadi Kabupaten Subang.

SEJARAH

Seni pertunjukan Sisingaan berasal dari Kabupaten Subang, Jawa Barat. Kabupaten Subang sebagai salah satu kabupaten di kawasan utara Provinsi Jawa Barat meliputi wilayah seluas 205.176,95 ha atau 6,34 % dari luas Provinsi Jawa Barat. Wilayah ini ¬¬terletak di antara 107º 31' sampai dengan 107º 54' Bujur Timur dan 6º 11' sampai dengan 6º 49' Lintang Selatan. Secara administratif, Kabupaten Subang terbagi atas 253 desa dan kelurahan yang tergabung dalam 22 kecamatan. Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Subang Nomor 3 Tahun 2007 tentang Pembentukan Wilayah Kerja Camat, jumlah kecamatan bertamba¬h menjadi 30 kecamatan. Batas-batas wilayah administratif Kabupaten Subang adalah di sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Bandung Barat, di sebelah barat dengan Kabupaten Purwakarta dan Karawang, di sebelah timur dengan Kabupaten Sumedang dan Indramayu dan Laut Jawa yang menjadi batas di sebelah utara

Pada tahun 1982, pemerintahan Belanda berkuasa di Kabupaten Subang yang saat itu dikenal sebagai daerah Double Bestuur dan dijadikan kawasan perkebunan dengan nama P&T Lands (Pamanoekan en Tjiasemladen). Masyarakat Subang mulai diperkenalkan dengan lambang negara mereka yaitu Crown atau mahkota kerajaan. Pada saat yang bersamaan, Subang juga dikuasai oleh Inggris dan diperkenalkan dengan lambang negaranya yaitu Singa. Sehingga secara administratif, Subang dibagi ke dalam dua bagian yaitu : secara politik dikuasai oleh Belanda dan secara ekonomi dikuasai oleh Inggris.

Karena hal tersebut, masyarakat Subang mengalami tekanan secara politik, ekonomi, sosial dan budaya sehingga menimbulkan sikap perlawanan terhadap penjajah Belanda dan Inggris. Sikap perlawanan tersebut diekspresikan secara terselubung melalui sindiran, perumpamaan dan penokohan yang sesuai dengan keadaan mereka saat itu. Salah satu ekspresi jiwa yang diwujudkan adalah dengan membuat kesenian bernama Sisingaan yang melambangkan rasa ketidakpuasan dan upaya pemberontakan kepada kaum penjajah. Penjajah Belanda beranggapan bahwa Sisingaan hanyalah karya seni yang diciptakan secara sederhana dan spontanitas untuk menghibur anak penduduk pribumi pada saat dikhitan.

Awal munculnya sisingaan hingga pada masa sekarang adalah singa abrug. Singa abrug adalah permainan Sisingaan yang dimainkan oleh pemain yang aktif menari ke sana kemari dan patung singa yang dimainkannya seperti akan diadu. Singa abrug pertama kali berkembang di daerah Tambakan Kecamatan Jalan Cagak. Sisingaan dibuat dengan sangat sederhana, muka dan kepala singa dibuat dari kayu ringan seperti kayu randu atau albasiah, rambut Sisingaan dibuat dari bunga atau daun kaso dan daun pinus. Sedangkan badan Sisingaan terbuat dari carangka (kerajinan anyaman bambu) yang besar dan ditutupi oleh karung kadut (karung goni) atau ada pula yang dibuat dari kayu yang masih utuh atau kayu gelondongan. Untuk usungan Sisingaan dibuat dari bambu yang dipikul oleh empat orang.

1. Komponen Sisingaan

Pertunjukan Sisingaan pada dasarnya dimulai dengan tetabuhan musik yang dinamis. Lalu diikuti oleh permainan Sisingaan oleh penari pengusung sisingaan, lewat gerak antara lain: Pasang/Kuda-kuda, Bangkaret, Masang/Ancang-ancang, Gugulingan, Sepakan dua, Langkah mundur, Kael, Mincid, Ewag, Jeblag, Putar taktak, Gendong Singa, Nanggeuy Singa, Angkat jungjung, Ngolecer,Lambang, Pasagi Tilu, Melak cau, Nincak rancatan, dan Kakapalan. Sebagai seni Helaran, Sisingaan bergerak terus mengelilingi kampung, desa, atau jalanan kota, sampai akhirnya kembali ke tempat semula. Didalam perkembangannya, musik pengiring lebih dinamis, dan melahirkan musik Genjring Bonyok dan juga Tardug.

2. Peralatan Yang Digunakan Dalam Sisingaan
Peralatan Yang Digunakan Dalam Permainan Sisingaan Antara Lain:
Dua atau empat buah usungan boneka singa. Rangka dan kepala usungan boneka-boneka singa terbuat dari kayu dan bambu yang dibungkus dengan kain serta diberi tempat duduk di atas punggungnya. Bulu-bulu yang ada di kepala maupun ekor dibuat dari benang raffia sehingga bersifat permanen dan dapat digunakan berkali-kali. Pada awal munculnya Sisingaan, usungan yang berbentuk singa ini terbuat dari kayu dengan bulu dari kembang kaso dan biasanya dibuat secara dadakan pada waktu akan mengadakan pertunjukan sehingga bersifat tidak permanen dan hanya sekali pakai.
Waditra yang terdiri dari: dua buah kendang besar (kendang indung dan kendang anak), terompet, tiga buah ketuk (bonang), kentrung (kulanter), gong kecil, dan kecrek. -
busana pemain yang terdiri dari celana kampret/pangsi, ikat barangbang semplak, baju taqwa dan alas kaki tarumpah atau salompak.
3. Pemain Sisingaan

Sisingaan terdiri dari 8 orang pengusung Sisingaan, sepasang patung Sisingaan, penunggang Sisingaan, waditra, nayaga, dan sinden atau juru kawih. Secara filosofis, 4 orang pengusung Sisingaan melambangkan masyarakat pribumi yang ditindas oleh kaum penjajah, sepasang patung Sisingaan melambangkan 2 penjajah (Belanda dan Inggris), penunggang Sisingaan melambangkan generasi muda yang suatu saat harus mampu mengusir penjajah, dan nayaga melambangkan mayarakat yang gembira atau masyarakat Subang yang berjuang dan memberi motivasi terhadap generasi muda untuk dapat mengalahkan dan mengusir penjajah dari tanah air mereka.

Para pemain ini adalah orang-orang yang mempunyai keterampilan khusus, baik dalam menari maupun memainkan waditra. Keterampilan khusus itu perlu dimiliki oleh setiap pemain karena dalam sebuah pertunjukan sisingaan yang bersifat kolektif diperlukan suatu tim yang solid agar semua gerak tari yang dimainkan sambil menggotong boneka singa dapat selaras dengan musik yang dimainkan oleh para nayaga.

4. Makna Yang Terkandung Dalam Pertunjukan Seni Sisingaan
Makna sosial: kepercayaan masyarakat Subang bahwa jiwa kesenian sangat berperan dalam diri mereka seperti egalitarian, spontanitas, dan rasa memiliki dari setiap jenis seni rakyat yang muncul.
Makna teatrikal: penampilan Sisingan berupa drama penokohan teatrikal dan ditambahkan dengan berbagai variasi seperti jajangkungan, sinden, dan lain-lain. • Makna komersial: karena Sisingaan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Subang.
Makna universal: pada setiap etnik, sering kali dijumpai pemujaan terhadap singa karena kebuasannya. Meskipun Jawa Barat tidak terdapat habitat singa, namun dengan konsep kerakyatan maka singa dapat dikenal dan diterima sebagai seni tradisional Sisingaan.
Makna Spiritual: masyarakat Subang percaya bahwa seni tradisional Sisingaan sebagai wujud keselamatan atau syukuran atas rejeki yang telah dianugerahkan Tuhan.
5. Contoh-Contoh Jenis Acara Yang Tepat Untuk Mementaskan Sisingaan

Kesenian Sisingaan ini umumnya ditampilkan pada siang hari dengan berkeliling kampung pada saat ada acara khitanan, menyambut tamu agung, pelantikan kepala desa, perayaan hari kemerdekaan dan lain sebagainya. Durasi sebuah pementasan sisingaan biasanya memakan waktu cukup lama, bergantung dari luas atau tidaknya kampung yang akan dikelilingi
CARA PEMENTASAN
1. Sisingaan diawali dengan kata-kata sambutan yang dilakukan oleh pemimpin kelompok.
2. Anak yang akan dikhitan atau tokoh masyarakat yang akan diarak dipersilahkan untuk menaiki 
boneka singa.
3. Alat pengiring ditabuh dengan membawakan lagu-lagu yang berirama dinamis sebagai tanda dimulainya pertunjukan.
4. 8 orang pemain akan mulai menggotong dua buah boneka singa (satu boneka digotong oleh 4 orang).
5. Pemimpin kelompok memberikan aba-aba kepada para pemain untuk melakukan gerakan tarian secara serempak dan akrobatis.
6. Lagu-lagu yang dimainkan sebagai pengiring tarian biasanya diambil dari lagu kesenian Sunda
7. Sisingaan dilakukan sambil mengelilingi kampung hingga akhirnya kembali ke tempat semula. Dengan sampainya pada penari ke tempat semula, maka pertunjukan Sisingaan berakhir.

Manfaat yang diperoleh :

Seni sebagai ekspresi jiwa manusia sudah barang tentu mengandung nilai estetika, termasuk kesenian tradisional Sisingaan yang ditumbuh-kembangkan oleh masyarakat Ciherang, Kabupaten Subang. Namun demikian, jika dicermati secara mendalam Sisingaan tidak hanya mengandung nilai estetika semata, tetapi ada nilai-nilai lain yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari bagi masyarakat pendukungnya. Nilai-nilai itu antara lain adalah kerja sama, kekompakan, ketertiban, dam ketekunan. Nilai kerja sama terlihat dari adanya kebersamaan dalam melestarikan warisan budaya para pendahulunya. Nilai kekompakan dan ketertiban tercermin dalam suatu pementasan yang dapat berjalan secara lancar. Nilai kerja keras dan ketekunan tercermin dari penguasaan gerakan-gerakan tarian.

Degung Degung adalah kumpulan alat musik dari sunda yang dipadukan antara kendang, gamelan, bonang, kecapi, dan gong. Ada dua penger...


Degung

Degung adalah kumpulan alat musik dari sunda yang dipadukan antara kendang, gamelan, bonang, kecapi, dan gong.
Ada dua pengertian tentang istilah degung itu sendiri yaitu :
1. Degung sebagai nama perangkat gamelan
Degung sebagai nama laras bagian dari laras salendro ( berdasarkan teori Raden Machjar Angga Koesoemadinata).
2. Degung sebagai unit gamelan dan degung sebagai laras memang sangat lain.
Dalam teori tersebut, laras degung terdiri dari degung dwiswara (tumbuk: (mi) 2 – (la) 5) dan degung triswara: 1 (da), 3 (na), dan 4 (ti).

Gamelan Degung

Ada beberapa gamelan yang pernah ada dan terus berkembang di Jawa Barat, antara lain Gamelan Salendro, Pelog dan Degung. Gamelan salendro biasa digunakan untuk mengiringi pertunjukan wayang, tari, kliningan, jaipongan dan lain-lain. Gamelan pelog fungsinya hampir sama dengan gamelan salendro, hanya kurang begitu berkembang dan kurang akrab di masyaraka dan jarang dimiliki oleh grup-grup kesenian di masyarakat. Hal ini menandakan cukup terwakilinya seperangkat gamelan dengan keberadaan gamelan salendro, sementara gamelan degung dirasakan cukup mewakili kekhasan masyarakat Jawa Barat. Gamelan lainnya adalah gamelan Ajeng berlaras salendro yang masih terdapat di kabupaten Bogor, dan gamelan Renteng yang ada di beberapa tempat, salah satunya di Batu Karut, Cikalong kabuki Bandung. Melihat bentuk dan interval gamelan renteng, ada pendapat bahwa kemungkinan besar gamelan degung yang sekarang berkembang, berorientasi pada gamelan Renteng.

Ada gamelan yang sudah lama terlupakan yaitu KOROMONG yang ada di Kp. Lamajang Desa Lamajang Kec. Pangalengan Kab. Bandung. Gamelan ini sudah tidak dimainkan sejak kira-kira 35 - 40 tahun dan sudah tidak ada yang sanggup untuk menabuhnya karena gamelan KOROMONG ini dianggap mempunyai nilai mistis. Gamelan KOROMONG ini sekarang masih ada dan terpelihara dengan baik. Untuk supaya gamelan KOROMONG ini dapat ditabuh, maka kata yang memegang dan merawat gamelan tersebut harus dibuat Duplikatnya.

Sejarah Degung

Degung merupakan salah satu gamelan khas dan asli hasil kreativitas masyarakat Sunda. Gamelan yang kini jumlahnya telah berkembang dengan pesat, diperkirakan awal perkembangannya sekitar akhir abad ke-18/awal abad ke-19. Jaap Kunst yang mendata gamelan di seluruh Pulau Jawa dalam bukunya Toonkunst van Java (1934) mencatat bahwa degung terdapat di Bandung (5 perangkat), Sumedang (3 perangkat), Cianjur (1 perangkat), Ciamis (1 perangkat), Kasepuhan (1 perangkat), Kanoman (1 perangkat), Darmaraja (1 perangkat), Banjar (1 perangkat), dan Singaparna (1 perangkat).

Masyarakat Sunda dengan latar belakang kerajaan yang terletak di hulu sungai, kerajaan Galuh misalnya, memiliki pengaruh tersendiri terhadap kesenian degung, terutama lagu-lagunya yang yang banyak diwarnai kondisi sungai, di antaranya lagu Manintin, Galatik Manggut, Kintel Buluk, dan Sang Bango. Kebiasaan marak lauk masyarakat Sunda selalu diringi dengan gamelan renteng dan berkembang ke gamelan degung.

Dugaan-dugaan masyarakat Sunda yang mengatakan bahwa degung merupakan musik kerajaan atau kadaleman dihubungkan pula dengan kirata basa, yaitu bahwa kata “degung” berasal dari kata "ngadeg" (berdiri) dan “agung” (megah) atau “pangagung” (menak; bangsawan), yang mengandung pengertian bahwa kesenian ini digunakan bagi kemegahan (keagungan) martabat bangsawan. E. Sutisna, salah seorang nayaga Degung Parahyangan, menghubungkan kata “degung” dikarenakan gamelan ini dulu hanya dimiliki oleh para pangagung (bupati). Dalam literatur istilah “degung” pertama kali muncul tahun 1879, yaitu dalam kamus susunan H.J. Oosting. Kata "De gong" (gamelan, bahasa Belanda) dalam kamus ini mengandung pengertian “penclon-penclon yang digantung”.

Gamelan yang usianya cukup tua selain yang ada di keraton Kasepuhan (gamelan Dengung) adalah gamelan degung Pangasih di Museum Prabu Geusan Ulun, Sumedang. Gamelan ini merupakan peninggalan Pangeran Kusumadinata (Pangeran Kornel), bupati Sumedang (1791—1828).

Perkembangan Degung

Dulu gamelan degung hanya ditabuh secara gendingan (instrumental). Bupati Cianjur RT. Wiranatakusumah V (1912—1920) melarang degung memakai nyanyian (vokal) karena membuat suasana kurang serius (rucah). Ketika bupati ini tahun 1920 pindah menjadi bupati Bandung, maka perangkat gamelan degung di pendopo Cianjur juga turut dibawa bersama nayaganya, dipimpin oleh Idi. Sejak itu gamelan degung yang bernama Pamagersari ini menghiasi pendopo Bandung dengan lagu-lagunya.

Melihat dan mendengarkan keindahan degung, salah seorang saudagar Pasar Baru Bandung keturunan Palembang, Anang Thayib, merasa tertarik untuk menggunakannya dalam acara hajatan yang diselenggarakannya. Kebetulan dia sahabat bupati tersebut. Oleh karena itu dia mengajukan permohonan kepada bupati agar diijinkan menggunakan degung dalam hajatannya, dan diijinkannya. Mulai saat itulah degung digunakan dalam hajatan (perhelatan) umum. Permohonan semacam itu semakin banyak, maka bupati memerintahkan supaya membuat gamelan degung lagi, dan terwujud degung baru yang dinamakan Purbasasaka, dipimpin oleh Oyo.

Sebelumnya waditra (instrumen) gamelan degung hanya terdiri atas koromong (bonang) 13 penclon, cempres (saron panjang) 11 wilah, degung (jenglong) 6 penclon, dan goong satu buah. Kemudian penambahan-penambahan waditra terjadi sesuai dengan tantangan dan kebutuhan musikal, misalnya penambahan kendang dan suling oleh bapak Idi. Gamelan degung kabupaten Bandung, bersama kesenian lain digunakan sebagai musik gending karesmen (opera Sunda) kolosal Loetoeng Kasaroeng tanggal 18 Juni 1921 dalam menyambut Cultuurcongres Java Institut. Sebelumnya, tahun 1918 Rd. Soerawidjaja pernah pula membuat gending karesmen dengan musik degung, yang dipentaskan di Medan. Tahun 1926 degung dipakai untuk illustrasi film cerita pertama di Indonesia berjudul Loetoeng Kasaroeng oleh L. Heuveldrop dan G. Kruger produksi Java Film Company, Bandung. Karya lainnya yang menggunakan degung sebagai musiknya adalah gending karesmen Mundinglaya dikusumah oleh M. Idris Sastraprawira dan Rd. Djajaatmadja di Purwakarta tahun 1931.

Setelah Idi meninggal (tahun 1945) degung tersendat perkembangannya. Apalagi setelah itu revolusi fisik banyak mengakibatkan penderitaan masyarakat. Degung dibangkitkan kembali secara serius tahun 1954 oleh Moh. Tarya, Ono Sukarna, dan E. Tjarmedi. Selain menyajikan lagu-lagu yang telah ada, mereka menciptakan pula lagu-lagu baru dengan nuansa lagu-lagu degung sebelumnya. Tahun 1956 degung mulai disiarkan secara tetap di RRI Bandung dengan mendapatkan sambutan yang baik dari masyarakat. Tahun 1956 Enoch Atmadibrata membuat tari Cendrawasih dengan musik degung dengan iringan degung lagu palwa. Bunyi degung lagu Palwa setiap kali terdengar tatkala pembukaan acara warta berita bahasa Sunda, sehingga dapat meresap dan membawa suasana khas Sunda dalam hati masyarakat.

Pengembangan lagu degung dengan vokal dilanjutkan oleh grup Parahyangan pimpinan E. Tjarmedi sekitar tahun 1958. Selanjutnya E. Tjarmedi dan juga Rahmat Sukmasaputra mencoba menggarap degung dengan lagu-lagu alit (sawiletan) dari patokan lagu gamelan salendro pelog. Rahmat Sukmasaputra juga merupakan seorang tokoh yang memelopori degung dengan nayaga wanita. Selain itu, seperti dikemukakan Enoch Atmadibrata, degung wanita dipelopori oleh para anggota Damas (Daya Mahasiswa Sunda) sekitar tahun 1957 di bawah asuhan Sukanda Artadinata (menantu Oyo).

Tahun 1962 ada yang mencoba memasukkan waditra angklung ke dalam degung. Tetapi hal ini tidak berkembang. Tahun 1961 RS. Darya Mandalakusuma (kepala siaran Sunda RRI Bandung) melengkapi degung dengan waditra gambang, saron, dan rebab. Kelengkapan ini untuk mendukung gending karesmen Mundinglayadikusumah karya Wahyu Wibisana. Gamelan degung ini dinamakan degung Si Pawit. Degung ini juga digunakan untuk pirigan wayang Pakuan. Dari rekaman-rekaman produksi Lokananta (Surakarta) oleh grup RRI Bandung dan Parahyangan pimpinan E. Tjarmedi dapat didengarkan degung yang menggunakan waditra tambahan ini. Lagu-lagu serta garap tabuhnya banyak mengambil dari gamelan salendro pelog, misalnya lagu Paksi Tuwung, Kembang Kapas, dsb. Pada tahun 1964, Mang Koko membuat gamelan laras degung yang nadanya berorientasi pada gamelan salendro (dwi swara). Bentuk ancak bonanya seperti tapal kuda. Dibanding degung yang ada pada waktu itu, surupannya lebih tinggi. Keberadaan degung ini sebagai realisasi teori R. Machyar. Gamelan laras degung ini pernah dipakai untuk mengiringi gending karesmen Aki Nini Balangantrang (1967) karya Mang Koko dan Wahyu Wibisana.

Tahun 1970—1980-an semakin banyak yang menggarap degung, misalnya Nano S. dengan grup Gentra Madya (1976), lingkung seni Dewi Pramanik pimpinan Euis Komariah, degung Gapura pimpinan Kustyara, dan degung gaya Ujang Suryana (Pakutandang, Ciparay) yang sangat populer sejak tahun 1980-an dengan ciri permainan sulingnya yang khas. Tak kalah penting adalah Nano S. dengan grup Gentra Madya-nya yang memasukan unsur waditra kacapi dalam degungnya. Nano S. membuat lagu degung dengan kebiasaan membuat intro dan aransemen tersendiri. Beberapa lagu degung karya Nano S. yang direkam dalam kaset sukses di pasaran, di antaranya Panglayungan (1977), Puspita (1978), Naon Lepatna (1980), Tamperan Kaheman (1981), Anjeun (1984) dan Kalangkang yang dinyanyikan oleh Nining Meida dan Barman Syahyana (1986). Lagu Kalangkang ini lebih populer lagi setelah direkam dalam gaya pop Sunda oleh penyanyi Nining Meida dan Adang Cengos sekitar tahun 1987.

Berbeda dengan masa awal (tahun 1950-an) dimana para penyanyi degung berasal dari kalangan penyanyi gamelan salendro pelog (pasinden; ronggeng), para penyanyi degung sekarang (sejak 1970-an) kebanyakan berasal dari kalangan mamaos (tembang Sunda Cianjuran), baik pria maupun wanita. Juru kawih degung yang populer dan berasal dari kalangan mamaos di antaranya Euis Komariah, Ida Widawati, Teti Afienti, Mamah Dasimah, Barman Syahyana, Didin S. Badjuri, Yus Wiradiredja, Tati Saleh dan sebagainya.

Lagu-lagu degung di antaranya: Palwa, Palsiun, Bima Mobos (Sancang), Sang Bango, Kinteul Bueuk, Pajajaran, Catrik, Lalayaran, Jipang Lontang, Sangkuratu, Karang Ulun, Karangmantri, Ladrak, Ujung Laut, Manintin, Beber Layar, Kadewan, Padayungan, dsb. Sedangkan lagu-lagu degung ciptaan baru yang digarap dengan menggunakan pola lagu rerenggongan di antaranya: Samar-samar, Kembang Ligar, Surat Ondangan, Hariring Bandung, Tepang Asih, Kalangkang, Rumaos, Bentang Kuring, dsb.

Perkembangan Degung di Luar Negeri

Di luar Indonesia pengembangan degung dilakukan oleh perguruan tinggi seni dan beberapa musisi, misalnya Lingkung Seni Pusaka Sunda University of California (Santa Cruz, USA), musisi Lou Harrison (US), dan Rachel Swindell bersama mahasiswa lainnya di London (Inggris), Paraguna (Jepang), serta Evergreen, John Sidal (Kanada). Di Melbourne, Australia, ada sebuah set gamelan degung milik University of Melbourne yang seringkali digunakan oleh sebuah komunitas pencinta musik Sunda untuk latihan dan pementasan di festival-festival.

Indonesia memang terkenal dengan beragam kekayaan budaya. Baik itu budaya tradisional atau modern semuanya menarik untuk dipelajari. ...



Indonesia memang terkenal dengan beragam kekayaan budaya. Baik itu budaya tradisional atau modern semuanya menarik untuk dipelajari. Diantara jenis kebudayaan tradisional ini terdapat adanya kesenian tari. Jenis seni tari tradisional ini pun bermacam-macam sesuai dengan propinsi masing-masing. 

Salah satu jenis tari yang sangat terkenal adalah tari merak. Tari merak ini merupakan tarian khas yang berasal dari propinsi Jawa Barat. Jenis tarian ini menampilkan kreasi baru yang mengekspresikan kehidupan dari seekor burung merak. Gerakan-gerakan tarian merak diambil dari tingkah laku burung merak. 

Lalu diangkat ke dunia pentas seni oleh seniman Sunda yang bernama Raden Tjetjep Soemantri. Jenis tarian ini termasuk salah satu jenis tarian modern (kontemporer). Artinya adalah gerakan yang ada di tarian merak ini diciptakan dengan bebas dengan menggunakan kreasi sendiri.Tarian ini tidak mengandung tarian tradisional rakyat maupun tarian tradisional klasik. Bagi masyarakat propinsi Jawa Barat tarian merak ini merupakan tarian kebanggaan nasional mereka. 

Sejarah Tari Merak 
Tarian merak ini berasal dari daerah Jawa Barat lebih tepatnya di daerah Pasundan. Pada sekitar tahun 1950-an ada seorang koreografer ternama yang berasal dari Jawa Barat. Koreografer itu sendiri bernama Raden Tjetjep Soemantri. Beliaulah yang menciptakan gerakan-gerakan tari yang pada akhirnya dinamakan tarian merak. 

Kesenian tarian merak ini merupakan penerapan dari kehidupan (tingkah laku) seekor burung merak. Lebih tepatnya gerakan tarian ini diambil dari tingkah polah burung merak jantan pada saat ingin memikat burung merak betina. Suatu gerakan burung merak jantan ketika memperlihatkan keindahan bulu ekornya. 

Gerakan ini dimaksudkan untuk menarik perhatian dari burung merak betina. Namun seiring dengan perkembangan jaman tari merak Jawa Barat ini telah mengalami beberapa perubahan dari gerakan aslinya. Dalam pementasannya tarian merak biasanya ditampilkan oleh penari dengan cara berpasang-pasangan. 

Masing-masing penari memainkan peran sebagai burung merak jantan atau burung merak betina. Tarian merak ini diiringi dengan musik gending macan ucul. Dengan iringan musik itu para penari menggerakkan tubuhnya dengan sangat gemulai layaknya tingkah laku seekor burung merak. Gerakan-gerakan tari yang diperagakan para penari sungguh indah mempesona. Sehingga mampu membuat suasana jadi ceria dan istimewa. Tak heran jika tarian merak ini banyak ditampilkan pada waktu acara tingkat Nasional maupun acara tingkat Internasional. 

Ciri-Ciri Tarian Merak 

Setiap tarian pasti memiliki sebuah ciri khas tersendiri yang unik. Atau bisa juga membuat gerakan sendiri yang berbeda dari gerakan jenis tari lain. Hal inilah yang akan kelebihan dan keistimewaan dari tarian itu sendiri. Yang menjadikan ciri khas tarian merak adalah sebagai berikut: 

Busana atau kostumnya memiliki motif layaknya bulu merak, yaitu menggambarkan bentuk dan bulu merak itu sendiri. Seperti misalnya warna biru, hijau, dan hitam. Kostum ini juga memiliki sepasang sayap yang mirip dengan ekor burung merak yang sedang dikembangkan. Terdapat juga hiasan disetiap kepala penarinya yang berupa mahkota. Gerakan dalam tari merak ini sangat mirip dengan tingkah laku burung merak jantan yang lagi mencari perhatian burung merak betina. Gerakan ini dilakukan dengan gerakan yang sangat gemulai. Tarian merak ini dilakukan dengan cara berpasangan. Ada yang berperan sebagai burung merak jantan ada yang sebagai burung merak betina. 

Fungsi Tari Merak 

Tarian merak sering ditampilkan atau dipentaskan pada saat ada acara penyambutan tamu. Namun kadangkala juga dipentaskan pada saat ada acara hajatan. Beberapa fungsi tarian merak adalah: 
Tarian merak ini sering sebagai persembahan para tamu dalam acara resepsi pernikahan. 
Tari ini dipentaskan juga buat penyambutan para tamu agung pada setiap acara atau ritual. 
Sering juga digunakan dalam rangka menyambut rombongan tamu pengantin pria pada saat menuju pelaminan. 
Tarian merak ini juga sebagai sarana memperkenalkan budaya Indonesia ke tingkat Internasional. 

Kostum Tari Merak Lengkap Dengan Aksesorisnya 

Properti dari tarian merak ini tergolong sangat banyak mulai dari segi kostum sampai aksesorisnya. Properti-properti inilah yang sangat mendukung kesempurnaan sebuah koreografi pada saat di atas panggung. Sedangkan jenis properti ini dibedakan menjadi 3 bagian yaitu bagian kepala, badan dan bawah. 

1. Bagian Kepala 

Mahkota: Jenis mahkota yang sering dipakai oleh para penari merak sering disebut dengan nama siger. Mahkota ini terdiri dari berbagai aksesoris sehingga terlihat sangat unik. Aksesoris tersebut berupa pernik-pernik dan payet-payet yang memiliki warna macam-macam. Sehingga mahkota tersebut kelihatan glamour ketika terkena sorotan lampu (sinar). 
Hiasan Telinga: Jika diperhatikan properti tarian merak yang dipakai penari di bagian telinga ini hampir sama dengan ornament yang ada pada kostum pewayangan. Properti yang dipakai di telinga ini namanya sesuping. Pelengkap ini masih termasuk kedalam aksesoris mahkota karena corak dan pernik yang dipakai masih satu paket baik bahan maupun warnanya. 
Hiasan Sanggul: Jenis aksesoris yang satu ini dikenakan penari merak pada bagian belakang rambutnya. Properti ini melukiskan seekor merak jantan dan sebagian orang ada yang menyebut garuda mungkur. 

2. Bagian Badan 

Properti ini pada umumnya terdapat 3 macam dan melekat sebagai kostum pada tubuh penari. Jenis-jenis properti tersebut antara lain adalah: 

Penutup Dada. Bagi para penari merak menutupi bagian dadanya dengan memakai kain seperti layaknya kemben. Cara pemakaian kain kemben ini yaitu dengan melingkarkan ke bagian tubuh penari dari dada hingga bawah perut. Penutup dada ini sangat beragam jenis dan warnanya sesuai kebutuhan. Ada yang dilengkapi dengan tali sebagai pengaman agar tidak melorot. 
Apok. Merupakan aksesoris penutup yang bentuknya panjang dan melingkar. Ini mirip kalung yang dipakai oleh para penari sebagai penutup leher sampai ke bagian dada. Fungsi dari apok ini adalah untuk mempermudah pada saat melakukan koreografi. Apok yang dipakai penari ini juga dihiasi dengan motif-motif yang khas sehingga terlihat sangat indah. 
Sayap. Jika dalam tari Jaipong terdapat aksesoris sampur yaitu semacam selendang yang dikaitkan ke leher. Tapi kalau dalam tarian merak terdapat sayap yang secara keseluruhan merupakan ciri utamanya. Inilah yang membedakan kostum tari merak dengan kostum busana tarian lain. 

Dalam setiap pertunjukan tarian merak sayapnya ini selalu memiliki keunikan dan keistimewaan tersendiri. Keunikan dan keindahan dari tari merak sangat terlihat dari ornament warna-warni serta corak yang menyerupai bulu seekor burung merak. Aksesoris lain dari para penari merak adalah sabuk yang berfungsi sebagai penutup sampur dan pinggang. 

3. Bagian Bawah 

Untuk kostum pada bagian bawah ini para penari memakai busana berbentuk rok yang motifnya diserasikan dengan properti. Aksesoris atau pernak-pernik yang terdapat pada kostum ini dibuat sangat mirip dengan bulu seekor burung merak. Guna menambah keindahan kostum tari merak terdapat aksesoris pendukung. Aksesoris ini berupa gelang dan kilat bahu. 

Bagi masyarakat propinsi Jawa Barat tari merak ini menjadi kesenian tradisional kebanggaan mereka. Karena jenis tarian ini sudah sangat terkenal di tingkat Nasional maupun Internasional. Sebagai buktinya tarian merak ini sering dipentaskan dalam acara-acara menyambut tamu kehormatan. Banyak sekali karya dari seniman Jawa Barat Raden Tjetjep Soemantri ini. Namun tarian merak inilah yang paling terkenal hingga lingkup Internasional. 


Gaok adalah sebuah kesenian tradisional di Kabupaten Majalengka tepatnya di Desa Kulur dan Burujul yang memiliki unsur budaya Islam. Mel...


Gaok adalah sebuah kesenian tradisional di Kabupaten Majalengka tepatnya di Desa Kulur dan Burujul yang memiliki unsur budaya Islam. Melalui Kabupaten Cirebon, Seni Gaok masuk ke wilayah Majalengka seiring dengan masuknya ajaran agama Islam yang disyiarkan oleh Pangeran Muhamad dari Cirebon.

Kesenian Gaok adalah kesenian yang menampilkan unsur vokal atau tembang yang paling dominan. Biasanya menampilkan suatu cerita yang diambil dari kesusastraan Jawa, berupa Wawacan. Umumnya ditampilkan pada acara syukuran 40 hari kelahiran bayi. Dalam perkembangan masa kini ternyata kesenian Gaok mengalami kemunduran.

Menurut keterangan yang ada di masyarakat, istilah gaok merupakan istilah kesenian Beluk yang ada di daerah Majalengka, yang lahir dan berkembang dari kebiasaan masyarakat pada jaman dahulu yang kebanyakan bermatapencaharian dengan bercocok tanam di huma. Pada masa itu, secara tidak sengaja orang memainkan keindahan suara, yaitu saat mereka saling berkomunikasi dari huma satu ke huma lainnya, yang pada saat itu merupakan hutan belantara.

Pengertian Beluk masa sekarang umumnya dianggap orang sebagai pertunjukan seni suara atau vokal yang hanya dilakukan oleh laki-laki dengan menggunakan sebuah Wawacan tatkala selamatan bayi. Padahal jika dikembalikan pada pengertian asal Beluk dalam pementasan Seni Beluk sekarang, tidak seluruhnya berbentuk Beluk. Beluknya itu sendiri baru ditampilkan setelah jauh malam, jika dipentaskan semalam suntuk. Beluknya itu sendiri merupakan dinamika pertunjukan agar tidak monoton hanya melagukan Rancag Buhun saja, yang dalam pertunjukan di daerah Dago disebut Silio.

Ditarik kesimpulan, bahwa gambaran Beluk tersebut merupakan gambaran setelah datangnya pengaruh Wawacan dari kesusastraan Jawa yang masuk ke Sunda, terutama melalui kaum feodal dan kaum ulama Islam (kira-kira pertengahan abad XVII). Setelah datangnya pengaruh Wawacan. Beluk itu dijadikan variasi lagu dalam pementasan baca Wawacan yang dilagukan, yang ada di daerah Majalengka disebut Gaok.

Sesuai dengan yang diungkapkan Engkos Wangsadihardja, bahwa keberadaan Kesenian Gaok di Desa Kulur Kecamatan Majalengka sejak datangnya pengaruh agama Islam ke daerah Majalengka. Setelah agama Islam masuk, yang dibawa oleh Pangeran Muhammad (1490), maka penyebaran agama Islam di daerah ini dapat berkembang lebih cepat dibandingkan dengan yang lain. Pangeran Muhammad datang dari Cirebon (Sunan Gunung Jati). Ia menikah dengan Siti Armillah. Cara penyebarannya dengan memanfaatkan naskah Wawacan yang bernafaskan ajaran Islam ke dalam bentuk Kesenian Gaok. Hingga sekarang seni tradisional Gaok masih ada, yang dikembangkan di Desa Kulur Kecamatan Majalengka sekitar tahun 1920.

Gaok merupakan seni tradisional yang telah mengalami singkritisme antara nilai budaya etnis Sunda Buhun yang bernuansa Islam, yang dibawa dari Cirebon. Di dalam pertunjukan selalu diawali dengan bacaan Basmalah, sedangkan bahasa yang disampaikan adalah bahasa Sunda. Terkadang gayanya seperti orang sedang mengumandangkan Adzan.

Gaok diambil dari kata ngagorowok artinya ‘berteriak’. Dalam kesenian ini para pemain secara bergantian melantunkan pupuh (Kinanti, Sinom, Asmarandana, dan Dangdanggula) dengan suara keras (berteriak) seperti cara mengumandangkan adzan sehingga dikenal kata gaok. Para pemain Gaok mengenakan pakaian khas Sunda, yaitu baju kampret dan berikat kepala. Selain berunsur budaya Islam, dalam Gaok terdapat pula unsur budaya leluhur Sunda, berupa upacara persembahan sesajen kepada para leluhur yang dilaksanakan sebelum memulai Seni Gaok.

Perlengkapan Kesenian Gaok adalah naskah wawacan, sesajen, dan waditra pengiring. Wawacan yang ada serta yang selamat, setelah banyak yang musnah terbakar waktu jaman penjajahan, antara lain : Wawacan Manakab, Ahmad Muhammad, Samawi, Sulanjana, Sejarah Ambiya, Babad Talaga Manggung, dan Babad Majalengka.

Pelaksanaan pertunjukan ada aturan-aturan tertentu. Contohnya, naskah Wawacan Manakib/Layang Syeh, yaitu Wawacan yang menceritakan Syeh Abdul Qodir Jaelani. Para penonton tidak boleh berbicara, merokok, dan makan. Jadi, harus mendengarkan dengan saksama jalan cerita dalam Wawacan tersebut. Sesajen harus tersedia lengkap, mulai dari makanan kecil sampai dengan makanan pokok. Untuk Wawacan lain bebas. Sesajen yang disajikan adalah kesukaan leluhur, di saat ia masih hidup.

Kegiatan nyuguh karuhun adalah berupa :
Parawanten, yaitu aneka ragam makanan/minuman kesukaan para leluhur, seperti puncak manik (telur di atas tumpeng), rurujakan (rujak kelapa, pisang, asem), bubur merah bubur putih, buah-buahan, kopi pahit manis, dawegan, kupat leupeut, tangtang angin, dan cara (kue serabi).
Pangradinan, sarana kecantikan pada masa lalu, seperti minyak wangi, kapur sirih, minyak kelapa, bunga-bunga, cermin, sisir.
Parupuyan, yaitu perapian.
Perlengkapan tambahan adalah alat pengiring, buyung dan songsong, yang berfungsi sebagai pengiring dalam pertunjukan pada saat mengakhiri kalimat lagu/pupuh, atau istilahnya madakeun/ngagoongkeun.

Cara penyajian Kesenian Gaok adalah ketentuan yang sudah ada sejak dahulu, yaitu berupa :
Etika penyajian, tidak hanya ditampilkan di atas panggung, juga di tengah rumah/serambi rumah, duduk bersila di atas gelaran tikar, yang dipimpin oleh seorang dalang/tukang ilo/pangrawit, yang bertugas untuk membacakan kalimat-kalimat yang ada dalam cerita, yang selanjutnya untuk diulang oleh Tukang Gaok. Tetapi yang lebih penting lagi, yaitu untuk menekankan kejelasan jalannya cerita dalam Wawacan kepada penonton. Karena bila lirik atau rumpaka sudah disampaikan oleh Tukang Gaok, yang terdengar oleh penonton bukan lagi kejelasan ejaan atau lafal kata yang diucapkan, melainkan kemudian suara dari penembang tersebut yang ditonjolkan.
Cara pengulangan disampaikan baris demi baris, sementara penonton harus tertib dulu.

Pemain harus memiliki kualitas suara yang bagus, ambitin suara yang memadai, napas yang panjang, dan harus hapal semua pupuh, termasuk cara menembangkannya. Dulu, jumlah yang memainkannya 12 sampai 13 orang. Sekarang pemain Gaok sekitar 4 sampai 6 orang laki-laki sebagai juru mamaos dan seseorang sebagai dalang atau pangrawit yang menjadi pemimpinnya. Adapun cerita yang dibawakan selain cerita-cerita Wawacan di atas adalah Cerita Umar Maya, Baejah, dan Sarmun. Selain sebagai juru mamaos, setiap pemain memainkan tetabuhan/waditra dari bambu, yang masing-masing memiliki nama: kecrek, gendang bambu atau buyung, dan gong bambu.

Pergelaran Kesenian Gaok dipimpin seorang dalang/pangrawit. Ia yang membacakan Wawacan, kemudian dibeuli oleh antara juru mamaos (pencoba) yang satu dengan yang lain. Tukang meuli tak ditentukan, siapa saja yang ingin meuli kalimat yang dibacakan dalang. Selain tukang meuli, ada lagi tukang naekkeun, yang menaikkan nada yang ditembangkan ke nada yang lebih tinggi, sehingga persiapan yang paling penting bagi tukang gaok adalah mempersiapkan suara agar tidak sampai kehabisan nafasnya.

Waktu penyajiannya dari pukul 20.00 – 04.00, semalam suntuk. Jika belum tamat, dilanjutkan jika empunya hajat memintanya.

Teknik pementasan Kesenian Gaok adalah sebagai berikut :
Sambutan empunya hajat.
Ceramah dari tokoh masyarakat.
Sebelum Dalang Gaok memberitahukan ceritanya, terlebih dahulu memeriksa kelengkapan Dalang.
Membaca doa, membakar kemenyan, dan meminta izin Allah SWT, meminta maaf kepada leluhur, jika sesajen tidak lengkap dan mempersilakan untuk hadir dalam penjajiannya.
Prolog Wawacan oleh Dalang.
Tukang Gaok/tukang meuli menembangkan baris demi baris.
Setiap akhir pada diiringi dengan alok secara rampak, dipandu fungsi buyung dan songsong, yang dipakai sebagai madakeun atau ngagoongkeun.
Tema sesuai dengan tujuan penyajian.
Ditutup dengan permintaan maaf dan ucapan terima kasih.

Kesenian adalah hasil budi daya manusia dalam menyatakan nilai-nilai keindahan yang menimbulkan rasa senang, bahagia, puas, haru, ...



Kesenian adalah hasil budi daya manusia dalam menyatakan nilai-nilai keindahan yang menimbulkan rasa senang, bahagia, puas, haru, nikmat, bangga, dan kagum pada orang lain maupun diri sendiri. Kesenian berkedudukan sebagai media komunikasi antar manusia, antara manusia dan alam, sesrta manusia dengan Sang Maha Pencipta (Yudosaputro dalam Jazuli 2011:127). Menurut Jazuli (2008:71) kesenian tradisional tumbuh dan berkembang dalam suatu masyarakat  yang kemudian  diturunkan atau diwariskan secara turun temuruna dari satu generasi ke generasi lainnya, karena kesenian tradisional lahir diingkungan kelompok suatu daerah.

Kabupaten atau kota Cirebon merupakan daerah yang mempunyai berbagai jenis kesenian yang menyebar hingga ke pelosok pedesaan. Kesenian sintren merupakan kesenian rakyat yang mengandung unsur magis yang bersumber dari cerita rakyat Sulasih Sulandono. Pemeran utamanya dibawakan oleh seorang gadis yang  berusia belasan tahun atau yang masih suci. Kesenian tari sintren tersebar di sepanjang pesisir utara Jawa Tengah, yaitu Brebes dan Pekalongan, pantai selatan Jawa Tengah bagian timur yaitu Cirebon, Ciamis dan Indramayu.

Keseniaan sintren sudah lama muncul dan berkembang, munculnya kesenian tari sintren iini yaitu sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada roh nenek moyang dan Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan hasil panen yang melimpah. Ungkapan terima kasih dilakukan oleh masyarakat secara rutin sehingga menjadi kebiasaan yang dilakukan secra terus menerus sampai sekarang.

Kesenian tari sintren memiliki bentuk yang sederhana baik dalam garapan atau dalam pertunjukkannya. Jazuli (2008:63)nmengatakan bahwa tari rakyat mempunyai ciri-ciri gerakannya tidak sukar dan pola lantai massih sederhana serta gerakannya sering diulang-ulang. Sementara gerak yang ditarikan oleh penari sintren adalah gerak  yang luwes, lembut serta lincah yang menggambarkan kecantikan dari seorang gadis yang masih suci. Rias penari sintren menggunakan jenis rias korektif yang memiliki sifat mempertegas wajah penari, sehingga membuat penari sintren terlihat lebih cantik. Didukung oleh busana yang menarik yaitu “mekak” (penutup badan) dengan bahan bludru yang diberi motif daun sulur, kemudian dihiasi oleh mute untuk mempercantik mekak. Mekak yang dipakai oleh penari sintren berwarna hitam yang memiliki symbol kebijaksanaan dan kematangan jiwa seorang penari yang dapat mempesona perasaan penonton.

Saat menari, penari sintren juga menggunakan kacamata hitam yang berfungsi sebagai mentup mata. Kacamata yang sering digunakan penari sintren merupakan salah satu ciri khas kesenian sintren yang berfungsi untuk menambah daya tarik serta sebagai sarana untuk mempercantiik penampilan atau pementasan.  Selama menari, penari sintren selalu memejamkan mata akibat adanya roh yang masuk ke dalam tubuh sang penari “in trance”. Hal ini dikarenakan penari sintren dimasuki rooh bidadari yang membuat penari sintren tidak sadar diri pada saat dirinya menari.

Iringan yang di gunakan untuk mengiringi pertunjukkan sintren adlah gamelan beralaskan slendro dan pelog. Jenis tembang yang biasa digunakan sebagai iringan kesenian tari sintren antara lain Turun Sintren, Laras Slendro, Midodari Ngger Ngger, Kembang Mawar, Laras Pelog,  Kembang Alang-alang. Penari sintren harus diperankan oleh seorang gadis yang masih suci dan perawan. Roh bidadari tidak dapat masuk kedalam tubuh penari bila penari sintren sudah tidak perawan. Sebelum pertunjukkan, penari harus melakukan ritual puasa selama tiga hari agar tubuh penari tetap keadaan suci. Penari aintren menari dengan tidak sadarkan diri, karena tubuhnya dirasuki oleh roh bidadari. Keunikan yang lain juga terdapat dalam adegan kurungan sntren, dimana penari yang belum menggunakan busana tari dan riasan di masukkan ke dalam kurungan dengan sintren sudah dalam keadaan cantik dengan menggunakan busana tari yang sederhana. Kelengkapan busana yang di kenakan menggambarkan kesiapan seorang penari yang akan tampil diatas pentas. Kehadiran seorang “bodor” (penari laki-laki) juga melengkapi keindahan kesenian sintren, Sintren dan bodor menari bersama mengikuti iringan yang  dimainkan. Bodor di perankan oleh anak laki-laki yang belum baligh (wawancara dengan Salamah pada tanggal 4 April 2015).

Kesenian sintren memiliki daya tarik yang sangat kuat yaitu tentang keindahan gerak-gerak penari yang ditarikan secara spontan dan seirama dengan iringan yang di mainkan, Kesenian tradisional sintren mengungkapkan nilai estetis yang terwujud melalui keluwesan, kelembutan, dan kelincahan seorang gadis yang sedang mencari jati dirinya. Nilai estetis kesenian sintren juga dapat di nikmati dari keharmonisan dan keselarasan antara gerak dan iringan.

Dibalik keunikan dan keindahan, kesenian sintren juga berfungsi sebagai sarana upacara ritual bersih desa, tolak bala, pemberian nama bayi yang baru lahir dan upacara meminta hujan. Seiring berjalannya waktu, kesenian tari sintren ini juga berfungsi sebagai sarana hiburan masyarakat. Kesenian tari sintren ini sebagai sarana hiburan masyarakat dapat di jumpai di berbagai acara seperti acara pernikahan, khitanan, bahkan HUT RI kemerdekaan.

Kesenian tari sintren ini masih bertahan di kecamatan bahkan kota Cirebon, keberadaannya dapat dilihat dari sering diadakannya pertunjukkan kesenian tari sintren diberbagai pihak seperti masyarakat dan pemerintah yang tergabung dalam sanggar budaya. Sanggar seni yang ikut berpartisipasi ambil bagian dalam melestarikan kesenian Sintren diantaranya Sanggar Klapa Jajar, Samggar Sekar Pandan, Sanggar Gupay Rasa, dan masih banyak lagi.

Awal pertunjukkan  kesenian suntren iini diawali dengan mempersiapkan alat music yang akan dipakai, kemudian menyediakan sesaji dan membakar kemenyan. Awal pertunjukkan di dahului dengan doa yang diucapkan pawang dengan tangan kanan memegang kepalla penari sintren dan tangan kiri memegang pundak penari sintren. Posisi penari sintren yaitu duduk dengan perlengkapan kostum dan perlengkapan tata rias yang diletakan di atas nampan. Beberapa menit kemudian kepala penari tertunduk dan tidak sadarkan diri. Kemudian pawang memasukkan penarii sintren ini ke dalam kurungan sambil mengucapkan mantra, lalu pawang mengelilingi kurungan dengan membawa kemanyan< kemudian diletakkan di depan kurungan.

Pada saat pawang meletakkan kemenyan di depan kurungan, sinden mulai menyanyi umtuk mendatangkan roh bidadari di iringi oleh pemain music. Roh bidadari di datangkan dengan maksud agar sintren menjadi intrance (kesurupan), yaitu melakukan perbuatan diluar kemampuan manusia biasa. Empat menit kemudian, secara spontan kurungan bergerak-gerak, pertanda penari sintren sudah siap dan kurungan harus dibuka. Setelah kurungan dibuka oleh pawang, secara menakjubkan penari sintren yang pada awalnya memakai baju biasa, berubah menjadi cantik dengan  menggunakan busana tari dan riasan yang cantik. Selain itu, mata penari  terpejam dengan menggunakan kacamata hitam sebagai  ciri khas dari kesenian sintren. Kemudian penari sintren berdiri dan menari mengikuti irama gending. Gerakan tari yang di lakukan oleh penari sintren bukan atas kemauan penari sintren itu sendiri, melainkan karena adanya roh bidadari yang memasuki tubuh sang penari. Gerakan yang ditarikan oleh penari sintren pada saat pertunjukkan antara lain sembahan, salaman, lembehan, sari lengkung, geol  bokong, ngoyok, belulukan, kosoki. Tidak ada pola gerakan yang digarap pada saat sebelum pertunjukkan dimulai, karena dalam menari, penari sintren tidak sadar. Jadi gerakan yang dilakukan hanya diulang-ulang, tidak ada patokan yang membatasi gerakannya.  

Menari bukan hanya menggerakan badan semata. Beragam makna penting tersirat dan tersurat dalam aktivitas yang satu ini. Pendiri sanggar ...

Menari bukan hanya menggerakan badan semata. Beragam makna penting tersirat dan tersurat dalam aktivitas yang satu ini. Pendiri sanggar Pandewara Retno Maruti mengatakan salah satu manfaat nyata dari menari adalah menyehatkan tubuh. Namun, bila dikerjakan dengan sungguh-sungguh, seorang penari juga dapat memetik nilai dan filosofi yang terkandung dalam gerak tariannya. Seperti tata karma, sopan santun dan bagaimana bersikap kepada orangtua. “semua nilai-nilai itu ada di dalam tari dan mempengaruhi diri tanpa disadari.” Katanya saat jumpa pers Kidung Dandaka di Jakarta, Jumat (15/4/2016).

Tidak hanya itu, tarian ternyata juga bias untuk mengasah kejujuran. “jujur terhadap karya tari orang lain dan jujur terhadap diri sendiri untuk mengingatkan orang lain yang tidak jujur”. Katanya lagi. Melalui tari akan melatih kemampuan diri untuk saling menghargai. Seperti halnya dalam sebuah pertunjukkan tari, peran apapun dalam tari sangat penting. Seni tradisional yang saya ambil adalah kesenian tari sintren yang khas di daerah saya yaitu Cirebon.

Kesenian sintren merupakan seni tari tradisional dari kebudayaan masyarakat Jawa dimana dalam tarian tersebut sangat beragam. Salah satu ciri kesenian sintren adalah memiliki aturan dalam tradisinya sesuai dengan perkembangan jaman, hal ini menyebabkan kesenian sintren dari setiap daerah berbeda-beda dalam setiap pertunjukannya. Pewarisan tradisi ini sangat erat hubungannya dengan adat istiadat, konteks realita kehidupan social masyarakatnya sesuai lingkungan, tradisi, dan suatu kepercayaan masyarakat masing-masing. Jadi kesenian sintren di warisi tradisinya melalui kepercayaan-kepercayaan masyarakat dalam adat istiadat di lingkungannya.

Kesenian tersebut berkembang mayoritas di kalangan masyarakat bawah, tetapi mampu mempengaruhi sampai pada kalangan menengah maupun kalangan istana atau keratin yaitu di keratin Kasepuhan Cirebon, namun dengan adanya perkembangan saman tradisi ini punah mulai tergeser dengan adanya perubahan melalui seni modern. Karena kurangnya perhatian dan pelestarian kesenian sintren. Dulu kesenian sintren di gunakan juga untuk media penyebar agama islam. Jadi dalam jaman kejayaan kerajaan Cirebon ketika para Wali menjadi panutan tata nilai yang ada, kesenian sintren menjadi media untuk dakwah. Dalam acara dakwahnya para penonton atau pendengar dakwah mendapatkan ajaran agama islam yang mereka dengar dan mereka saksikan.

Lalu nilai ajaran agama islam yang menyebar dalam kesenian sintren ini memang terbukti dalam adaptasi masyarakatnya yang menerima ajaran agama islam melalui dakwah dari kesenian sintren yang mempengaruhi meereka agar masyarakat memiliki latar belakang yang beragam.  Realita dalam kesenian tersebut bahwa si penari sintren harus gadis yang masiih perawan dan harus dalam keadaan suci, tetapi si penari sintren kenyataannya tidak harus melakukan ritual seperti puasa, mati geni, niss, atau ritual yang lain. Untuk menjadi penari sintren sekarang yang paling penting dan di syaratkan adalah kemauan, asalkan dia ada kemauan siapa pun bias menjadi penari sintren tapi masih menggunakan catatan masih harus perawan. Penari sintren harus dalam keadaan suci atau tidak dalam keadaan masa dating bulan (haid).

Selain itu dalam adanya pergeseran kebudayaan, sekarang sintren menjadi sebuah pertunjukkan dengan adanya factor ekonomi. Mereka mengadakan pertunjukkan tersebut atas dasar hiburan semata kepada masyarakat yang menonton, lalu mereka meminta sejumlah uang atas timbal balas karena sudah menonton tradisi kesenian sintren tersebut. Yang masih menggunakan tradisi ini biasanya masyarakat daerah pesisir utara seperti Jawa Barat dan Jawa Tengah seperti Cirebon, Majalengka, Cilacap, Pekalongan, Tegal, Brebes, Batang, Pemalang, dan lain-lain. Dan yang dapat mengendalikan atau menjalankan tari sintren ini adalah seorang pawang yang tugasnya memanggil kekuatan supernatural dengan cara si pawang mengelilingi kurungan tersebut yang sudah di masuki oleh seorang gadis penari sintren, jika berhasil maka si penari sintren akanberubah menjadi cantik dengan kaca mata hitamnya di kedua matanya.

Menurut hasil artikel yang saya buat, bahwa kesenian sintren masih ada karena mempuyai dua factor yaitu alas an untuk mempertahankan kebudayaan jawa, sebagai factor ekonomi. Faktor ekonominya berupa saat setelah oertnjukkan mereka selesi, mereka meminta uang karena sebagai imbalan sudah menonton dalam pertunjukkannya. Dalam kesenian sintren ternyata mempunyai unsur mistis, unsur mistis tersebut terdapat dalam jiwa si penari dan tariannya. Mengenai fenomena dari tarian mistis dan symbol kebebasan terdapat dua factor, yaitu factor melestarikan budaya dan factor ekonomi.

Pada masa lampau untuk mengatasi kondisi alam selalu menggunakan kekuatan supernatural. Dengan kaitannya memanggil roh melalui sntren karena kesulitan yang telah di alami oleh masyarakat yang tidak bias di pecahkan melalui logikanya. Misalnya para nelayan mengalami kesulitan saat melaut, maka di pertunjukanlah sintren untuk memberi petunjuk agar bias melaut kembali. Dalam pertunjukan sintren terdapat pula sintren keliling, yang di selenggarakan ditempat keramaian. Bahwa ditempat tersebut mereka tidak mengajukan persyaratan, dengan ketentuan tempatnya yang suci, bersih, da nada tempat untuk pentas. Dari hasil pertunjukkan keliling tersebut, mereka mendapatkan uang saweran yang cukup lumayan, sintren kemudian di jadikan sebagai objek untuk cari nafkah itu merupakan bentuk dari factor ekonomi.

Dan konon katanya bila sang penari sedang menari lalu di lempari uang maka si penari sintren merasa terkulai lemas atau raganya seperti di penuhi oleh emas. Tariannya yang dialami berupa kesurupan karena berhubungan dengan adanya hal supernatural, pada masa pra islam mempunyai peran yang penting, karena di percaya oleh masyarakat memberi petunjuk untuk mengatasi roh jahat yang masuk ke dalam raga manusia. Bentuk kesenian sintren adalah pertunjukan yang memperlihatkan unsur supernatural atau magic juga bias yang berasal dari penari perempuannya yang masih gadis dimasuki oleh roh hakus atas panggilan dari pawangnya atau yang biasa disebut dengan Kemladang, yang hingga sekarang mengalami intrance.

Kesenian tari sintren di daerah Brebes hanya di gelar jika hanya saat musim kemarau saja unyuk meminta turunnya hujan, karakteristik tersebut juga bias dilihat dari iringan music buyung (tempat wadah air) da alunan music lodong (bambu) atau siwur dalam bahasa Brebes. Kesenian sintren adalah kesaksian dari sebuah kebudayaan colonial yang pernah berkembang di kalangan elit birokrasi Eropa dan Aristokrasi Pribumi, yaitu kegemaran berpesta dan berdansa mewah di gedung pertunjukan, untuk meniru gaya borjuisasi colonial, rakyat Indonesia membuat suatu kesenian yang merupakan ekspresi imitasi atau ekspresi peniruan dari sebuah produk kebudayaan elit kemudian terciptalah Sintren. Kesenian tari sintren sekarang sangat jarang ditemui di tempat asalnya, seperti halnya kesenian tradisional yang lain, sintren mulai tergeser oleh bentuk kesenian dan hiburan modern. Fungsi dan peran di ciptakannya kesenian sintren sebagai hiburan masyarakat, apresiasi seni dan nilai estetikamasyarakat yang bias kita ambil digunakan dalam acara upaccara ritual seperti sedekah laut, ruwatan, tolak bala, ritual bersih desa, dan masih banyak lagi yang lainnya. 

Beragam budaya dan tradisi masyarakat Indonesia menginspirasi terciptanya tampilan seni yang unik dan patut di lestarikan. Sayangnya...


Beragam budaya dan tradisi masyarakat Indonesia menginspirasi terciptanya tampilan seni yang unik dan patut di lestarikan. Sayangnya hal yang terjadi malah sebaliknya, ketika banyak turis asing yang ingin mempelajari keunikan ragam seni di Indonesia tetapi masyarakat kita sendiri malah enggan mempelajarinya, bahkan ada juga yang menganggap kesenian tradisional di Indonesia itu sesuatu yang kuno sehingga mereka lebih memilih seni yang lebih dianggap keren dan modern.

Seharusnya sebagai generasi penerus bangsa, kita wajib melestarikan kesenian khas Indonesia. Padahal, tidak sedikit kesenian Indonesia yang sangat atraktif ketika di pentaskan sehingga memukau banyak orang termasuk para wisatawan yang berkujung ke Indonesia. Wajar saja jika banyak keunikan ragam seni di Indonesia yang terkenal hingga sampai ke sekuruh dunia, bahkan ada juga yang dijadikan pelajaran khusus di beberapa sekolah yang ada di luar negeri.
Keunikan ragam seni tari yang ada di Indonesia sangat amat banyak, antara lain:

REOG

Kesenian yang berasal dari Jawa Timur ini tepatnya di daerah Ponorogo yang masih berhubungan dengan ilmu kebatinan dan mistis yang cukup kuat. Jika kalian mengunjungi  Ponorogo akan terlihat 2 sosok reog yaitu gemblak dan warok yang terpasang di gerbang Kota Ponorogo. Reog merupakan salah satu keunikan ragam seni di Indonesia yang masih di lestarikan hingga saat ini. Bahkan, kesenian ini pernah diklaim atau diakui milik Negara Malaysia, namun keputusan PBB akhirnya menetapkan bahwa Reog merupakan kesenian asli Indonesia.
Asal-usul reog berawal dari abad ke- 15, yaitu tentang pemberontakan seorang abdi kerajaan yang bernama Ki Ageng Kutu pada raja terakhir kerajaan majapahit Bhre Kertabhumi. Pada saat iru Ki Ageng Kutu sangat marah terhadap pemerintahan yang dinilai terlalu korup. Selain itu, ia juga tidak senang dengan pengaruh dari istri raja yang berasal dari China. Melihat kerajaan majapahit semakin melemah dan akan runtuh akhirnya Ki Ageng Kutu memutuskann untuk meninggalkan kerajaan  dan membentuk peerguruan seni bela diri, ilmu kekebalan dan ilmu kesempurnaan pada anak-anak muda yang di harapkan mampu menjadi bibit unggul untuk kerajaan Majapahit.

Ki Ageng sadar jika pasukannya masih sangat sedikit dan belum memiliki cukup banyak kekuatam, akhirnya ia membuat pertunjukkan dengan maksud memberikan pesan politik dengan menggunakan Reog. Pertunjukkan reog menggunakan topeng dengan bentuk kepala singa dikenal “SInga Barong” sang raja hutan, sebagai symbol untuk raja Kertabhumi. Pada bagian aras ada banyak bulu merak yang di tancapkan menyerupai kipas sebagai symbol pengaruh kuat orang-orang china dari atas yang mengatur gerak-gerik raja Kertabhumi.

ONDEL-ONDEL

Kesenian khas betawi ini merupakan bentuk penghormatan kepada leluhur. Biasanya, ondel-ondel di pertunjukkan pada ajang pesta rakyat. Jika kalian pernah dating ke pekan raya Jakarta atau Jakarta Fair pasti disana akan terelihat ondel-ondel yang dipasang di depan pintu gerbang pintu masuk. Kesenian ini menggunakan boneka besar dengan tinggi 2,5 meter dan garis tengah kurang lebih 80 cm. Boneka ondel-ondel dibuat dari anyaman bamboo dan di desain agar mudah untuk diangkat. Untuk boneka laki-laki di cat warna merah sedangkan untuk boneka perempuan di cat warna putih. Sedangkan untuk bagian rambutnya menggunakan ijuk dengan banyak hisan kertas warna-warni. Walaupun sekarang ini sudah termasuk era digital, tapi kesenian khas betawi ini masih bertahan dan masih sering terlihat di jalan-jalan Ibu Kota.

KUDA LUMPING

Kesenian ini juga sering disebut Jaran Kepang, tradisi menggunakan kuda kudaan yang dibuat dari anyaman bamboo. Kuda lumping merupakan kesenian yang berasal dari daerah Jawa yang menampilkan tarian sekelompok orang sambil menunggangi  kuda-kudaan. Namun, beberapa pementasan kuda lumping tidak hanya menampilkan tarian tapi juga memperlihatkan adegan kesurupan, kekuatan ilmu kebal dan juga atraksi tenaga dalam.

Terkadang kesenian kuda lumping di pentaskan bersama kesenian reog, belum ada penjelasan pasti asal-usul kesenian kuda lumping ini. Namun berdasarkan cerita turun temurun, kuda lumping merupakan bentuk penghargaan masyarakat terhadap para pejuang perang Diponegoro melawan penjajah Belanda, ada juga yang menyebutkan kesenian ini merupakan perjuangan Raden Patah yang dibantu oleh Sunan Klijaga sewaktu perang  melawan Belanda.

Para penonton seni kuda lumping diharapkan memiliki mental yang kuat karena ada beberapa adegan yang cukup menyakitkan eperti membacok tubuh menggunakan golok, berjalan diatas pecahan kaca, hingga atraksi membakar diri. Kuda lumping merupakan keunikan ragam seni tari Indonesia yang sudah terkenal hingga ke mancanegara.

WAYANG KULIT

Kesenian ini merupakan bentuk penghayatan terhadap roh-roh para dewa. Kata wayang kulit sendiri diambil dari kata “Hyang” yang artinya perenungan terhadap Sang Kuasa. Wayang kulit merupakan kesenian yang mengandalkan boneka yang terbuat daru lembaran kulit dan dipertunjukkan menggunakan layar putih dan cahaya untk memantulkan baying-bayang.

Pemain wayang kulit disebut dalang, untuk menjadi dalang di butuhkan keajlian dalam memainkan wayang dan memahami cerita seputar dewa yang di pentaskan salah satunya adalah cerita Ramayana dan Mahabarata. Wayang dimainkan sambil di iringi alunan music tradisional. Kesenian khas Jawa ini mampu menarik minat banyak orang, bahkan tidak sedikit turis asing yang tertarik untuk mempelajari cara memainkan wayang.

BATIK

Jika kalian termasuk orang yang gemar menggunakan batik berarti kalian termasuk orang yang melestarikan kesenian Indonesia. Batik berasal dari kata “Mba” dalam bahasa Jawa yang artinya menulis dan kata titik. Proses pembuatan batik memang tidak mudah, di butuhkan ketelitian dan keterampilan khuus agar rangkaian gambar yang dibuat terlihat lebih rapi. Dahulu, pembuatan batik bertujuan untuk menambah penghasilan para kaum hawa. Namun, sekarang ini perkembangan batik sudah semakin luas. Bahkan sudah muncul batik dengan motif yang lebih modern. Beberapa kota penghasil batik diantaranya yaitu Lasem, Yogyakarta, Solo, Pekalongan, Tegal, Indramayu, Garut, Klaten, Mojokerto, Sidoarjo, Tulungagung, Wonogiri dan Gresik.

TARI SAMAN

Tari Saman merupakan tarian khas suku Gayo. Kesenian Aceh ini sudah sangat terkenal di seluruh pelosok dunia, bahkan diketahui beberapa uiversitas di luar negeri juga mempelajari tari saman. Kesenian ini merupakan salah satu media dakwah yang berisi sopan santun, kepahlawanan, pendidikan, keagamaan, kekompakan dan kebersamaan. UNESCO menetapkan tari saman sebagai daftar reprensentataif budaya tak benda warisan manusia di Bali pada 24 November 2011.

TARI GENDING SRIWIJAYA

Tari gending sriwijaya di fungsikan untuk menyambut tamu-tamu kehormatan yang bertandang ke Palembang. Penarinya adalah 9 orang perempuan muda nan cantik berbusana adat Aesan Gede, Selendang Mantri dan Tanggai. Selin 9 penari lain pembawa payung dan tombak.
Keunikan ragam seni di Indonesia harus di lestarikan dan harus tetap hidup, jangan sampai kesenian Indonesia hilang ditelan oleh perkembangan zaman modern. Ingatlah, kesenian merupakan warisan suatu bangsa yang harus dijaga dan di lestarikan.